
Bibi Jumma tergesa, saat tidak mendapati Sheena dimana pun. Bahkan saat dia bertanya pada setiap pelayan istana yang berpas-pasan dengannya, hampir semua pelayan itu menggeleng pelan.
"Anda dimana Tuan Putri? kenapa pergi tanpa mengajak Bibi," gumamnya penuh khawatir.
Bibi Jumma terus berjalan menyusuri setiap lorong istana, bahkan setiap area yang dia lewati tidak luput darinya. Bibi Jumma mengedarkan matanya kesetiap penjuru, dahinya berkerut dalam- saat kedua matanya menangkap dua orang wanita beda usia yang tengah berjalan dari area belakang istana.
"Tuan Putri, dari mana mereka? aku sepertinya belum pernah melihat pelayan itu?"
Bibi Jumma mendekat, tatapannya begitu menyelidik. Sang Pengasuh memperhatikan penampilan pelayan yang ada di belakang Sheena.
"Tuan Putri Sheena?" suara Bibi Jumma yang lumayan keras, membuat kedua wanita itu menghentikan langkah.
Bahkan Bibi Jumma dapat melihat kalau Sang Princess sedikit terkejut. Wanita setengah baya itu dapat melihatnya dari gestur tubuh Sang Princess, Sheena sedikit tersentak saat mendengar suaranya- padahal biasanya tidak seperti itu. Walau dirinya berteriak sekali pun, apa ada hal yang membuat Sang Princess terkejut?
"Anda dari mana Tuan Putri, saya mencari anda sedari tadi," Bibi Jumma segera meraih lengan Sheena dan membawanya pergi.
Meninggalkan sang pelayan wanita yang tengah mengembangkan senyuman tipisnya, senyuman tipis? lebih tepatnya seringai tipis.
"Semoga anda berhasil," gumamnya pelan, sebelum dia memutar balik tubuhnya berlainan arah dengan Sheena dan Bibi Jumma.
π
__ADS_1
π
π
"Anda dari mana Tuan Putri? kenapa tidak memanggil Bibi kalau mau berkeliling. Lihat lengan anda jadi kotor dan terlihat memerah, kenapa Tuan Putri pergi ke belakang istana? bukannya disana tidak ada apa pun, bahkan cctv Yang Mulia pasang tidak sampai ke sana, kalau ada apa apa dengan anda bagaimana? apa yang harus saya katakan pada Yang Mu-,"
"Aku lelah, aku akan istirahat sebentar,"
Bibi Jumma mengerjab cepat, bahkan Sang Pengasuh memundurkan tubuhnya satu langkah kebelakang- saat melihat Sheena mengabaikan ucapan dan rasa khawatirnya.
Bibi Jumma menelisik tubuh gadis yang ada di hadapannya, mulai dari ujung rambut hingga kaki. Tidak ada yang berubah, tapi kenapa gaun yang dipakai Sang Princess sudah berubah? bukannya sebelum Sheena pergi dari jangkauannya- Sang Princess memakai gaun selutut berwarna toska. Lalu kenapa sekarang gaun itu berwarna lavender? apa Sheena menggantinya? tapi kapan? kenapa dirinya tidak mengetahui saat Sheena mengganti gaunnya.
Selepas kepergian Bibi Jumma, kedua mata sebiru lautan itu terbuka- kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman, sebelum kembali menutup kedua matanya.
Di sisi lain, mobil Ferarri yang membawa Erkan sudah memasuki kawasan istana Albarack. Pria berkaos hitam pas body di padukan dengan jaket jeans itu terlihat menghela napas lelah, kepalanya yang masih berdenyut membuat Erkan ingin secepatnya berbaring dan bertemu dengan gadis kesayangannya.
Apa Sheena menunggunya? apa gadisnya sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya? kalau memang benar, dirinya juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Sang Princess lautan.
"Selamat datang Yang Mulia,"
Sambutan para pelayan dan Pengawal saat Erkan keluar dari dalam mobil. Sang Lord hanya berdehem pelan, kemudian melanjutkan langkahnya di ikuti oleh beberapa pelayan yang membawa barang barangnya.
__ADS_1
"Yang Mulia?"
Bibi Jumma menundukkan kepala saat melihat Erkan datang. Bahkan wanita itu segera mendekat pada Erkan, lalu mengkode agar Sang Lord mengikuti langkahnya.
"Antar semua barang Yang Mulia ke kamar!" titah Bibi Jumma.
Kedua pelayan muda itu mengangguk, mereka segera bergegas meninggalkan Sang Lord dan Pengasuh Sang Princess.
"Tuan Putri ada di kamarnya,"
Erkan menghela napas pelan,"Baiklah aku akan ke sana," sahutnya.
"Tapi-,"
Langkah Erkan terhenti, Sang Lord menoleh pada pengasuh calon istrinya. Satu alisnya terangkat, menandakan kalau Erkan tengah menunggu ucapan Bibi Jumma selanjutnya.
"Semoga Yang Mulia bisa mengenal Tuan Putri lebih dalam lagi, saya permisi kebelakang," ujar Bibi Jumma ambigu, membuat Erkan terdiam- tapi setelah beberapa detik kemudian Sang Lord kembali melanjutkan langkahnya.
AKU TEMENIN BERENANG NYOK BANG, SAMBIL BERENANG MINUM CINTA EEEAAAAKKK
__ADS_1