
Erkan menatap tajam pada pelayan wanita- yang tengah terduduk di lantai lusuh, dengan kedua matanya tertutup sebuah kain. Salah satu pengawal sengaja menekan kepalanya, agar pelayan wanita itu tetap pada posisinya.
"Kenapa kau mengkhianati ku?"
Tubuh pelayan itu menegang, bahkan suaranya tercekat saat mendengar suara berat dan dalam pria yang dia kagumi selama ini. Bukan hanya suaranya yang membuatnya sedikit bergetar, tapi juga pertanyaan yang dilontarkannya.
Apa mungkin dia sudah ketahuan? secepat ini? bahkan dirinya saja belum puas melihat gadis buta itu menderita sendirian di tengah hutan.
"Kenapa kau mengkhianati keluarga Albarack? apa salah kami padamu? apa semua yang sudah kami berikan tidak cukup untuk mu?" suara Erkan begitu rendah, terdengar begitu mengintimidasi.
Wajah tampannya terlihat dingin dan datar, bahkan terkesan tanpa ada ekspresi sedikit pun.
"Buka!" titahnya.
Pengawal yang tengah menekan kepala sang pelayan mengangguk patuh. Kain yang menutup kedua mata gadis itu terbuka, kedua mata sembabnya menatap Erkan sendu dan memohon.
Erkan berdecih jijik, tanpa perasaan Sang Lord mengangkat dagu pelayan itu dengan ujung sepatunya. Membuat sang gadis mendongak tinggi, bahkan rasanya lehernya terasa akan putus dari tempatnya. Napasnya tercekat, kala melihat kedua mata tajam berwarna coklat ke abu abuan Sang Lord.
"Berani sekali kau menyentuh gadis ku," desisnya jijik.
"Aku tidak akan mengampuni mu, kalau sampai terjadi sesuatu pada Ratu ku," sambungnya lagi.
Erkan menyunggingkan senyuman sinisnya, bahkan terlihat begitu mengerikan di mata sang pelayan, para pengawal serta Bibi Jumma yang ikut menyaksikannya.
__ADS_1
Jujur Bibi Jumma pun ikut gatal ingin memukul gadis muda itu, karena terus saja bungkam- tanpa ingin memberitahu di mana keberadaan Sheena.
"Buat dia berbicara dan memberitahu dimana gadis ku berada. Bila perlu berikan cambukan sebanyak mungkin sampai dia mengaku, dan kalian berdua- cari rekan kalian yang berkhianat itu!"
Erkan melirik kedua pengawal yang ada di belakang tubuhnya, lewat sorot matanya Erkan tidak ingin di bantah. Kedua pengawal itu mengangguk pelan, secepat mungkin menjalankan perintah Sang Lord.
"Bibi Jumma, kau tahu apa tugas mu?"
Bibi Jumma menundukkan kepala, kedua sudut matanya melirik pada pelayan wanita yang sudah di seret ke ruang eksekusi.
"Saya sudah tahu Yang Mulia," sahut Bibi Jumma tenang.
"Bagus! jangan biarkan gadis sialan itu keluar dari istana ini, dan jangan biarkan dia menyentuh barang barang milik Sheena. Bakar semua barang yang pernah dia sentuh, kau mengerti!"
Bibi Jumma kembali menunduk, wanita setengah baya itu perlahan mundur- dirinya akan segera melaksanakan titah Sang Lord dengan baik.
"Aku akan mencari mu dimana pun, Sunshine. Aku tidak akan membiarkan mu menunggu lama," desisnya.
🍒
🍒
🍒
__ADS_1
"Anda tidak tahu kemana Putri Sheeta berlibur?" Kezier menatap tidak percaya pada Hisham.
Pria paruh baya itu tidak mengetahui kemana Sang Putri Mahkota berlibur, atau lebih tepatnya menghindar darinya.
Kezier yakin kalau Sheera sengaja pergi untuk menghindarinya, berani sekali gadis kecil itu. Selain licik, Sheera juga pandai berbohong pada semua orang.
Kezier akan memastikan kalau gadis kecil itu tidak akan lepas dari tangan dan pengawasannya, saat dia menemukannya nanti.
"Putriku sedang berlibur ke luar negri Putra Mahkota. Kenapa kau tidak tahu? harusnya Sheera memberitahumu bukan, kalian sepasang kekasih- atau mungkin kalian berdua sedang ada masalah lalu Putri ku dengan sengaja menjauhimu sementara ini?" tebak Hisham.
Kedua matanya menatap penuh selidik pada calon menantunya. Hisham yakin kepergian Sheera berlibur, karena sepasang kekasih ini tengah bertengkar.
"Tidak ada! tidak pernah ada masalah apa pun diantara kami. Aku akan pergi sekarang, beri tahu aku kalau Putri mu itu sudah kembali!" ucap Kezier tenang.
Pria itu segera keluar dari istana Alfuttain dengan angkuh, bahkan terkesan sangat arogan dan berkuasa.
"Pria arogan," gumam Hisham.
**SABAR PRINCESS
MUUUAAACHHH😘😘😘😘😘**
__ADS_1