
"Azzam berangkat ke masjid ya, Bun. Assalamualaikum" kata Azzam sembari mencium punggung tangan Alesa dengan takzim
"Walaikumsalam" kata Alesa sembari menyunggingkan senyuman lalu mencium pucuk kepala Azzam
Setelah pamit Azzam melangkahkan kaki bersama ayahnya yang tak ada pamit sama sekali dengan Alesa, mereka keluar ruko kemudian menyebrang jalan untuk bisa secepatnya tiba di masjid.
Sedangkan Alesa setelah Azzam dan suaminya berangkat sholat, Alesa juga beranjak dari warung hendak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu ingin mengerjakan kewajiban juga sebagai hamba-NYA.
Setengah jam telah berlalu suaminya sudah pulang dari masjid seperti biasa pulang sendirian karena Azzam pasti tinggal soalnya Azzam belajar mengaji bersama anak-anak lainnya, Alesa juga sudah selesai sholat dan membaca al-quran.
Karena kebetulan sudah ada suaminya yang menjaga warung, Alesa memilih segera mandi sore agar tubuhnya lebih segar dan berapa belas menit lagi juga akan menjemput Azzam di masjid yang pasti sudah selesai belajar mengajinya.
"Mas, aku keluar sebentar ya. Mau jemput Azzam" kata Alesa pelan sembari melangkahkan kaki keluar ruko
"Hemm" jawab Mas Ilham
Alesa pun sudah menyebrang jalan dan melangkahkan kaki menuju masjid, tiba di masjid sudah banyak sekali para orang tua yang hendak menjemput anak mereka masing-masing.
"Haii, mbak Alesa" sapa Salah satu orang tua disitu
"Haii" jawab Alesa sembari menyunggingkan senyuman
"Mbak Alesa kok sekarang kelihatan makin kurus dan pucat juga" kata Ibu-ibu yang menyapa Alesa barusan
"Apa iya, mungkin faktor makin tua" kata Alesa berusaha menyembunyikan beban pikirannya
"Ahh masak iya, perasaan mbak Alesa masih muda. Malahan lebih tua saya" kata Ibu-ibu itu lagi sembari memperhatikan Alesa dari atas ke bawah
Alesa mendengar itu pun hanya tersenyum tak menanggapi lagi perkataan ibu-ibu itu, dan kebetulan Azzam dan beberapa anak-anak lain yang selesai belajar mengaji keluar dari masjid menghampiri ibu mereka masing-masing.
__ADS_1
"Ibu kita duluan" pamit Alesa kepada para orang tua disitu kemudian melangkahkan kaki sembari mengandeng tangan Azzam
Sepanjang perjalanan dari masjid menuju ruko milik suaminya seperti biasa Azzam terus berceloteh kepada Alesa, menceritakan semua kegiatannya dari menyetor hapalan mengaji dengan lancar dan bermain tebak-tebak rukun iman atau rukun islam.
Alesa yang mendengar cerita Azzam tentu sangat bahagia, dan ia merasa tak sia-sia selama ini mendidik Azzam dari usia dua tahun setengah sampai detik ini karena ilmu yang Azzam dapat sangat banyak.
Alesa berdoa semoga Azzam bisa menjadi anak soleh jikalau suatu saat ia tak ada lagi di dekat Azzam, tiba-tiba air mata Alesa menetes rasanya berat harus jauh dari buah hati yang telah menjadi kekuatannya selama berumah tangga dengan suaminya.
"Bunda, kenapa?" tanya Azzam sembari mendongakkan kepalanya menatap Alesa
"Bunda gak apa-apa, sepertinya ada sesuatu masuk ke dalam mata Bunda makanya mengeluarkan air mata" kata Alesa buru-buru menyeka air matanya
"Sini, Bun. Azzam lihat" kata Azzam meminta Alesa untuk mendekat ke arahnya
Alesa pun dengan patut jongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Azzam, kemudian Azzam dengan sangat telaten meniup kedua bola mata Alesa secara bergantian.
