
Senyuman di bibir Sheena tidak luntur sedikit pun, bahkan saat Erkan membawanya mendekat pada Hisham- senyuman Sang Princess tidak luntur sedikit pun.
"Sheena, Ibu tidak menyangka kalau kau masih-,"
"Selamat datang Permaisuri, aku memang masih hidup. Kalian bisa melihatnya sendiri, dan ini semua berkat pria yang ada disisi ku sekarang, apa kalian mengira kalau aku sudah mati?" Sheena semakin mengembangkan senyumannya.
Senyuman yang terkesan sinis, Sheena melepaskan rangkulannya dari tangan Erkan, Sang Princess melangkah meraba mengikis jarak pada Tuan Alfuttain.
"Sheena memang sudah mati, dia mati saat kedua pengawal itu mendorongnya hingga jatuh ke jurang laut. Sekarang yang ada di hadapan kalian bukanlah Sheena yang dulu, aku Sheena Oceana Albarck Milles- nama Alfuttain sudah terkubur mati bersama hatinya. Oh aku lupa, bukankah nama Alfuttain tidak pernah tersemat di belakang namaku? berarti aku memang sudah mati sedari dulu?" sambung Sheena, raut wajahnya menampilkan rasa sedih yang dia buat sendiri.
Namun setelah itu senyuman tipisnya kembali hadir, Sheena yakin kalau saat ini Tuan Hisham yang terhormat tengah menatap marah padanya- dan tebakan Sheena benar adanya.
Hisham Alfuttain tengah menatap tajam pada Sheena kedua tangannya terkepal erat- rahangnya mengerat karena menahan emosi.
"Sheena, Ibu tidak per-,"
"Aku tidak memiliki Ibu!" tukas Sheena tajam.
Namun kedua sudut bibirnya terus saja mengembang, tatapan kosongnya mengarah pada Sang Permaisuri keluarga Alfuttain. Tatapan yang membuang Sang Permaisuri menelan salivanya susah payah, tatapan kosong yang menyimpan banyak luka.
"Tapi- itu dulu, sekarang aku sudah memiliki Ibu dan seorang Ayah yang baik. Mereka mau menerima gadis cacat seperti ku, memperlakukan ku seperti anak kandungnya sendiri, memberikanku tempat yang layak, memberikan kehormatan keluarga mereka, bahkan menyandingkan ku dengan putra mereka. Meyakinkan, kalau aku memang pantas berada di sisi Sang Putra Mahkota Albarack,"
Sang Permaisuri Alfuttain terdiam, rasanya ada beban puluhan kilo tengah menimpa dadanya. Sesak, sakit dan membuatnya kesulitan untuk membuka suara.
__ADS_1
"Oh aku sampai lupa, itu putri anda Yang Mulia Permaisuri- apa anda tidak ingin menyapanya juga? sepertinya Putri Mahkota Alfuttain sangat senang tinggal di istana ini, sampai dia sudi menyamar sebagai aku- si gadis buta," tutur Sheena lagi.
Sang Princess memundurkan langkah secara perlahan, mendekat kembali pada Erkan. Mengapit mesra lengan kekasihnya, saat merasakan satu tangan Erkan terulur padanya.
Erkan memberikan perintah lewat lirikan matanya, pada pengawal yang tengah menjaga Sheera. Sang Lord semakin merapatkan tubuh Sheena padanya, memberikan jalan pada Sheera.
Sang Putri Mahkota menunduk dalam, dia tidak cukup berani untuk menatap wajah Sang Ayah. Bahkan saat pengawal menarik lengannya, Sheera sama sekali tidak berkutik- Sang Putri Mahkota terlihat pasrah.
"Ada yang ingin kau katakan, Putri Sheera?" Elvier kembali bersuara, pria bertato itu menatap datar pada ketiga anggota keluarga Alfuttain.
"Berikan alasan terbaik mu, agar hukuman mu tidak terlalu berat," ujarnya lagi.
Sheera memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, kedua mata Sang Putri Mahkota bersitubruk dengan Hisham. Terlihat sekali kalau saat ini Sheera tengah memohon pada Sang Ayah lewat tatapannya
"Kau memalukan!"
Dua kata yang keluar dari mulut Hisham, membuat Sheera membatu. Kedua matanya berkaca kaca, entah kenapa Sheera merasa kalau Sang Ayah tidak akan mau menolongnya kali ini.
Demi kehormatan! Sheera sudah yakin kalau Hisham Alfuttain lebih memilih kehormatan dari pada membelanya.
"Hukum saja sesuai dengan peraturan yang ada di istana Albarack. Setelah itu, kembalikan Sheera pada kami,"
Hati Sheera mencelos, walaupun dia sudah menduganya tapi tetap saja sakit rasanya. Sang Ayah sama sekali tidak mau membelanya di depan keluarga Albarack, membuat harga dirinya semakin jatuh.
__ADS_1
"Baiklah, hukuman cambuk akan di terima oleh Putri Sheera- malam ini." final Elvier.
"Walaupun sebenarnya itu tidak sepadan, seharusnya Putri Sheera mendapatkan hukuman yang lebih dari sekedar cambukan," sambung Elvier.
Hisham terlihat mengepalkan kedua tangannya, kedua matanya terus saja tertuju pada Sheera, kemudian perlahan bergulir pada Sheena dan Erkan.
"Kenapa Putra Mahkota lebih memilih Sheena dari pada Sheera? Sheera dan Sheena nemiliki wajah yang sama, bahkan Sheera lebih segalanya- dan bukankah kalian tahu kalau Sheena itu-,"
"Dia memang buta mata, tapi tidak dengan hatinya. Aku lebih memilih gadis yang buta mata, dari pada buta hati dan tidak tahu malu seperti Putri Mahkota keluarga mu," tukas Erkan tajam.
Hisham terlihat tidak menerimanya, namun Sang Tuan Alfuttain berusaha menampilkan raut wajah tenangnya.
"Benarkah? tapi sayangnya kau tidak akan bisa memiliki gadis itu tanpa restu ku. Ingat, aku masih Ayah kandungnya, kalau tidak ada restu ku kalian tidak akan pernah bersama dalam ikatan pernikahan," Hisham melebarkan senyum, kala merasa mengalahkan Erkan dengan telak.
Hubungan sepasang kekasih itu akan terlihat dramatis tanpa restunya, tanpa izin darinya secara tertulis maupun lisan.
"Benarkah? kita lihat saja nanti," sahut Erkan tenang dan terkesan santai.
**GAK USAH DI TAHAN BANG, AKU JUGA GAK TAHAN JADINYA
SEE YOU MUUUAAACHH😘😘😘😘**
__ADS_1