
Sheena menunduk dalam, dia sama sekali tidak berani untuk mengangkat wajahnya. Bukan hanya karena tatapan mengintimidasi ibu mertuanya, tapi Sheena juga menghindari tatapan geli suaminya.
Erkan terus saja menata lekat pada Sheena. Sesekali Sang Lord tersenyum nakal saat melihat wajah merona istrinya. Erkan kembali teringat dengan kejadian yang mereka lakukan beberapa saat yang lalu.
Erkan berhasil melepaskan semua kain yang menempel di tubuh Sheena. Membuat Sang Princess pasrah di bawa kukungan tubuh besarnya- walaupun mereka belum sampai ke tahap penaburan bibit. Setidaknya Erkan sudah berhasil membuat banyak tanda di seluruh tubuh Sheena, termasuk di bagian leher Sang Princess yang tertutup sweater.
"Jadi kamu bisa melihat?"
Tubuh Sheena menegang, Sang Princess mengigit bibirnya gugup- dia yakin kalau ibu mertuanya akan marah, karena dirinya tidak memberitahukan hal ini dari awal.
"I-iya Mom, maaf- aku tidak ber-,"
Tubuh Sheena mematung, napasnya tercekat kala merasakan pelukan erat seseorang. Sheena bernapas lega, saat mengetahui siapa yang memeluknya.
Sang Permaisuri memeluk tubuhnya dengan erat, bahkan tanpa di sangka- Liara yang sejak tadi memperhatikan Sheena turut andil memeluk kakak iparnya.
"Mommy senang kamu bisa melihat. Tapi kenapa enggak bilang dari awal?!"
__ADS_1
Ada rasa bahagia dan sedikit rasa kecewa di hati Yasmine, namun tidak dapat di pungkiri kalau bahagia lebih mendominasi saat ini. Yasmine bahkan memberikan banyak kecupan di pucuk kepala menantunya. Sang Permaisuri menyeka air mata bahagianya, Yasmine bahagia karena akhirnya Tuhan memberikan kemudahan pada mereka.
Padahal rencananya Erkan akan membawa Sheena ke Jerman untuk menjalani operasi mata, minggu depan. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, Tuhan memberikan karunia-Nya pada mereka- memberikan kemudahan dan kebahagian berlebih.
"Apa Mommy harus berterimakasih pada Alfuttain, karena sudah memukul di bagian yang benar?"
Sheena tersenyum kecil mendengarnya, bahkan Yasmine pun ikut tersenyum begitu pula Erkan, Liara dan Elvier.
"Liara senang, Kakak Anna sudah bisa melihat. Artinya kita bisa bermain, aku bosan main dengan Simba- dia tidak mau bermain boneka bersama ku. Simba lebih memilih bermain pedang dan tembak tembakan, iisshh aku kesal!" sungut kesal si gadis kecil yang tengah memeluk Sheena.
Sheena baru menyadari kalau di kediaman Albarack, rata rata prianya memiliki tato. Entah kenapa Sheena sama sekali tidak terganggu, dia malah terkagum kala melihat tato yang ada di pinggang Erkan serta di dekan V line suaminya.
Sangat sexy!
"Tuan Putri?"
Sheena tersentak, terdiam sejenak sebelum merasakan panas di kedua matanya. Sheena tersenyum tipis, matanya berembun saat melihat seorang wanita yang berdiri di dekat suaminya. Sheena begitu hapal dengan suaranya. Suara wanita yang selalu ada untuknya, di saat dia sedih, senang, sakit mau pun sehat. Wanita yang mengajarinya berhitung, mengenali huruf dan yang selalu melindunginya saat di neraka Alfuttain.
__ADS_1
"Bibi Jumma?"
Sheena segera bangkit, saat pelukan Yasmine terlepas. Sang Princess segera memeluk tubuh Bibi Jumma dengan erat. Wanita setengah baya itu membalas pelukan tuan putrinya tidak kalah erat. Bahkan Bibi Jumma menangis pelan, tangisan bahagia- dia bahagia karena Sheena akhirnya dapat melihatnya.
Dapat melihat suaminya, orang orang yang menyayanginya dan juga keluarga Alfutaain yang membuangnya.
"Bibi Senang Tuan Putri akhirnya dapat melihat. Akhirnya doa Bibi selama ini di kabulkan oleh Tuhan," gumam lirih Bibi Jumma.
Sheena tidak membalas ucapan pengasuhnya, Sang Princess hanya mengangguk- memejamkan kedua matanya, menikmati usapan lembut di pucuk kepalanya.
"Terimakasih Bibi, mulai sekarang giliran ku yang akan mencarikan kebahagian untuk mu," lirihnya.
**SIMBA MILIK LIARA RRWWWW
SEE YOU MUUUUAAAACCHHššš**
__ADS_1