
Elvier menatap lekat pada putranya, matanya memicing tajam pada wajah Erkan. Tangannya terulur tiba tiba, membuat Sang Lord tersentak saat merasakan sentuhan di wajahnya.
"Kau bertengkar? kapan?"
Pertanyaan Elvier yang to the poin, membuat Yasmine serta Liara mengalihkan pandangannya pada Erkan. Kedua mata wanita itu mengerjab pelan, bahkan terlihat membola saat menyadari ada lebam samar di wajah Erkan yang tertutupi foundation.
Erkan sengaja menutupinya, agar Sang Mommy tidak khawatir. Erkan bersyukur tadi pagi Yasmine tidak menyadarinya, tapi sekarang sepertinya sudah terlambat.
Yasmine bangkit, wanita berkemeja maroon itu mendekat pada Sang Lord. Menangkubkan kedua tangannya di wajah sang putra, ekspresi khawatir yang Yasmine tunjukan dapat Erkan lihat dengan jelas.
Bahkan Sheena yang duduk berdampingan dengan Sang Lord, juga merasa khawatir saat melihat raut wajah ibu mertuanya.
"Siapa yang ngelakuin ini sama anak Mommy?!"
Elvier meletakan sendok serta garpu nya diatas piring. Pria setengah baya itu bersedekap dada, saat melihat wajah meringis putranya.
"Aku tidak apa apa Mom. Sheena sudah mengobati ku semalam, don't worried oke!" Erkan mencoba menenangkan Yasmine.
Sang Lord paham kalau saat ini Mommy nya sedang khawatir. Bahkan saking khawatirnya Yasmine sampai menekan luka lebam di area bibirnya. Luka yang sangat menggangu, karena Erkan tidak dapat menikmati bibir istrinya tadi malam.
Kezier sialan! umpatnya dalam hati.
__ADS_1
"Siapa? Mommy tanya siapa orangnya?!"
Erkan semakin meringis di buatnya, bahkan Sang Lord terlihat menggenggam satu tangan Sheena- mengisyaratkan agar gadisnya tidak berbicara apa pun.
"Sheena, ayo bicara sama Mommy?"
Sheena tersentak, Sang Princess terlihat gusar. Apa lagi saat melihat tatapan ibu mertuanya, tapi Sheena juga tidak tega melihat wajah memohon suaminya.
Sang Princess menghirup napas pelan, lalu menghembuskannya perlahan.
"Putra Mahkota Abraham. Aku juga tidak tahu kalau Akara pergi malam tadi. Dia tidak meminta izin padaku," cicitnya pelan.
Sheena meremas ujung gaunnya, kepalanya menunduk dalam tidak berani untuk menatap suaminya. Sheena yakin kalau saat ini Erkan tengah menatap padanya. Jujur Sheena tidak dapat berbohong, apa lagi ini adalah masalah antara dua keluarga bangsawan- atau bahkan tiga keluarga. Karena Sheena yakin kalau Alfuttain akan ikut campur dalam masalah Erkan dan Kezier.
Elvier angkat bicara, sedangkan Yasmine masih menatap tak terbaca pada putranya.
"Kezier merendahkan istriku! dia menganggapnya sebuah barang yang bisa dengan mudahnya di tukar. Aku terpancing emosi, dan ya- Daddy pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya," ujarnya santai.
Elvier menaikan sebelah alisnya, senyum samar tercipta disalah satu sudut bibirnya.
"UGD?" tebaknya.
__ADS_1
"Lebih dari itu! aku mengirimnya ke teras neraka!" ujar Erkan dengan nada kesal.
Sebenarnya Sang Lord tidak terlalu puas, kalau saja para anak bangsawan lain yang satu tim dengannya tidak memisahkan mereka berdua- Erkan yakin kalau hari ini adalah hari pemakaman Putra Mahkota Abraham.
"Abraham merendahkan menantu ku?" tanya Elvier lagi.
Erkan tidak menjawab, Sang Lord hanya mengangguk pelan. Satu tangannya dia selipkan di bahu Sheena, lalu menggeser tubuhnya agar semakin merapat pada sang istri.
"Sialan tuh si Abraham! dari dulu bisanya cuma cari masalah. Awas aja kalau sampai Mommy ketemu sama tuh orang, habis pokoknya!"
Elvier yang tadinya hendak membuka suara, kembali urung. Ucapan Yasmine membuatnya menghela napas, Elvier sudah yakin kalau Sang Permaisuri tidak akan diam.
"Apa perlu kita samperin!" usul Yasmine.
Elvier semakin terdiam, dia membiarkan Sang Permaisuri bertindak sesuka hati pada Abraham.
"Tidak perlu Mom, aku yakin tidak lama lagi Abraham dan Alfuttain akan datang ke istana kita," tutur Erkan tanpa beban.
**AKU JUGA MENYERAHKAN SEMUANYA PADA MU EL 😘😘😘😘
__ADS_1
SEE YOU TOMORROW
MUUUUAAAAACCCHHHh😘😘😘**.