
Sheena berjalan pelan menuju ruang tengah, kedua tangannya membawa beberapa paper bag yang akan dia berikan pada Bibi Jumma.
Senyum di bibirnya tidak luntur, terlebih saat dirinya melirik sesuatu yang ada ditangannya.
Seminggu yang lalu, Murad salah satu pengawal pribadi Ayah mertuanya- menyatakan perasaannya pada Bibi Jumma. Tepat di hadapan Sang Princess, bahkan Sheena pun tidak menyangka kalau pria yang berusia hampir setengah abad itu diam diam memendam rasa pada pengasuhnya.
Bukan hanya Sheena yang shock, namun Bibi Jumma lebih dari kata shock. Wanita itu bahkan tidak berselera makan selama satu minggu, karena belum memberikan jawabannya. Dan kemarin, Bibi Jumma sudah memutuskan bahwa dia menerima pinangan Murad.
Tepat hari ini, keduanya akan menikah. Sheena tersenyum haru melihat penampilan pengasuhnya, wanita yang selalu ada untuknya- kini telah menemukan kebahagiannya sendiri, sama sepertinya.
"Bibi Jumma sudah siap?"
Wanita itu menolah, kedua matanya berkaca kaca saat melihat Sheena mendekat. Air mata Bibi Jumma perlahan turun, saat melihat perut buncit Sang Princess.
"Sudah Yang Mulia, Kepala Pelayan Jumma sudah siap!"
Sheena mengangguk pelan, tangannya terulur untuk meraih jari jemari Bibi Jumma.
"Menangislah Bibi, menangislah dalam bahagia. Mulai sekarang tidak akan ada lagi hal yang akan membuat kita sakit. Ayo, aku antar kedepan- Paman Murad pasti sudah menunggumu."
Sheena menggandeng lengan pengasuhnya, berjalan perlahan menuju halaman istana yang di jadikan tempat sakral sepasang calon pengantin yang akan menikah hari ini.
🍒RTSL🍒
Suasana pesta pernikahan Bibi Jumma dan Murad begitu meriah, biar pun hanya pesta sederhana- namun para tamu yang hadir begitu menikmati pestanya.
__ADS_1
Begitu pun dengan Sheena dan Erkan, kedua calon orang itu terlihat begitu bahagia- saat melihat Bibi Jumma dan Murad terus saja tersenyum.
Semua anggota keluarga Albarack hadir, bahkan Laela- adik tiri Elvier pulang kembali ke Dubai bersama suami dan anak mereka yang masih remaja- demi menghadiri pernikahan sang pengawal setia keluarga Albarack.
Tuan Ommar ikut hadir, walaupun harus duduk di atas kursi rodanya. Yasmine selalu berada di dekat Ayah mertuanya, saat para tamu menyapa Tuan Besar Albarack.
Sedangkan Elvier, terlihat sibuk berbicara dengan beberapa klien kerjanya.
Yang tidak terlihat disana hanya Liara, gadis remaja itu masih berada di dalam kamarnya. Sementara Lionel, pria bertato ular dan laba laba itu tengah mengawasi para tamu yang hadir.
Lionel berpakaian formal, jas hitam dan kemeja hitam melekat pas di tubuhnya. Pakaian elegan dan mewah itu di pilih langsung oleh Sang Putri, siapa lagi kalau bukan Liara.
Gadis remaja yang belum menampakan batang hidungnya. Bahkan Lionel dilarang untuk menyusul ke kamar. Entah apa yang sedang Liara lakukan didalam sana.
"Kau sendirian?"
"Tidak!" sahutnya.
Lionel kembali menampilkan wajah datarnya, mengabaikan Zetta yang tengah menatap tak berkedip padanya.
"Emm- iya kau tidak sendirian Li, disini banyak orang. Tapi bukan itu maksudku, kau sendirian dalam arti tidak bersama Putri-,"
"Dia masih berada di kamarnya!"
Lionel memotong ucapan Zetta, pria berambut gondrong itu menoleh- menatap pelayan itu penuh selidik.
"Kau menyukainya, Li?"
__ADS_1
Zetta menatap serius pada Lionel, tatapan keduanya bertemu- saling mengunci, mengabaikan hingar bingar pesta.
"Kau menyukai Putri Dahliara, Lionel?" tanya Zetta lagi, saat dirinya tidak mendapat balasan.
"Aku bisa melihatnya saat kau mena-,"
"Tidak!"
Kedua mata Zetta melebar mendengar jawaban cepat dan lugas yang di berikan Lionel, namun seperdetik kemudian Zetta memasang wajah tenang dan biasa.
"Oh ya, aku tidak per-,"
"Aku tidak menyukai Putri Liara! kau puas. Aku dan dia hanya pengawal dan Sang Putri, tidak ada apa pun di antara kami berdua. Tidak ada kata suka dan tidak suka, jadi tutup mulut mu!" desis Lionel.
Pria itu kembali memasang wajah datar dan dingin, tanpa berminat untuk melihat reaksi Zetta. Pelayan wanita itu terdiam, aura dingin yang di keluarkan Lionel membuat nyalinya menciut.
Keduanya tidak menyadari, kalau sedari tadi Liara sudah berada di belakang. Obrolan Zetta dan Lionel mampu Liara dengar dengan baik, kedua tangan gadis itu mengepal- bahkan gelas kristal yang sedari tadi Liara genggam kini menjadi sasarannya.
Sang Putri berbalik, raut wajahnya begitu kaku dan dingin. Liara mengabaikan sapaan para pria muda dari kalangan bangsawan yang terang terangan mengaguminya.
**BIASA AJA BANG LIHATNYA
HOLLA MET SORE MENJELANG MALAM
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUAAACCHH😘😘**