
"Kembalian yang kamu kasih ke ibu itu berapa, coba hitung" kata Mas Ilham yang semakin tampak emosi dengan Alesa
"37.000 Mas" jawab Alesa menundukkan kepalanya tak berani menatap mata suaminya
"Seharusnya berapa?" bentak Mas Ilham tak peduli dengan orang yang ramai di depan warungnya
Alesa yang di bentak sampai terperanjat kaget, sembari tangannya terus meremas daster yang di pakaiannya dan ia sedikit pun tak berani untuk mendongakkan kepalanya belum lagi ia sebenarnya malu di bentak suaminya di depan orang yang lumayan banyak.
"27.000 Mas" jawab Alesa lagi sembari mengigit bibir bawahnya sekuat mungkin karena menahan air matanya yang hendak keluar
Orang-orang yang hendak beli di warung milik suaminya Alesa hanya diam melihat Alesa di bentak-bentak hanya karena salah kembalian, memang sih uang 10.000 itu berharga bagi penjual seperti suaminya Alesa karena keuntungan yang ia ambil dari setiap jualannya paling 1.000 atau 2.000.
Tapi sesalah apapun Alesa tetaplah istrinya dan harusnya di tegur secara baik-baik, bukannya di bentak di depan orang-orang yang lumayan banyak itu dan pastinya Alesa sangat malu serta orang-orang yang menyaksikan itu ada sebagian kasihan pada Alesa dan ada juga sebagian yang menyalahkan Alesa.
"Udah nak Ilham, kasihan istrinya di bentak kayak gitu. Yang penting ibu udah jujur, ini ibu kembali kan uang yang lebih tadi" kata Ibu-ibu itu kemudian pergi dari warung milik suaminya Alesa
"Masuk ke dalam, tapi ingat masalah kita belum selesai" kata Mas Ilham kepada Alesa
Alesa pun langsung melangkahkan kakinya dengan sedikit cepat setelah di usir suaminya kemudian ia masuk ke dalam kamar, tiba di dalam kamar Alesa baru menumpahkan air matanya yang dari tadi di tahannya ia menangis tanpa suara seperti sebelum-sebelumnya jika ia kena marah suaminya.
Sedangkan suaminya kini kembali sibuk melayani pembeli yang sudah mengantri dari tadi, padahal barusan ada kejadian yang tak mengenakkan tapi suaminya tak peduli dan abai saja yang terpenting bagi suaminya tetap bisa menghasilkan uang kalau banyak yang beli di warung sembakonya.
__ADS_1
Setelah sholat isya' suaminya Alesa kembali menjaga warungnya lagi, namun malam sudah semakin larut bahkan waktu sudah menunjukan pukul 08.00 malam dan biasanya pukul segitu suaminya Alesa akan menutup warung sembakonya.
Karena ruko milik suaminya Alesa berada di sebuah desa yang terpencil tentu pukul 08.00 malam jalanan sudah sepi, bahkan tak ada satu pun manusia yang berani keluar apalagi sudah pernah kejadian ada sebuah warung yang buka sampai tengah malam dan kena rampok hingga isi warung beserta uang habis tak bersisa.
"Alesa... Alesa... " panggil Mas Ilham menggoyangkan tubuh Alesa, padahal Alesa sudah tertidur
"Enak ya tidur, lupa dengan kesalahan yang kamu buat tadi. Kamu itu ya kalau melayani pembeli itu makanya hati-hati, baru sekali kejadian gini bagaimana kalau terus menerus. Bisa bangkrut usaha yang sudah lama aku bangun, untung ibu tadi jujur gimana kalau gak jujur" kata Mas Ilham panjang lebar emosi kepada Alesa yang sudah terbangun dari tidurnya bahkan sudah duduk di tepi ranjang.
Alesa hanya menunduk tak berani untuk bersuara ataupun mendongakkan kepalanya menatap mata suaminya, bahkan Alesa yang tadi tertidur karena kelamaan menangis kini harus menahan air matanya lagi yang kembali mengenang di kantong matanya.
