Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 18


__ADS_3

"Ayo, buruan. Lelet banget sih jadi orang" teriak Mas Ilham yang sudah duduk di atas sepeda motornya dari tadi


Alesa tak menyahut dan memilih menyelesaikan memakai kaos kaki, setelah selesai memakai kaos kaki Alesa pun segera bergegas mendekati suaminya kemudian naik ke jok belakang sembari berpegangan di pinggang suaminya.


"Biasakan jadi orang itu harus cepat dan cekatan, jangan lelet. Nanti sampai di klinik ke buru udah banyak pasien yang mau periksa kandungan juga, ujung-ujungnya kita harus ngantri dan pasti lama" kata Mas Ilham mengoceh kepada Alesa sepanjang perjalanan


Alesa yang duduk di jok belakang tak menghiraukan ocehan suaminya, ia menganggap ocehan suaminya itu seperti angin sepoi yang masuk ke dalam telinga kanannya terus langsung keluar melalui telinga kirinya yang artinya berlalu begitu saja.


Bahkan Alesa tak menjawab sama sekali dan memilih menikmati perjalanan mereka, yang kanan dan kiri banyak pohon-pohon karet serta pohon-pohon sawit perkebunan milik orang yang berhektar-hektar di pinggir jalan.


Alesa pun mulai berandai-andai jika memiliki perkebunan yang luas dan berhektar-hektar seperti itu, tentu ia akan memiliki banyak uang dan uang itu akan di gunakannya untuk menyumbang kepada panti asuhan serta para orang-orang yang kurang mampu.


Dengan lamunannya begitu panjang tak menyadari Alesa jika sepeda motor suaminya sudah tiba di depan klinik Dokter Kandungan, suaminya bahkan sudah menghentikan sepeda motornya di parkiran klinik dan Alesa baru tersadar ketika suaminya hendak turun dari sepeda motor.


"Tu lihat, udah rame kan. Pasti ngantrinya lama" kata Mas Ilham memberitahu Alesa bahwasanya sudah banyak pasien di kursi tunggu yang sedang mengantri


"Iya aku juga lihat" jawab Alesa kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam klinik


Suaminya Alesa yang berada di belakang Alesa segera mengikuti langkah kaki Alesa sampai Alesa berhenti di depan meja administrasi, Alesa mulai mendaftarkan diri kepada penjaga administrasi sembari menyerahkan buku kontrolnya kepada penjaga itu.


Setelah mendaftarkan diri Alesa kembali melangkahkan kakinya keluar dari klinik dan memilih duduk di kursi tunggu yang ada di luar, dan suaminya mengikuti Alesa seperti anak ayam yang mengikuti induknya kemana pun induknya berjalan dan berhenti.

__ADS_1


Selama menunggu antrian Alesa dan suaminya sibuk dengan gawai mereka masing-masing, tak ada obrolan apapun yang keluar dari mulut mereka bahkan jika di lihat dari mata sangat jelas mereka adalah sepasang suami istri yang tak harmonis bahkan seperti orang lain yang tak saling mengenal.


Waktu terus berjalan sudah satu jam lebih Alesa dan suaminya menunggu giliran mereka namun nama Alesa tak kunjung di panggil, bahkan pasien-pasien yang masih mengantri sudah mulai berkurang tinggal beberapa pasien lagi yang masih mengantri.


"Bu Alesa...." panggil Suster


Akhirnya nama Alesa pun di panggil, Alesa segera beranjak dari duduknya sembari mencolek suaminya mengajak untuk masuk ke dalam ruangan Dokter Kandungan untuk melakukan USG.


