
Erkan membuka jaket jeansnya dengan sekali tarik, kedua tungkai kokohnya menaiki satu persatu anak tangga yang menuju lantai dua.
Tepatnya salah satu ruangan yang ada di lantai itu. Erkan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan gadisnya, Sheena Oceana.
Senyumannya mengembang, kala kedua netra tajam Erkan sudah menemukan sesuatu yang dia cari sedari tadi. Dengan langkah pelan, Erkan mulai mengikis jarak dengan pintu besar yang tidak jauh darinya.
Tanpa permisi dan mengetuk, Erkan membuka pintu besar kamar Sang Princess. Kedua sudut bibirnya semakin tertarik ke atas saat melihat seorang gadis tengah bergulung dengan selimut tebalnya.
Erkan menutup pintu dengan pelan, kedua tungkainya melangkah pelan ke arah tempat tidur. Sang Lord tidak ingin membuat suara gaduh sedikit pun, Erkan tidak ingin mengganggu Sang Princess yang tengah menikmati mimpi indahnya.
Tanpa Erkan ketahui, kalau sebenarnya sang gadis sudah membuka kedua matanya, bahkan kedua sudut bibirnya sudah tertarik- membentuk senyuman tipis.
Sudah lama dia menanti hal ini, dirinya sudah tidak sabar untuk merasakan dekapan dan belaian pria yang selalu menjadi imajinasinya selama ini.
Tempat tidur sedikit bergoyang saat Erkan mendudukkan diri disisi sang gadis. Satu tangan Erkan terulur untuk menyentuh rambut panjang kecoklatan gadisnya, perlahan dia menyibakkan selimut yang membungkus tubuh Sang Princess- dan mengusap lembut lengan atas Sheena.
"Sunshine?" bisik Erkan.
Suara bisikan Sang Lord mampu membuat bulu kuduk sang gadis, yang tengah terbaring di tempat tidur itu meremang.
Perlahan kedua mata biru itu terbuka, posisi tubuhnya membelakangi Erkan- mampu membuat Sang Lord tidak menyadari kalau dirinya sudah tersadar sedari tadi.
Bukan tatapan kosong yang bisa Erkan lihat saat ini, kala gadisnya berbalik dan menatapnya. Tatapan penuh puja dan bergelora, sangat terlihat jelas di kedua mata biru- yang sepertinya asing di kedua mata Erkan.
"Kau sudah kembali?" tanyanya pelan.
__ADS_1
Erkan hanya mengembangkan senyum saat menanggapinya. Bahkan saat jari jemari halus nan lentik itu menyusuri permukaan wajahnya Erkan sama sekali tidak bereaksi.
Sang Lord terdiam, menatap dalam dan menyelami kedua bola mata biru asing itu. Entah kenapa Erkan merasa asing dengan tatapan Sheena, berbinar tapi tidak dapat membuatnya terpesona.
Sementara beberapa waktu sebelum dirinya meninggalkan Sheena, tatapan kosong yang sering Sheena berikan padanya- mampu membuat Sang Lord tenggelam kedalam dasar.
"Istirahatlah, aku akan membersihkan tubuh ku dulu," Erkan menegakan tubuhnya, namun saat kedua kakinya hendak melangkah- Sheena membelit salah satu tangan Erkan dengan erat.
"Kau tidak mau memelukku? apa kau tidak rindu pada kekasih mu?"
Erkan masih terdiam, namun dahinya terlihat mengernyit. Kenapa Sheena terlihat agresif? selama ini gadisnya tidak menawarkan ingin di peluk olehnya, tapi justru dirinya lah yang selalu mencuri kesempatan dalam kesempitan.
"Tubuh ku masih lengket Princess, aku akan membersihkan tubuh ku du-,"
"Jadi kau tidak merindukan ku, Erkan?"
"Padahal aku sangat merindukanmu, tapi kau malah-,"
Ucapan Sheena terhenti saat Erkan berbalik, dan menangkub wajahnya. Netra keduanya bertemu, saling bertautan- bila saat ini Sheena tengah menatap penuh puja pada pria yang ada di hadapannya, Erkan justru menatap dalam penuh selidik pada kedua netra biru itu.
"Aku juga sangat merindukanmu, Sheena Oceana Alvarack Milles. Istirahatlah, nanti aku akan menemui mu lagi," Erkan sengaja menekan nama lengkap gadisnya, bahkan tanpa ragu Sang Lord memberikan nama belakang keluarganya.
Setelah mengatakan itu Erkan segera melepaskan belitan tangan Sheena, meninggalkan sang gadis tanpa pelukan apa lagi kecupan. Membuat gadis bermata biru itu menajamkan pandangannya ke arah punggung lebar Sang Lord.
π
__ADS_1
π
π
Sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah gubuk kecil di tengah hutan. Ada seorang gadis bergaun toska lusuh dan kotor, tengah mendengarkan sebuah percakapan kedua orang- dari alat penyadap yang sengaja di berikan padanya.
Kedua sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis- membuat kedua orang yang menjaganya saling lirik.
"Wajah kita memang sama, bahkan suara pun tidak ada beda. Tapi, tidak dengan perasaan ini, sekeras apa pun kau melakukannya- Akara tidak akan mudah mempercayaimu, Adik," ujarnya merendahkan.
Plak!
"Tutup mulut mu, Putri tidak berguna!" sarkas salah satu dari mereka.
Gadis itu memejamkan kedua mata, saat merasakan kebas dan panas di pipi sebelah kirinya. Sang gadis menghela napas pelan, harapannya saat ini adalah kekasihnya akan segera menyadari kalau gadis yang bersamanya itu bukan dirinya.
Walaupun mungkin tidak secepat yang dia inginkan. Tapi yakinlah, Erkan Akara bukan Putra Mahkota bodoh- yang mudah di bohongi.
'Akara, apa kau bisa mendengar ku- Sayang,' bisiknya dalam hati.
**PRINCESS STROOONGG
SEE YOU TOMORROW
__ADS_1
MUUUAAACCHHH**