Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 87


__ADS_3

Dua tahun kemudian


Azzam yang sudah menginjak usia hampir empat tahun sudah semakin pintar, bahkan ketika ayahnya mulai marah atau ngebentak Alesa Azzam akan langsung mengambil sapu untuk di pukulkannya kepada tubuh ayahnya meski ayahnya bakal marah atau balik memukul Azzam.


Azzam justru kembali membalas dengan mengigit tangan ayahnya sampai biru, seperti itulah yang terjadi setiap kali ketika ayahnya marah hingga akhirnya ayahnya tak pernah lagi marah-marah di rumah ini dan bahkan memilih cuek dengan keadaan di sekitarnya.


Seperti sekarang suaminya tak menyadari perubahan bentuk tubuh Alesa yang semakin kurus, bahkan pipi Alesa terlihat semakin tirus dan kedua bola mata Alesa cekung seperti kurang tidur yang sebenarnya Alesa beberapa tahun ini memang kena gangguan tidur.


Sehingga jarang sekali Alesa bisa tertidur dengan nyenyak, dalam dua puluh empat jam Alesa hanya bisa tidur empat jam itu pun jika tak ada yang mengganggunya sama sekali namun jika ada yang mengganggunya bisa-bisa Alesa tak tidur sampai menjelang pagi.


"Darah...." gumam Alesa saat melihat tetesan darah di atas karpet pas ia sedang membereskan bekas makannya


Semakin Alesa menundukkan kepala darah terus menetes dan Alesa pun baru menyadari jika darah itu keluar dari lobang hidungnya, Alesa buru-buru ke wastafel mencuci darah yang menetes dari lobang hidung dan di tangannya namun bukannya berhenti darah itu terus menetes.


Alesa pun mengambil tisu yang kebetulan ada di dekat kompor, lalu segera di hapusnya hingga akhirnya darah yang menetes dari lobang hidungnya pun berhenti namun Alesa bertanya-tanya mengapa ia bisa mimisan apa karena ia terlalu kelelahan di tambah semalam ia tak tidur sama sekali.


Setelah itu Alesa melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi, selesai semua pekerjaannya Alesa pun melangkahkan kaki ke depan hendak menjaga warung milik suaminya yang kini masih seperti dulu tampak sepi namun masih ada yang mau belanja.


Sedangkan suaminya sekarang memilih bekerja jadi satpam sekolah tempat anak sulung Bu Sri mengajar, itu pun anak sulung Bu Sri yang memberi pekerjaan kepada suaminya semenjak anak sulung Bu Sri di angkat menjadi kepala sekolah dua tahun yang lalu.

__ADS_1


Suaminya pulang sekitar pukul 03.00 sore setiap hari kecuali hari minggu suaminya libur seperti anak sekolah, dan ketika pulang pas akan pergi ke masjid suaminya berangkat bersamaan Azzam yang kini ikut belajar mengaji di masjid setiap setelah sholat ashar.


Dan ketika pulang Alesa lah yang menjemput Azzam, begitu hari-hari Alesa sekarang dan sekarang ruko milik suaminya ini tampak sunyi karena sudah jarang mendengar ocehan dan tawa Azzam karena Azzam sekarang lebih suka bermain di luar bersama anak-anak tetangga.


"Ehh, mbak Alesa. Melamun aja, ngelamuni apa sih?" kata Menantu Bu Sri muncul-muncul membuat Alesa terkejut


"Gak melamunin apa-apa, mau beli apa?" kata Alesa sembari menyunggingkan senyuman ramah


"Gak mau beli apa-apa sih, aku cuma mau ngasih kue. Tadi buat banyak kalau aja mbak Alesa mau nyicip kue buatanku" kata Menantu Bu Sri sembari memberikan sebuah kotak yang berisi kue brownies


"Terima kasih ya, pasti enak. Kamu pinter banget bikin kue, aku aja dari dulu belajar sampai sekarang gak bisa-bisa" kata Alesa sembari menerima kotak tersebut dan di letakkannya di atas meja kasir


