
Erkan dan Sheena berjalan berdampingan, tangan keduanya saling menggenggam erat. Bahkan terlihat kalau Sheena sedikit meremas erat tangan kekasihnya. Sang Princess benar benar dilanda gugup setengah mati, dia yakin kalau saat ini sudah banyak mata menatap kearahnya.
Cara berjalannya yang perlahan dan meraba, membuat mata yang belum tahu keadaannya pasti begitu penasaran.
Sheena menghela napasnya pelan, genggamannya semakin mengerat- membuat Erkan menoleh. Salah satu alisnya terangkat saat melihat gadisnya berkeringat dingin.
"Kau gugup?" tanya Erkan seraya berbisik pada Sheena.
Sebenarnya Erkan mati matian menahan kekehannya saat melihat gadisnya mengangguk pelan, apa lagi raut wajahnya begitu terlihat gugup.
"Apa disini banyak orang?" tanya Sheena pelan, Sang Princess menelan saliva susah payah.
Detak jantungnya bertalu lebih cepat, dari pada saat Erkan mendekapnya malam itu.
"Hm, tidak juga," ujarnya berbohong, padahal sebenarnya disetiap sisi kiri dan kanan mereka sudah berjajar para pengawal dan beberapa pelayan istana. Hanya saja Erkan menyuruh mereka untuk bungkam, termasuk Bibi Jumma yang tengah mengikuti langkah sepasang sejoli itu.
"Syukurlah, aku tidak yakin mampu berjalan- kalau sampai tahu kalau banyak mata yang memperhatikan ku," cicitnya.
Cup!
"It's oke Sunshine, ada aku disini. Tidak ada siapa pun kecuali aku dan Bibi Jumma,"
Erkan memberikan satu kecupan ringan di pucuk kepala Sheena, Sang Lord tidak peduli dengan banyak mata yang menatap kearahnya.
Salah seorang pelayan istana wanita membukakan pintu utama istana, beberapa pelayan segera menundukkan kepala mereka- saat melihat Erkan melangkah masuk, termasuk seorang pelayan muda yang sedari menatap tak berkedip pada Erkan dan Sheena.
__ADS_1
Semua orang terdiam, tidak ada yang berani membuka suara. Perintah Sang Lord sulit untuk di bantah, tapi sepertinya masih ada yang berani membuka suara- buktinya ada beberapa maid muda tengah mengintip kedatangan Sang Lord- yang tiba tiba saja datang membawa seorang gadis.
"Aku yakin kalau itu kekasihnya Yang Mulia Putra Mahkota, cantik sekali,"
Semua orang yang mendengarnya reflek mengangguk. Bahkan mereka yang berjenis kelamin wanita tulen saja tidak dapat memalingkan kedua mata- dari Sang Princess.
"Aku tidak sabar melihat Putra Mahkota menikah. Aaahhkk! pasti pestanya sangat meriah, akan ada banyak putra mahkota dari keluarga bangsawan lain yang datang- aku tidak sabar menunggunyaaa!".
Pekikan kecil pelayan wanita muda itu membuat rekan rekannya melotot. Mereka memperingati wanita cerewet itu lewat sorot mata.
"Menurutku biasa saja, tidak cantik!"
Gadis remaja yang ada didepan para pelayan muda itu berdecih, lain di mulut lain pula di hati. Kalau saat ini mulutnya berkata buruk seperti itu pada Sang Princess, justru didalam hatinya- dia tengah mengagumi kesempurnaan fisik yang di miliki Sheena.
'Sialan, dia gadis tercantik yang pernah aku lihat! bahkan para putri bangsawan yang pernah datang ke istana ini tidak ada apa apanya,' ringis pelan dalam hatinya.
Kriieett!
Pintu besar kedua terbuka, degup jantung Sheena semakin menggila- padahal dia tidak tahu akan dibawa kemana, tapi dari decitan langkah dan suara pintu yang terbuka- terdengar tidak asing baginya.
Sheena pernah mendengar suara berat pintu terbuka dan tertutup seperti itu, di istana Alfuttain. Dahi Sheena mengernyit, apa mungkin kekasihnya ini membawa dia kesebuah tempat berpintu besar? atau mungkin dia malah di bawa ke istana Albarack? atau ke rumah orang orang tua kekasihnya?
Kembali, Sheena menelan salivanya susah payah. Genggaman tangannya semakin mengerat, keringat dingin kembali keluar dari pori pori tubuhnya.
'Rileks Anna!" bisiknya dalam hati.
__ADS_1
Langkah Sheena terhenti, saat merasakan tidak ada gerakan dari pria yang ada di sebelahnya.
"Aku sudah membawanya,"
Tubuh Sheena semakin mematung, kedua mata biru lautnya menatap lurus tanpa berkedip. Dalam hatinya terus saja bertanya, dimana ini? dia dibawa menemui siapa? tempat apa yang tengah di jejaki saat ini?
"Aku sudah menepati ucapanku, membawa calon istriku kehadapan kalian," ujar Erkan lagi, membuat Sheena semakin di buat tidak mengerti.
Calon istri?
Bukankah mereka masih berpacaran? belum juga bertunangan, kenapa menyebutnya sebagai calon istri? dan siapa orang yang saat ini tengah berhadapan dengannya dan sang kekasih. Apa mungkin orang ini adalah-,
"Aku sudah menepatinya, Mom, Dad."
Ucapan Erkan yang berikutnya, membuat tubuh Sheena semakin menegang hebat- detak jantungnya tidak karuan. Kepalanya berdenyut, bahkan Sheena merasakan kedua lututnya melemas.
'Mom Dad?' beonya dalam hati.
Jadi sang kekasih membawa dia kehadapan orang tuanya? Sheena menahan napas sejenak, dia mempersiapkan diri untuk mendengar semua ucapan yang akan di lontarkan padanya setelah ini. Semoga hatinya yang sudah selembut permen kapas ini masih kuat seperti dulu.
**SANG PRINCESS DALAM BALUTAN PAKAIAN ALA KOREA
SEE YOU NEXT TOMORROW
__ADS_1
BABAYY MUUUAAACCHHššš**