"Kamu itu dengar gak, aku ngoceh dari tadi" bentak Mas Ilham sembari mencengkram erat pundak Alesa
"Ahh, bikin pusing kepala saja. Keluar dari kamar ini, tidur di luar sana jangan tidur di kamar ini" kata Mas Ilham mendorong tubuh Alesa ke samping membuat Alesa tersungkur sehingga lututnya terluka akibat kena permukaan lantai
Suaminya melempar bantal dan selimut ke tubuh Alesa kemudian menutup pintu kamar dengan cara di bantingnya, Alesa yang berada tak jauh dari pintu kamar terperanjat kaget mendengar bantingan pintu kamar.
Alesa segera beranjak kemudian ke warung milik suaminya mengambil kardus untuk di jadikannya alas tidur, setelah meletakkan kardus di lantai depan TV Alesa pun segera berbaring dengan bantal dan selimut yang di lempar suaminya tadi.
Sepanjang malam Alesa tak bisa memejamkan kedua kelopak matanya, ia bahkan terus saja menangis meski tak mengeluarkan suara apapun dan bahkan kedua matanya hanya menatap ke arah dinding dengan tatapan kosong.
Tekk...tekk...tekk.....
__ADS_1
Terdengar bunyi air hujan di atas atap ruko milik suaminya, air hujan mulai turun sedikit demi sedikit hingga kini menjadi sangat deras dan bahkan sesekali ada bunyi petir yang bersahutan di luar sana.
Udara malam pun kian terasa dingin Alesa yang berbaring hanya beralasan kardus tentu merasakan udara dingin itu sampai menusuk ke tulang menulangnya, meski Alesa sudah membalutkan selimut ke seluruh tubuhnya tapi tak mengurangi udara dingin itu sedikit pun.
Alesa mulai merasakan menggigil di seluruh tubuhnya, bahkan bibir Alesa be gemetar saking dinginnya udara malam itu dan hujan juga terdengar semakin deras di luar sana membasahi bumi malam itu.
Malam semakin larut Alesa pun mulai terserang kantuk di saat seluruh tubuhnya benar-benar terasa sangat dingin, Alesa pun mulai memejamkan kedua kelopak matanya dan akhirnya tertidur dengan sangat pulas dan tak tau lagi pukul berapa ia baru bisa tidur.
Kini sudah terdengar adzan subuh di kumandangkan di masjid yang tak jauh dari ruko milik suaminya Alesa, suaminya Alesa terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa di sampingnya tak ada Alesa.
Suaminya Alesa pun teringat akan kejadian semalam dan tak peduli Alesa mau tidur dimana, suaminya Alesa segera beranjak kemudian keluar dari kamar dan saat melangkahkan kaki keluar ia melihat Alesa yang tertidur di depan TV hanya dengan alas kardus.
Karena masih kesal ia tak peduli akan keberadaan Alesa dan melanjutkan langkah kakinya menuju kamar mandi hendak mengambil air wudhu, setelah itu suaminya Alesa langsung keluar dari ruko miliknya ingin pergi ke masjid untuk sholat subuh berjamaah.
Selesai sholat dan kembali ke ruko miliknya, suaminya Alesa melihat Alesa masih tertidur sangat pulas yang artinya belum menunaikan kewajiban sebagai hamba ALLAH dan ia yang tak mau menanggung dosa Alesa karena sebagai istrinya lalu segera ia mendekati Alesa.
"Alesa cepat bangun, udah masuk sholat subuh" kata Mas Ilham sembari menggoyangkan tubuh Alesa dengan kakinya
Namun tak ada respon dari Alesa, karena waktu terus berjalan dan waktu subuh sudah hampir habis suaminya Alesa pun mengambil air dan menyiramkan ke wajah Alesa agar Alesa terbangun dan benar saja Alesa pun langsung beranjak duduk saat merasakan wajahnya di siram.
"Tidur apa mati, di bangunkan dari tadi gak bangun-bangun. Sana ambil wudhu terus sholat subuh" kata Mas Ilham kemudian masuk kamar meninggalkan Alesa begitu saja
__ADS_1