
Adzan ashar berkumandang, sang kakek sudah siap untuk berangkat ke masjid yang berada tak jauh dari kediaman mereka, sang kakek duduk di ruang tamu masih menunggu Azzam yang tengah bersiap-siap ingin ikut ke masjid.
Kemudian Azzam keluar dengan memakai baju koko lengkap, beruntung sang kakek dan sang nenek memang mempunyai pakaian simpanan untuk Azzam yang sengaja mereka sediakan sewaktu-waktu Azzam menginap dan saat ini terbukti sangat berguna.
Sang kakek dan Azzam segera pamit dengan sang nenek hendak pergi ke masjid untuk sholat ashar berjamaah, setelah pamit mereka berdua segera melangkahkan kaki keluar dari rumah.
Sepanjang perjalanan menuju masjid sang kakek berusaha mencairkan suasana, mengajak Azzam ngobrol namun hanya sesekali di tanggapi Azzam dan selebihnya Azzam memilih diam fokus dengan jalan menuju masjid.
Ini bukan untuk pertama kali Azzam sholat berjamaah di kampung halaman sang kakek dan sang nenek, karena Azzam memang sering ikut sang kakek sholat berjamaah jika mudik bersama kedua orang tuanya.
"Ni, ustad cucu saya yang biasa ikut saya sholat berjamaah kalau mudik. Sekarang mau ikut belajar mengaji disini, insyaallah cucu saya ini akan tinggal lama disini" kata Ayahnya Alesa setelah selesai sholat langsung menemui ustad yang mengajar ngaji anak-anak di masjid tersebut
"Ohh ya sudah, langsung aja gabung bersama yang lain" kata Ustad yang sudah tau tentang keluarga Alesa yang masih berduka itu karena kabar Alesa dan suaminya meninggal telah tersebar di seluruh kampung tersebut
"Azzam, sana cu. Gabung dengan yang lain, kakek pulang dulu ya entar nenek yang jemput Azzam" kata Ayahnya Alesa kepada Azzam sembari mengelus pucuk kepala Azzam
Azzam diam namun tetap menganggukkan kepala, ia pun segera bergegas ikut duduk di barisan anak-anak lain yang saat ini sedang duduk melingkar dan di tengah-tengah biasa ustad pengajar ngaji.
__ADS_1
Sang kakek sudah pamit dengan Azzam kemudian pamit juga dengan ustad, lalu sang kakek pergi meninggalkan masjid dan hendak kembali ke kediaman mereka karena tak memiliki urusan lagi.
Sepeninggalan sang kakek Azzam tak banyak bicara namun ketika ada yang bertanya dengannya hanya di jawab seadaanya olehnya, ustad yang melihat tingkah laku Azzam jadi merasa kasihan dan prihatin.
Ustad yang kebetulan nasibnya sama dengan Azzam tentu tau apa yang di rasakan Azzam saat ini, di tinggalkan kedua orang tua masih anak-anak dan yang saat ini lagi butuh-butuhnya kasih sayang serta perhatian tak akan bisa menjadi anak seceria dulu lagi.
Saat mulai belajar mengaji ustad itu tertegun melihat Azzam yang mengaji dengan sangat lancar, bahkan ilmu tajwid Azzam semuanya benar tak ada sedikit pun yang salah dan seumuran Azzam yang disini masih iqro' 2 atau 3.
Sedangkan Azzam sudah iqro' 5 bahkan sebentar lagi masuk iqro' 6, ustad itu memuji kecerdasan Azzam yang sangat fasih membaca ayat-ayat yang ada di dalam iqro' tersebut.
"Belajar dengan Bunda, namun Azzam tetap belajar ngaji dengan ustad juga di tempat tinggal Azzam sebelumnya" jelas Azzam yang memang soal ilmu tajwid bundanya yang mengajarinya hingga itu ia paham semua
"Masyaallah, kamu benar-benar anak pintar dan soleh. Bunda dan ayah pasti bangga di alam sana melihat Azzam sangat pintar" kata Ustad itu sembari mengulas senyuman
Azzam juga membalas senyuman itu meski sedikit terpaksa karena ia masih sedih kehilangan kedua orang tuanya, setelah semua murid selesai belajar mengaji mereka pun pamit pulang bersama-sama dengan orang tua mereka masing-masing.
Azzam yang melihat pemandangan ibu dan anak-anak itu begitu sedih, ia kembali teringat bundanya yang selalu menjemputnya ketika ia telah selesai belajar mengaji namun sekarang takkan ada lagi semua tinggal kenangan.
__ADS_1
"Azzam....." panggil Ibunya Alesa membuyarkan lamunan Azzam
"Nenek, Azzam kira nenek belum jemput. Ayo nek" kata Azzam kepada sang nenek berusaha menyembunyikan rasa sedihnya kemudian mengandeng tangan sang nenek
Sepanjang perjalanan menuju kediaman sang nenek Azzam sangat antusias menceritakan hari pertama ia belajar mengaji bersama teman-teman barunya, meski ada rasa sedih tapi Azzam menyembunyikan itu semua karena tak ingin membuat sang nenek kembali khawatir.
Cukup sudah Azzam melihat sang nenek diam-diam selalu menangisi bundanya, maka dari situ Azzam jika bersama sang nenek begitu hangat berbeda jika bersama yang lain ia akan menampakkan wajah dinginnya.
Tanpa terasa Azzam dan sang nenek sudah tiba di kediaman sang nenek dan sang kakek, mereka berdua segera melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah kemudian Azzam langsung pamit dengan sang nenek ingin ke kamar.
Di dalam kamar tanpa bantuan orang lain Azzam mengambil pakaian sendiri dan memakai sendiri, kemudian baju koko khusus untuk ia sholat serta belajar mengaji di gantungkannya di gantungan yang ada di belakang pintu.
Setelah itu Azzam memilih keluar dari kamar dan menyibukkan diri menonton TV, mencari film favoritnya yaitu si kembar yang dari malaysia mengapa jadi film favorit Azzam karena bagi Azzam banyak pembelajaran yang ia dapat dari situ.
Sang kakek yang habis dari halaman belakang memberi makan ikan peliharaannya segera ikut bergabung dengan Azzam yang duduk di depan TV sendirian, kemudian sang kakek bertanya tentang Azzam belajar mengaji tadi.
Dan lagi-lagi Azzam hanya menjawab seadanya bahkan terkesan seperti terpaksa, sang kakek tak bisa berbuat apa-apa karena seperti hanya sang istri yang akrab dengan Azzam sedangkan dengannya sangat sulit sekali.
__ADS_1