"Iya aku tu seneng banget bikin kue, apalagi suamiku juga suka jadi begitu semangat bikin kuenya" kata Menantu Bu Sri sembari tersenyum


"Bun... Bunda...." teriak Azzam berlari masuk ke dalam ruko menghampiri Alesa di warung


"Ada apa, Azzam? Teriak-teriak segala?" tanya Alesa ketika Azzam sudah berada di dekatnya


"Mana kue brownies dari tante sebelah, tadi tante sebelah ngasih tau Azzam kalau habis ngantarin kue" kata Azzam yang ternyata menanyai soal kue brownies dari menantu Bu Sri

__ADS_1


"Ini kue browniesnya, dua buat Ayah dua buat Azzam tapi Azzam makan satu dulu ya. Sisanya di makan nanti, OKE" kata Alesa menyodorkan kotak yang berisi kue brownies pada Azzam


"OKE, Bunda" kata Azzam sembari menunjukan jempol jarinya kemudian mengambil satu potong kue brownies itu dan duduk di lantai lalu memasukkan kue brownies itu ke dalam mulutnya


Alesa tersenyum melihat Azzam yang mengerti aturan cara makan yaitu duduk, Alesa memang sangat telaten mendidik Azzam dari kecil tata cara makan, sopan santun bahkan di usia Azzam masih anak-anak Alesa sudah meminta Azzam untuk mengerjakan sholat lima waktu.


Dengan pintar dan patuh Azzam menuruti permintaan Alesa, dan syukurnya Azzam juga selalu sholat lima waktu di masjid jika sholat dzuhur Alesa yang akan menyeberangkan Azzam ke jalan karena masjid ada di seberang ruko milik suaminya.


Dan jika sholat ashar, magrib, isya', subuh, Azzam akan berangkat sholat bersama ayahnya meski Azzam kurang suka kadang tak mau barengan ayahnya tapi Alesa selalu memperingati Azzam harus tetap menghormati ayahnya karena ayahnya ada orang tua kandung.


Selesai Azzam makan dan kebetulan waktu sudah menunjukan pukul 03.00 sore, Azzam pun memilih untuk membersihkan tubuhnya karena tadi habis main di luar dan sebentar lagi masuk sholat ashar sekalian Azzam akan berangkat mengaji juga dan bertepatan suaminya pun pulang dari kerja.


"Assalamualaikum" ucap Mas Ilham sembari masuk rumah dengan wajah lelah


"Walaikumsalam" jawab Alesa menghampiri suaminya hendak mencium punggung tangan suaminya namun di tolak oleh suaminya


"Bisa gak sih kamu tu kalau nyambut aku pulang kerja tu dandan dikit, jangan ini udah kusam dan bau badan lagi" kata Mas Ilham kemudian melangkahkan kaki melintasi Alesa begitu saja tapi tak lupa menyenggol bahu Alesa membuat Alesa sedikit tergeser


Alesa hanya diam tak menyahut perkataan suaminya sama sekali dan ia pun mengelus pundaknya yang terasa sedikit sakit akibat senggolan dari tubuh suaminya barusan, lalu Alesa melangkahkan kakinya kembali ke warung milik suaminya dan duduk lagi di kursi yang ia duduki tadi.

__ADS_1


Selesai Azzam keluar dari kamar mandi, kini giliran ayahnya yang masuk kamar mandi hendak membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket dan seperti biasa ketika berpapasan dengan ayahnya Azzam diam saja seperti tak menganggap ayahnya ada.


Lalu Azzam menuju lemari pakaiannya yang ada di dekat lemari TV, karena ruko milik ayahnya ini sempit dan hanya ada satu kamar itu pun di tempati kedua orang tuanya jadi Azzam tidur di ruang TV sendirian bahkan semua pakaiannya ada disitu yang untungnya tersusun rapi di lemari yang di belikan oleh Alesa dua tahun yang lalu.


__ADS_2