
Sang Putra Mahkota Abraham menatap nyalang pada calon istrinya. Kedua netra tajamnya terlihat menyelidik penuh ancaman.
"Jadi kau membohongi ku?" tanyanya dengan suara rendah.
Kezier mengikis jarak pada Sheera, sejak tadi pria bertubuh tinggi itu sudah menahan emosi agar tidak sampai menyakiti kekasihnya. Namun sepertinya sang kekasih menyepelekannya, tatapan Sheera terlihat angkuh dan merendahkan.
"Aku tidak pernah membohongi siapa pun, kenapa kau menuduhku seperti itu? siapa kau? kau hanya pria yang akan di jodohkan oleh Ayah ku karena kekuasaan, tidak lebih dari itu- jadi jangan pernah mengaturku!" desisnya.
Sheera bangkit dengan angkuh, Sang Putri Mahkota Alfuttain terlihat muak- Kezier selalu mengatur hidupnya. Padahal mereka tidak saling terikat hati, hanya status sialan itu yang membuat Sheera terkekang.
"Kau tidak bisa menghindar sebelum berkata yang sebenarnya pada ku!"
Kezier mencekal lengan kecil Sheera, memepetkan tubuh kecil Sang Princess ke meja- Kezier mengunci pergerakan Sheera agar tidak dapat lepas darinya.
"Apa yang kau lakukan?!" sentak Sheera, kala Kezier semakin mendekat padanya.
"Apa yang sudah kau lakukan di istana Albarack?" Kezier menatap tajam, satu tangannya terulur untuk mencengkram dagu calon istrinya.
Calon istri pembangkangannya, Kezier kecolongan- Sheera terlalu licik dan licin.
"Hanya berkunjung, kau tahukan kalau Putra Mahkota Albarack adalah pria yang aku sukai. Jadi, tidak salah kalau aku mengunjungi istana pria pujaan ku,"
Rahang Kezier mengetat, tatapannya semakin dingin dan tajam. Bahkan cengkraman di dagu Sheera semakin kencang, membuat Sang Princess mendesis lirih.
__ADS_1
"Jangan jadi gadis murahan, gelar mu sebagai Putri Mahkota tidak akan berguna, kalau kau merendahkan harga diri mu demi pria yang sama sekali tidak sudi melihat mu!" Kezier tersenyum sinis.
Sang Putra Mahkota Abraham menghempaskan kasar dagu Sheera, membuat gadis itu semakin meringis.
"Aku akan memajukan pernikahan kita!" finalnya.
"Tidak ada bantahan Lasheera!" tukasnya lagi, saat Kezier melihat Sheera hendak membuka mulut.
"Sialan!" umpat Sheera, setelah melihat Kezier keluar dari kamarnya.
🍒
🍒
🍒
Liara meminta Lionel untuk mengantarnya ke pesta ulang tahun teman sekolahnya, tapi sang pengawal pribadi masih sibuk dengan samurai dan benda berbahaya lainnya.
"Kalau kau tidak mau mengantarku bilang saja! aku bisa meminta Daddy atau Kakak mengantar ku!" sewot Liara.
Gadis beranjak remaja itu menghentakkan kedua kakinya kencang. Rasa kesal, bosan, marah dan merasa di abaikan tengah mendominasi didalam hatinya.
"Simba benar benar ingin ku ganti! lihat saja aku tidak akan main main kali ini!" geramnya.
__ADS_1
Liara berlari kecil, dia mengabaikan panggilan kepala pengawal. Liara sudah terlanjur kesal, gara gara kepala pengawal itu Lionel terus saja mengabaikan permintaannya dan lebih memilih senjata tajam.
Dengan langkah tergesa bahkan hampir tersungkur, Liara mendesis saat merasakan ngilu serta sakit di ibu jari kakinya.
Ibu jarinya sedikit berdarah, karena Liara tidak sengaja tersandung.
"Dasar kaki tidak punya mata!" sungutnya kesal.
Liara berjongkok, Sang Putri Bunga meringis pelan namun tidak menangis, saat melihat luka robek di sisi ibu jarinya.
"Ceroboh!"
Liara mendongak, kedua matanya membulat saat melihat Lionel sudah berada di dekatnya. Pria muda itu berjongkok, tangannya terulur untuk menyeka darah di ibu jari Liara dengan tangannya secara langsung.
"Apa kau tidak bisa menunggu, Tuan Putri?" ujarnya datar.
Lionel bahkan tidak menoleh sedikit pun pada Liara. Pria bertato itu hanya fokus pada luka Sang Putri, rahangnya mengetat saat mendengar rintihan Liara.
"Tolong hilangkan sifat keras kepala mu itu! kalau terus bersikap tidak sabaran, kau bisa saja mendapatkan luka yang lebih dari ini!" tukasnya lagi.
Liara membisu, Sang Bunga memilin ujung kaos yang di pakai Lionel. Jujur Liara takut saat melihat wajah dingin pengawalnya.
__ADS_1
**BANG SIMBA RRRWWWW
SEE YOU MUUUAAAACCHH😘😘**