"Hallo Ibu Alesa, apa kabar?. Apa ada keluhan?" kata Dokter Kandungan itu setelah Alesa dan suaminya duduk berhadapan dengan Dokter yang hanya terhalang oleh meja


"Alhamdulilah sehat, Dok. Sejauh ini sudah gak ada keluhan" jawab Alesa dengan ramah


"Ya sudah ayo berbaring disana, Bu. Kita lihat perkembangan bayi dalam kandungan Ibu" kata Dokter Kandungan itu sembari menunjuk ke arah ranjang pasien


Suster yang ada di dalam ruang USG itu mulai menyingkap baju Alesa, kemudian suster itu melumurkan sebuah gel di atas perut Alesa yang sudah membuncit dan Dokter Kandungan itu pun mulai mengeserkan alat USG itu di atas perut Alesa.


"Perkembangan bayinya bagus, bayinya laki-laki" jelas Dokter Kandungan itu panjang lebar


Setelah selesai USG dan dapat resep obat dari Dokter Kandungan, Alesa dan suaminya pun keluar dari ruangan USG itu dan kembali duduk di kursi tunggu menunggu obat yang telah di resepkan oleh Dokter Kandungan barusan.


Kini Alesa dan suaminya hendak kembali ke ruko tempat usaha suaminya setelah mendapatkan obat dari suster, Alesa segera naik ke jok belakang saat suaminya sudah mengeluarkan dan menghidupkan sepeda motonya.

__ADS_1


Sepeda motor pun mulai di lajukan oleh suaminya dengan kecepatan sedang meninggalkan klinik tersebut, di perjalanan mereka seperti biasa takkan ada yang memulai obrolan apapun baik itu Alesa maupun suaminya.


Belum jauh dari klinik tadi suaminya sudah menghentikan sepeda motornya lagi di sebuah rumah makan, kemudian suaminya turun dan Alesa tentu ikut turun juga karena ia tau mungkin suaminya hendak memesan nasi bungkus buat makan siang mereka.


"Ayo masuk, kita makan disini saja. Aku udah laper apalagi ini udah tengah hari" kata Mas Ilham sembari menarik tangan Alesa


Alesa pun menurut dan ikut melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah makan itu, mereka berdua segera duduk di salah satu kursi kosong dan langsung memesan nasi dan lauk sesuai selera mereka masing-masing.


Alesa yang tak pernah makan di rumah makan tentu sangat senang apalagi ini pertama kalinya suaminya mengajaknya makan di rumah makan, tak butuh waktu lama makanan yang mereka pesan pun datang Alesa dan suaminya segera menyantap makanan tersebut dengan begitu lahap.


Selesai makan dan membayar semua makanan yang mereka makan tadi, Alesa dan suaminya melanjutkan perjalanan mereka yang hendak pulang ke ruko tempat tinggal mereka sekarang namun ternyata adzan dzuhur berkumandang dan lagi-lagi suaminya harus berhenti di salah satu masjid yang ada di pinggir jalan.


Alesa dan suaminya berpisah setelah selesai mengambil air wudhu, mereka berdiri di shaf sholat masing-masing suaminya di bagian rombongan laki-laki dan Alesa di bagian rombongan perempuan tak lama kemudian imam masjid pun memulai sholat dengan begitu khusyuk dan di ikuti oleh para jamaah.


"Kita ke pasar dulu sebentar" kata Mas Ilham setelah selesai sholat kepada Alesa ketika mereka bertemu di dekat parkiran sepeda motor


"Mau ngapain?" tanya Alesa bingung karena tumben suaminya mengajak ia ke pasar


"Beli perlengkapan buat anak kita" jawab Mas Ilham kemudian segera mengeluarkan sepeda motornya dari parkiran


Kini Alesa dan suaminya sudah berada di kawasan pasar tradisional yang sangat ramai, Alesa yang baru pertama kali ke pasar terus memegang tangan suaminya karena takut ke sasar dan mereka terus melangkahkan kaki beriringan mencari toko perlengkapan bayi.

__ADS_1


Tiba di toko perlengkapan bayi Alesa mulai mencari-cari perlengkapan yang di perlukan seperti bedong bayi, gurita bayi, baju bayi dan yang lainnya tentu tak lupa kasur bayi yang satu set sekalian ada kelambunya.


__ADS_2