
"Biar kami saja yang menunggu Azzam disini, kalian kalau mau mengurus jenazah Alesa silahkan" kata Istri kakak kedua Alesa pada suaminya
"Baiklah kalau begitu, soalnya sebentar lagi mobil ambulan yang membawa jenazah Alesa akan segera meluncur ke rumah adik ipar Alesa" jawab Kakak kedua Alesa kemudian melangkahkan kaki keluar ruangan yang merawat Azzam
Yang memilih menunggui Azzam yaitu kedua istri kakak Alesa, karena mereka tak mungkin meninggalkan Azzam apalagi tadi Dokter bilang Azzam kemungkinan sebentar lagi sadar jika obat bius yang ada di tubuh Azzam sudah hilang.
Kedua istri kakak Alesa menatap wajah Azzam yang terbaring di ranjang pasien, mereka begitu prihatin dan kasihan dengan nasib Azzam harus kehilangan kedua orang tua di usia yang masih sangat kecil.
Usia yang lagi butuh-butuhnya kasih sayang dan perhatian, mungkin memang banyak yang menyayangi Azzam termasuk mereka berdua namun rasanya tetap berbeda kasih sayang orang tua dengan kerabat.
Di luar ruangan dan tepatnya di depan ruang jenazah para anggota medis kembali mendorong brangkar jenazah Alesa dan suaminya, yang akan di masukan kembali ke dalam ambulan karena akan di makamkan siang ini juga.
Semua pihak keluarga Alesa maupun suaminya kini sudah menunggu di depan rumah sakit, kebetulan pihak keluarga suaminya Alesa membawa dua mobil jadi kedua orang tua Alesa bisa ikut.
Sedangkan kedua kakak laki-laki Alesa memilih untuk menemani jenazah Alesa yang sudah di masukan di dalam mobil ambulan itu, kedua mobil ambulan mulai melaju dengan sirine yang saling bersahutan.
Melintas di jalan raya yang penuh dengan kendaraan lain yang berlalu lalang, tak memakan waktu lama karena memang kediaman milik Sisil begitu dekat dari rumah sakit pusat kota sehingga kini kedua mobil ambulan sudah tiba di kediaman Sisil.
__ADS_1
Jenazah Alesa dan suaminya pun segera di turunkan dari mobil ambulan, kedua kakak laki-laki Alesa dan para anggota medis membawa jenazah Alesa terlebih dahulu masuk ke dalam rumah setelah itu kedua ipar suaminya Alesa bersama para anggota medis ikut menyusul membawa jenazah suaminya Alesa.
Para pelayat di komplek perumahan Sisil pun mulai berdatangan saat tau bahwa Sisil sedang berduka sang kakak dan kakak ipar meninggal dunia, sedangkan para anggota medis setelah selesai melakukan tugas mereka kini memilih untuk segera pergi dari situ.
Di dalam rumah Sisil kembali terdengar tangisan pilu dari ibunya Alesa dan ibu mertuanya Alesa yang masing-masing menangis di dekat jenazah anak mereka masing-masing, hanya para suami mereka yang bisa menenangkan dan memberi kekuatan.
Para pelayat yang datang juga mulai membantu membaca surat yasin yang di pimpin oleh kedua kakak laki-laki Alesa, sedangkan Sisil dan Siti(kakak pertama Ilham) saat ini berdiri di teras depan menyambut para pelayat yang semakin ramai.
Sisil bahkan lupa dengan putrinya dan untungnya ibu mertuanya datang sebelum jenazah Alesa dan suaminya tadi di bawa ke rumah Sisil, jadi saat ini putrinya Sisil di urus oleh ibu mertuanya yang tak lain ibu kandung Rangga.
"Terima kasih, bu" jawab Sisil berusaha tersenyum menampakkan ketegaran meski hatinya saat ini benar-benar rapuh karena harus kehilangan orang yang di sayangnya dua sekaligus
Setelah kedua jenazah itu di mandikan dan di kafani seperti aturan dalam agama islam, kini mereka mulai menyholatkan kedua jenazah itu secara bergantian yang di dulukan saat ini jenazah suaminya Alesa dan di imami oleh kakak pertama Alesa.
Kemudian di lanjutkan dengan menyholatkan jenazah Alesa dan masih di imami oleh kakak pertama Alesa, selesai sudah menyholatkan kedua jenazah itu dan saat berdoa bersama yang masih di pimpin oleh kakak pertama Alesa entah mengapa ia tak sanggup untuk menahan tangisnya yang kini benar-benar pecah sampai ia sesegukkan.
Lalu kedua jenazah pun segera di masukkan ke dalam keranda tempat jenazah karena segera waktunya memakamkan kedua jenazah tersebut, kedua ipar Alesa dan para tetangga membawa jenazah suaminya Alesa.
__ADS_1
Sedangkan jenazah Alesa di bawa oleh kedua kakak laki-laki Alesa dengan para tetangga juga, mereka semua perlahan membawa kedua keranda tersebut melangkah keluar dari rumah menuju TPU yang ada di ujung perumahan tempat tinggal Sisil.
Kedua orang tua Alesa dan kedua orang tua suaminya Alesa berada di belakang mengikuti orang-orang yang berbondong-bondong hendak ke TPU, mereka begitu terpukul bahkan air mata mereka seperti sudah kering sehingga tak mau keluar lagi.
Tiba di TPU ternyata dua liang lahat yang di siapkan oleh petugas gali pemakaman telah selesai, dengan pimpinan ustad kedua kakak laki-laki Alesa berada di dalam liang lahat akan menangkap jenazah Alesa untuk di makamkan.
Setelah itu berganti dengan jenazah suaminya Alesa, selesai semua mereka semua bersama-sama menimbun kedua liang lahat yang berisi kedua jenazah sepasang suami istri itu.
Kini kedua liang lahat itu sudah tertutup sempurna dan sudah di pasangi papan nama mereka masing-masing, para pelayat mulai meninggalkan tempat setelah membaca doa bersama kini hanya tinggal pihak anggota keluarga.
"Ini masih seperti mimpi, kita kehilangan adik bungsu yang paling manja" kata Kakak kedua Alesa dengan tatapan sendu menatap papan nama di atas kuburan itu
"Semuanya memang seperti mimpi" jawab Sisil yang kembali menangis teringat masa-masa bersama sang kakak dan kakak iparnya
Sedangkan ibu mertuanya Alesa bahkan tak mau beranjak dari makam anak kesayangannya itu terus memeluk papan nama yang tertulis disitu ILHAM, semua yang ada disitu makin tak sanggup melihat ibu mertuanya Alesa yang sangat terpukul.
Sedangkan ibunya Alesa sudah tak bisa berkata apa-apa lagi selain berusaha ikhlas, kini justru yang ibunya Alesa pikirkan masa depan Azzam dan kehidupan Azzam selanjutnya yang tak akan bisa melihat kedua orang tuanya lagi.
__ADS_1