
Dahliara bersenandung kecil, kedua kakinya membawa gadis itu ke halaman belakang istana Albarack. Kedua mata bulat indahnya menatap liar kesemua area, mencari seseorang yang sejak 3 hari yang lalu tidak menampakan batang hidungnya, karena Liara harus mengikuti kegiatan sekolah, tanpa boleh membawa siapa pun- termasuk orang itu.
Kedua mata Dahliara menyipit, langkahnya melambat- Sang Putri mengendap ngendap seperti penguntit saat melihat seorang pria tengah membelakanginya. Pria itu terlihat sibuk mengotak atik mesin mobil.
Senyuman jahil Dahliara terbit, Sang Bunga kembali melangkah- langkah pelan dan sangat hati hati.
Namun baru beberapa langkah dia ambil, Dahliara kembali berhenti. Dahinya mengernyit dalam, saat melihat seorang pelayan wanita muda mendekat pada sang pria.
Entah kenapa Dahliara tidak menyukainya. Putri dari keluarga bangsawan Albarack itu memilih bersembunyi di balik semak bunga, menguping pembicaraan keduanya.
Tapi bukankah itu tidak sopan? Dahliara menggelengkan kepalanya masa bodoh. Gadis itu menajamkan pendengarannya, menyibakkan rambut coklat panjang yang menghalangi kedua telinganya.
"Ini minumlah, aku yakin kau haus."
Dahliara berdecih mendengarnya. Setengah mati dia menahan diri agar tidak keluar dari semak semak. Sang Putri semakin tidak suka, saat melihat pria itu merespons pelayan wanita yang tengah memberikan minuman dingin padanya.
"Terimakasih, Zetta,"
Pelayan wanita yang bernama Zetta itu tersenyum simpul, terkesan malu malu saat pria yang ada dihadapannya menerima dengan baik. Dapat jelas terlihat kalau Zetta ada main hati dengan pria yang merupakan pengawal pribadi Sang Putri Albarack.
"Tiga hari ku tinggalkan, simba kecil ku mulai nakal. Berpacaran dengan pelayan istana di belakangku, hebat sekali!" gumamnya.
Dahliara keluar dari tempat persembunyiannya, melangkah santai, raut wajahnya pun terlihat tenang tanpa emosi.
"Ekhem!"
Dahliara berdehem keras, kedua tangannya dia lipat di dada- saat melihat kedua orang yang ada di hadapannya menoleh.
__ADS_1
"Tuan Putri," sapa sang pelayan wanita gugup.
Zetta menunduk dalam, gadis yang usianya satu tahun lebih tua dari Lionel itu terlihat kikuk.
"Kau sudah pulang, Tuan Putri?" kini giliran Lionel yang menyapa.
Pria bertato ular dan laba laba di tubuhnya itu terlihat tenang, sama sekali tidak memperlihatkan rasa terkejutnya. Lionel menatap lekat pada Dahliara yang tengah melangkah pelan ke arahnya.
"Saking sibuknya, kau sampai tidak tahu kepulangan ku." tukas Dahliara, namun masih dalam mode tenang.
Gadis bertubuh 158 centi meter, di usianya yang baru menginjak 12 tahun- berdiri tegap di hadapan pengawal pribadinya. Dahliara mendongak tanpa takut, menatap kedua netra tajam Lionel. Namun perlahan kedua sudut matanya bergulir, melirik pada Zetta yang masih berdiri tidak jauh darinya.
"Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain? kenapa kau masih di sini?!" tukas tajam Dahliara.
Pelayan wanita itu tersentak, sangat jelas terlihat kalau Zetta terlihat gugup dan panik mendengar ucapan anak majikannya.
"Ma-maaf Tuan Putri, sa- saya permisi," pamitnya.
"Kau meninggalkan sesuatu!" seru Dahliara.
Zetta menoleh, namun gadis muda itu tetap menunduk tidak berani menatap pada Dahliara.
Tak!
"Minuman mu ketinggalan. Pengawal ku tidak mengkonsumsi gula, jadi bawa kembali bersama mu!"
Setelah meletakan gelas berisi jus jeruk itu diatas nampan yang di bawa Zetta, Dahliara kembali menjauh. Membiarkan pelayan muda itu undur diri dari hadapannya.
__ADS_1
Kini kedua mata Dahliara hanya tertuju pada Lionel. Raut wajah pengawalnya membuat Dahliara tersenyum tipis.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? apa kau kecewa karena aku mengusir kekasih mu? dan menolak minuman yang dia bawa untuk mu?" pertanyaan menohok dari Dahliara, membuat Lionel menghela napas pelan.
"Tidak seharusnya kau menolak pemberiannya, Tuan Putri."
Dahliara menaikan sebelah alisnya, senyuman remeh dia sunggingkan pada Lionel.
"Oh, jadi kau membela kekasih mu. Aku hanya berkata kalau kau tidak mengkonsumsi minuman yang mengandung gula, tidak ada yang salah dari ucapan ku."
"Dia bukan kekasih ku!" ucap Lionel penuh penekanan.
Dahliara semakin mengembangkan senyumnya, gadis kecil itu mengangguk seakan percaya. Kedua matanya menatap sekitar, sebelum dia berbalik.
"Aku akan meminta Daddy untuk memberhentikan mu. Semakin lama kau semakin tidak menurut padaku, Simba. Aku tidak butuh pengawal yang berani membantahku!"
Dahliara berjalan cepat, meninggalkan Lionel yang tengah menatap punggung kecil Tuan Putrinya. Gadis kecil semakin keras kepala, dan Lionel harus bisa mengatasinya.
HAYOLOH NGAMUK SI KEMBANG
**JUTEK AMAT SIH NENG
HOLLA MET SIANG EPRIBADEH
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHHH😘😘**