
Erkan melangkah gontai, kedua tungkainya terasa lemas saat dia mulai memasuki area rumah danau.
Detak jantungnya memompa cepat, rasa gelisah tidak dapat dia hindari. Erkan sesekali menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran buruk yang saat ini mulai menguasainya.
Sheena membencinya? Sheena marah padanya?
Tidak Erkan tidak mau itu terjadi, dia akan melakukan apa pun agar Sheena tidak menjauhinya. Sang Lord memijat pangkal hidungnya yang sedikit berdenyut, apakah Erkan mabuk?
Tidak! Erkan tidak menyukai minuman yang memiliki kadar alkohol. Itu salah satu pesan Elvier padanya, Erkan boleh melukis apa pun di tubuhnya- tapi jangan pernah menyentuh alkohol kalau ingin hidup lebih lama.
Bahkan sampai sekarang Elvier dan Yasmine tidak tahu, siapa orang yang memberikan hatinya pada Sang Pangeran dulu.
Tangan Sang Lord melayang di udara, dia ragu untuk membuka pintu. Tapi rasa gundah didalam hatinya tidak bisa dia abaikan begitu saja. Dengan tenang Erkan membuka pintu kaca itu, Erkan melangkah perlahan- hingga tidak menimbulkan suara apa pun.
Kedua matanya menyusuri setiap sudut, kedua kaki panjangnya membawa Erkan menuju salah satu pintu kamar, kamar yang menjadi tempat peristirahatan gadisnya.
Namun sebelum dia meraih kenop pintu, salah satu sudut matanya menangkap seseorang tengah tertidur didekat jendela.
Sheena?
Erkan mengurungkan niatnya, Sang Lord melangkah perlahan mendekat ke arah sofa- merendahkan tubuhnya agar dia bisa melihat wajah tenang gadisnya saat tidur.
Salah satu tangan Erkan terulur, untuk menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah gadisnya. Senyuman samar Erkan terbit, kedua matanya menatap lekat kedua netra indah yang tengah tertutup itu.
"Apa kau menungguku, Princess?" bisiknya pelan.
Erkan bangkit, pria itu bersiap meraih tubuh Sheena untuk dia gendong. Dengan mudah Erkan membawa Sheena pergi, Sang Lord membawa Sheena yang tidak sadarkan diri menuju kamar.
Namun langkah Erkan terhenti saat sudah berada di ambang pintu, Sang Lord berbalik- kedua tungkai panjangnya membawa Erkan menuju salah satu kamar yang belum pernah Sheena lihat sebelumnya.
"Sunshine,"
__ADS_1
Pintu itu perlahan terbuka setelah Erkan menyebutkan sebuah nama, yang menjadi kunci masuk.
"Selamat malam Lord, sudah lama anda tidak memasuki kamar ini,"
Suara robot Suhana segera menyambut kedatangan Erkan dan Sheena yang masih terlelap.
"Matikan!"
Dalam sekejap Suhana menghilang dari sistem, kini ruangan bernuansa biru laut itu sepi senyap- hanya ada cahaya remang dengan begitu banyak bintang buatan di atas plafon.
Perlahan Erkan merebahkan tubuh Sheena di atas tempat tidur, sepertinya Sang Princess sama sekali tidak terganggu dengan gerakan yang di timbulkan olah Erkan. Tapi saat Erkan hendak beranjak, kedua mata Sheena perlahan terbuka. Satu tangannya berhasil menahan lengan Erkan, membuat Sang Lord tertanam di tempat.
Sheena terbangun? apa gadis itu akan memarahinya setelah ini?
"Ma-,"
Ucapan Erkan terhenti, saat merasakan dekapan dari belakang tubuhnya, begitu erat- seakan tidak ingin melepaskannya.
"Terimakasih," ucapnya lirih.
"Terimakasih sudah mencintai gadis sepertiku," lirihnya lagi.
"Aku akan menjadi gadis tidak tahu diri kalau tidak mensyukurinya. Di cintai pria sempurna seperti mu, padahal kau bisa saja mencintai gadis yang lebih sempurna dari ku di luaran sana. Terimakasih Akara- tapi maaf, a-aku tidak-,"
"Ssttt- jangan katakan apa pun!" Erkan memotong ucapan Sheena.
Bahkan pria itu segera membawa Sang Princess kedalam dekapannya- setelah dia berhasil membalikan tubuhnya. Erkan menenggelamkan wajah Sheena di perutnya, mengusap kepala gadisnya dengan sayang- menahan sesak di dadanya saat mendengar isakan kecil sang gadis.
"Aku sudah meminta mu untuk tidak mengatakan apa pun, selain iya dan iya!" sambungnya lagi, membuat tangisan Sheena semakin menjadi.
"Tapi aku tidak pan-,"
__ADS_1
"Untuk siapa? untukku?" selanya lagi
Sheena terdiam, dia tidak tahu harus berbicara apa lagi pada pria yang tengah dipeluknya. Rasanya susah sekali untuk membantah setiap ucapannya, pria yang tengah dia peluk ini seperti memiliki aura tersendiri.
Pemimpin!
"Orang tuamu, saudara mu, mungkin kau bisa menerima ku. Tapi mereka? apa mungkin mereka mau menerima gadis cacat seperti ku, untuk menjadi kekasih put-,"
Ucapan Sheena terhenti, tubuhnya menegang saat Erkan menangkub kedua kedua pipinya. Bahkan pria itu tidak sungkan untuk menempelkan dahi mereka.
"Itu urusan ku, kita yang menjalani, kau tidak perlu mengatakan apa pun selain IYA!" ucapnya tidak ingin membantah.
Kedua mata Sheena terpejam, perlahan kepalanya mengangguk. Sang Princess mengalahkan rasa takut dan egonya, dia membiarkan hatinya menyambut ketulusan cinta yang di berikan Erkan padanya selama ini.
"Kau mau menerimaku?" tanya Erkan belum percaya.
Sekali lagi Sheena mengangguk, gadis yang akan berusia 17 tahun dalam beberapa hari lagi menerima Sang Lord, untuk menjadi bagian dari hidupnya.
"Iya!"
Erkan tersenyum bahagia, pria itu segera memeluk erat tubuh ringkih gadisnya, memberikan banyak kecupan di pucuk kepala Sheena.
"Ingat selalu kata kataku! kau tidak tidak cacat Sunshine, tapi kau itu istimewa!" Sheena mengangguk, Sang Princess membalas dekapan Erkan tak kalah erat.
Biarkan dia tertidur di dalam dekapan pria ini semalam saja. Begitu pun dengan Erkan, biarkan dia menjadi penghangat Sang Princess malam ini saja. Keduanya terhanyut dalam perasaan masing masing, hingga tanpa mereka sadari- ada seseorang yang melihat interaksi keduanya dari celah pintu sembari menahan isakan.
KAU ISTIMEWA, PENAMPILAN SHEENA SAAT MENYAMAR SEBAGAI SHEERA
__ADS_1
**SHEERA YANG ASLI
SEE YOU DI BAB TERAKHIR NANTI SIANG MUUUUAAAAACCCCHH😘😘😘😘**