
Lenguhan kecil terdengar, saat Sheena menggeliat di balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Satu tangannya meraba, seakan mencari sesuatu.
Sang Princess menghela napas pelan saat mendapati tempat di sebelahnya kosong. Kedua mata sebiru lautan itu terbuka, kedua sudut bibirnya terangkat saat mendengar suara riuh burung liar dari luar.
Sheena yakin kalau hari ini dia bangun kesiangan. Tidak seperti biasanya bukan? karena biasanya dia akan bangun pagi sekali- tapi tidak untuk hari ini. Sheena bangun lebih lambat, bahkan sangat lambat. Waktu sudah menunjukan pukul 7.45 pagi, matahari pun sudah naik- terlihat sekali kalau hari ini cuaca sangat cerah.
Sheena bangkit, Sang Princess menyibakkan selimut tebal- yang membungkus tubuhnya semalaman bersama Akara aka Lord Erkan.
Akara?
Sheena mengigit bibirnya sendiri, saat mengingat kejadian tadi malam. Dia tidak menyangka, kalau dirinya bisa memiliki seorang kekasih. Apakah ini mimpi? Sheena bahkan tidak pernah memimpikan seseorang mau menjadi kekasihnya.
Kekasih si gadis buta!
'Kau tidak cacat Sunshine, kau itu istimewa,'
Ucapan Lord Erkan kembali terngiang di kepala Sheena. Sang Princess menghela napas pelan, dengan meraba Sheena berjalan menuju pintu kamar- yang sama sekali belum dia ketahui ini kamar siapa dan dimana.
Karena Sheena yakin kalau tempat yang tengah dia jejaki ini bukanlah kamar yang biasa di tempati. Bahkan Sheena tidak tahu dimana letak tongkat kecil yang biasa menjadi temannya, seingat dirinya tongkat kecil itu berada di tempat terakhir dia-,
"Haah!" Sheena menghela napas kasar, dia yakin kalau benda itu ada di dekat sofa- yang dia tempati semalam.
Kedua tangan Sheena menjulur untuk meraba, Sang Princess menghela napas lega- saat dia bisa menemukan dinding, yang berarti akan ada pintu disana.
Setelah berhasil menemukan pintu yang dicarinya, Sheena tersenyum lega- akhirnya dia bisa segera keluar dan menemui kekasihnya.
Kekasih?
Semburat merah tercipta di kedua pipi putihnya. Sheena mengigit bibinya, agar senyuman konyolnya tidak sampai tercipta. Tapi sepertinya sia sia, Sang Princess kalah dengan pesona pria yang sudah merampok isi hatinya tadi malam, bahkan senyuman konyolnya itu mampu membuat Bibi Jumma yang tidak jauh darinya ikut tersenyum.
"Selamat pagi Tuan Putri," sapa Bibi Jumma, membuat tubuh Sheena menegang.
Gadis itu melipat bibirnya dalam, agar senyuman konyol sekaligus kikuknya tidak di ketahui oleh Sang Pengasuh. Tapi sepertinya gagal, Bibi Jumma sudah melihat semuanya.
"Bibi, selamat pagi," sahut Sheena sedikit kikuk.
__ADS_1
"Maaf, aku bangunnya kesiangan," sambungnya lagi tidak enak hati.
Bibi Jumma semakin menipiskan bibir, Sheena selalu bersikap seperti ini ketika dirinya bangun lebih lambat dari biasanya. Padahal bagi Jumma itu tidak masalah, biar pun Sheena tidur seharian didalam kamar- itu tidak masalah.
"Tuan putri ingin sarapan apa?"
Jumma segera mengalihkan pembicaraan agar Sheena tidak canggung. Wanita itu segera menggandeng lengan sang Princess- membawa gadis itu menuju meja yang ada di beranda depan.
"Akara?"
Bibi Jumma kembali tersenyum mendengar ucapan Sheena, dia sudah yakin kalau Sang Princess akan menanyakan dimana Pangerannya.
Pangeran?
Bibi Jumma terlihat berpikir, bagaimana reaksi Sheena saat mengetahui yang sebenarnya? saat tahu kalau Lord Erkan yang Sheena kenal sebagai Akara, bukan seorang Pengawal- melainkan seorang Putra Mahkota dari keluarga bangsawan Albarack.
Apakah Sang Princess akan menerima kenyataannya, atau malah menghindar karena merasa tidak pan-
"Bibi?"
Jumma tersentak dari lamunannya, namun sebisa mungkin dia akan bersikap biasa saja. Walaupun Sheena tidak dapat melihat, tapi Jumma yakin kalau perasan peka Sang Princess mampu membaca gerak geriknya lewat suara.
Wanita itu menghela napas lega, saat melihat Sheena mengangguk pelan. Syukurlah Sheena tidak bertanya lagi.
"Akara sudah sarapan?" tanya Sang Princess, lagi.
"Sudah Tuan Putri, ayo habiskan sarapannya- setelah sarapan Tuan Putri bisa berendam,"
πππ
Erkan memasuki kawasan istana Albarack dengan senyum mengembang. Satu tangannya memutar-mutar kunci mobil yang ada di tangannya.
Bahkan sesekali Sang Lord bersiul kecil, semalam dan hari ini mood nya kembali baik. Tentu saja karena Sheena, siapa lagi yang bisa membuat seorang Erkan Akara Albarack Milles badmood selama seharian kemarin.
"Kau sudah pulang?"
__ADS_1
Langkah Erkan terhenti, saat mendengar suara bass pria yang begitu dia kenal.
"Selamat pagi Dad, dimana Mommy?"
Elvier mendengus kecil, saat mendengar Erkan menanyakan keberadaan istrinya. Elvier yakin kalau Erkan akan menempeli kesayangannya hari ini. Padahal rencananya dia ingin bermanja pada Yasmine seharian ini.
"Loh, kamu udah pulang?"
Kedua bibir Erkan terangkat keatas saat melihat Yasmine baru saja datang, Sang Mommy terlihat begitu sibuk membawa dua cangkir teh safron.
"Aku bantu ya Mom,"
Kedua mata Yasmine menyipit curiga pada putranya. Dia yakin dibalik perlakuan manis Sang Pangeran ada sesuatu yang diinginkannya.
"Bilang aja mau apa, enggak usah sok manis," cibir Yasmine.
Sang Permaisuri mendudukkan diri di dekat suaminya, tapi kedua matanya tidak lepas dari Erkan. Dahi Yasmine dan Elvier berkerut dalam saat melihat Erkan malah menggaruk kepalanya seperti orang bingung.
"Ayo bilang! kok malah garuk-garuk kayak anak monkey kamu!" sarkas Yasmine.
"Bilang aja, mau apa kamu dari Mommy, huh? mobil baru? apa ayo bil-,"
"Erkan mau menikah, Mom! nikahkan Erkan- Mom," Erkan segera bersimpuh di bawah kaki Yasmine, bahkan kedua matanya menatap sendu pada Yasmine- seakan tengah memohon.
Sementara Elvier dan Sang Permaisuri terdiam, mereka berdua masih berpikir apakah yang pendengaran mereka baik baik saja- atau agak sedikit bermasalah.
"Menikah?" beo Yasmine.
DAD ANAKMU MINTA KAWIN π«π«π«
**SEGERIN DULU BIAR GK SHOCK
__ADS_1
SEE YOU TOMORROW
BABAAYYY MUUUAACCCHH**