"Terima kasih, sayang" kata Alesa kemudian mencium pipi Azzam
Alesa tersenyum lalu mereka berdua segera melangkahkan kaki menyeberang jalan dan tiba di depan ruko milik suaminya, Alesa dan Azzam langsung masuk sembari mengucapkan salam meski tak ada sahutan dari suaminya sama sekali.
Setelah itu Azzam mengganti baju kokonya dengan baju kaos biasa, karena sudah tak memiliki kerjaan apapun Azzam memilih menyalakan TV yang ada di hadapannya lalu dengan anteng duduk sembari menonton TV.
"Alesa...." panggil Mas Ilham dari warung
Alesa yang kebetulan sedang menemani Azzam menonton TV segera beranjak saat mendengar panggil dari suaminya, lalu Alesa menghampiri suaminya yang ada di warung miliknya itu.
"Ada apa, Mas?" tanya Alesa pelan
"Dari tadi pagi apa gak ada yang belanja, kok gak ada uang sama sekali di laci?" tanya Mas Ilham pada Alesa kesal melihat isi di warung miliknya tak juga berkurang
__ADS_1
"Iya, Mas. Sepi banget dari tadi pagi" jawab Alesa pelan
"Kamu itu memang pembawa sial dalam hidup aku, semenjak menikah dengan kamu warung aku jadi sepi" kata Mas Ilham begitu kesal meluapkan kembali kata-kata itu ketika melihat warungnya sepi
Alesa yang mendengar perkataan suaminya hanya diam sembari menundukkan kepalanya, berusaha menahan rasa sakit hatinya yang setiap kali mendengar perkataan itu.
"Ayah apa-apain sih, rezeki itu udah di atur oleh ALLAH. Ngapain coba nyalahin Bunda segala" kata Azzam menghampiri ayah dan ibunya di warung yang memang mendengar semua perkataan ayahnya barusan
"Kamu itu masih kecil, gak usah ikut campur urusan orang tua" marah Mas Ilham kepada Azzam sembari menatap Azzam dengan tatapan tajam
Alesa langsung memegang tangan Azzam sembari menggelengkan kepala tak ingin Azzam jadi amukan suaminya lagi, namun Azzam bukannya diam justru ikut menatap ayahnya dengan tatapan tajam juga.
"Berani ya, KAU" kata Mas Ilham melayangkan telapak tangannya hendak menampar Azzam
Plak
Yang kena tampar bukan Azzam melainkan Alesa karena Alesa langsung memeluk Azzam melindungi Azzam yang hampir saja kena tampar suaminya, Azzam yang merasa tak terasa sakit langsung membuka kedua matanya yang sempat ia tutup tadi.
"Bunda, Bun sakit ya" kata Azzam memegang pipi Alesa kemudian Azzam terkejut saat melihat darah yang keluar dari lobang hidung Alesa
"Bunda gak apa-apa" kata Alesa sembari memegang pipinya yang terasa kebas akibat tamparan dari suaminya
"Pergi sana" kata Mas Ilham tak peduli dengan darah yang keluar dari lobang hidung Alesa
"Gak apa-apa, gimana Bun. Hidung Bunda berdarah" kata Azzam yang telah membawa Alesa ke ruang TV dan mengambil tisu untuk menghapus darah di lobang hidung Alesa
Alesa hanya diam dan tak menampakkan kekhawatiran karena tak mau Azzam sampai makin panik, Alesa pun segera menghapus darah yang terus menerus keluar dari lobang hidungnya.
Setelah berapa belas menit darah yang keluar dari lobang hidung Alesa pun akhirnya berhenti, Azzam yang masih emosi dengan ayahnya segera mengambil sapu benda handalannya ketika menghukum ayahnya.
__ADS_1
"Azzam, jangan......" belum sempat Alesa memperingati Azzam tapi Azzam sudah melayangkan sapu itu kepada tubuh ayahnya
Membuat ayahnya makin murka oleh ulah Azzam barusan, karena tenaga ayahnya dan Azzam sangat jauh jadi sapu yang tadi melayang ke tubuh ayahnya telah berpindah ke arah Azzam namun tiba-tiba ada rasa tak tega di hati ayahnya ingin memukul Azzam jadi sapu itupun di patahkan menjadi dua oleh ayahnya kemudian di lempar keluar ruko.