
Sheena memeluk erat lengan suaminya. Saat ini sepasang suami istri itu tengah berkendara, mereka berdua memutuskan untuk pergi ke rumah danau- dan menghabiskan beberapa malam di sana.
Sheena dengan nyaman bersandar di dalam pelukan Lord Erkan, kedua tangannya dia lingkarkan di tubuh suaminya. Sheena tidak peduli dengan Erkan yang tengah berkendara, toh suaminya itu tidak terganggu sama sekali.
Erkan malah terlihat nyaman, dan sesekali memberikan banyak kecupan di pucuk kepalanya.
"Apa kita akan berbelanja terlebih dahulu?" Sheena mendongak, kedua mata birunya menatap lekat pada Erkan.
Melihat suaminya dari arah bawah seperti ini, membuat Erkan terlihat lebih tampan dan menggoda dalam satu waktu.
"Bibi Jumma dan Paman Ezar sudah mempersiapkan semuanya kemarin,"
Sheena sempat terdiam beberapa saat. Dahi Sang Princess berkerut, namun tidak lama dia mengangguk pelan.
"Paman Ezar? dia pengawal Mommy?"
Erkan mengangguk, tanpa mengalihkan tatapannya dari jalanan. Pria berwajah Timur Tengah itu tersenyum tipis, sembari merapatkan tubuh Sheena padanya.
"Iya," sahut Erkan.
Dahi Sheena terlihat berkerut, didalam otaknya tengah memikirkan sesuatu yang sangat brilian.
"Apa Paman Ezar sudah menikah?"
Erkan menggeleng enteng, sedangkan Sheena semakin gencar mengumpulkan ide cemerlangnya yang siap dia eksekusi.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita menjodohkan Bibi Jumma dan Paman Ezar. Semoga saja mereka cocok, aku ingin melihat Bibi Jumma menikah- dan melihatnya bahagia. Apa kau bisa mengabulkannya, Akara?"
Kali ini suara Sheena terdengar mengecil, namun sarat akan harapan. Sheena berharap Erkan mau membantunya, dan semoga saja Ezar dapat diajak kerja sama.
Sheena berharap kalau Ezar mau menerima Bibi Jumma, dan begitu pula dengan pengasuhnya. Semoga saja ide perjodohan ini akan berjalan dengan semestinya dan sesuai keinginan Sheena.
"Haruskan kita mencobanya?"
Kedua mata Sheena mengerjab, bahkan terlihat berbinar saat mendengar ucapan suaminya.
"Aaaakkhh terimakasih, aku yakin kau paling bisa ku andalkan!" pekiknya senang.
"Apa pun untuk mu, Ratu ku,"
Sheera meremas jari jemarinya, rasa gugup mulai menjalar. Mata biru langitnya sama sekali tidak berani menatap Kaviar dan Hisham, apa lagi Kezier- saat beberapa pengawal Abraham memutar cctv ruang rawat Sang Putra Mahkota.
Kezier menyunggingkan senyum miringnya. Dia puas saat melihat wajah pias istrinya, secara tidak langsung Sheera sudah menggali kuburannya sendiri.
Ceroboh!
Kezier bersyukur dapat tersadar di waktu yang tepat, saat Sheera berencana membunuhnya dan mengira dia akan mati saat gadis itu melepaskan beberapa alat penunjang hidupnya.
Kezier memang sempat tidak sadarkan diri karena merasa sesak, tapi sekarang Kezier merasa lebih hidup. Walaupun salah satu kakinya terasa kebas, belum bisa dia gerakan sama sekali.
Pukulan dan tendangan Lord Erkan, membuatnya tidak berdaya. Kezier tidak menyangka kalau rivalnya, akan membuat hidupnya di ujung tanduk.
__ADS_1
"Tuan Putri Sheera, terlihat sedang melepaskan beberapa alat medis dari tubuh Pangeran, Yang Mulia. Anda dapat melihatnya sendiri!"
Kaviar dan Hisham menoleh, kedua pria paruh baya itu segera mendekat- memperhatikan rekaman cctv. Rahang Kaviar mengetat, sudut matanya melirik tajam pada Hisham- lalu beralih pada Sheera.
Mata Kaviar membulat, saat tidak mendapati Sheera di tempatnya. Sang Tuan Abraham merah padam, Kaviar menegakan tubuhnya secara sempurna.
Grep!
Dengan tidak berperasaan Kaviar mencengkram erat kerah kemeja Hisham.
"Putri mu melarikan diri! aku tidak akan mengampuninya. TANGKAP PUTRI MAHKOTA ALFUTTAIN, DALAM KEADAAN HIDUP ATAU MATI!"
Suara keras Kaviar menggema, Sang Tuan Abraham menyeret Hisham keluar dari ruang rawat Kezier.
Meninggalkan Sang Putra Mahkota yang tengah berusaha menggerakkan kakinya, namun tetap saja tidak bisa.
"Aku tidak ingin cacat!" geram Kezier.
**KEZIER
SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYYY MUUUAAACCHHšš**
__ADS_1