
Erkan menghela napas pelan, dia sudah yakin kalau Abraham tidak akan mau di ajak berbicara dengan kepala dingin.
"Ayo kita berbicara dengan kepala di-,"
Bugh
Tubuh Erkan terhuyung kebelakang, satu pipinya berdenyut- saat satu bogeman keras di layangkan oleh Kaviar.
Elvier dan Murad serta Hisham terkesiap, mereka tidak menyangka kalau Kaviar akan memukul Erkan tanpa aba aba.
"Kau!" Elvier meradang, dia bergerak maju namun Erkan menahan lengannya.
Napasnya tersengal, Elvier tidak menerima melihat Kaviar melukai putranya. Dia saja tidak pernah mukul apa lagi melukai Erkan, senakal apa pun putranya Erkan tidak pernah main tangan. Karena Elvier tahu, Erkan pasti akan menirunya- dia takut kalau Sang Putra Mahkota akan berbuat kasar pada pasangannya.
"Calm down Dad," ujar Erkan tenang.
"Aku akan menghabisinya kalau pria itu berani menyentuh mu lagi, Son!"
Erkan terkekeh mendengar ucapan Elvier. Dia tahu kalau Sang Tuan Albarack tidak akan menerima ini semua- terutama Mommy nya.
"Aku akan menghadapinya Dad. Sekarang lebih baik kau aman kan Mommy, jangan sampai dia tahu kalau pria ini memukul ku. Karena aku tidak yakin kalau Kaviar akan keluar dengan selamat dari istana ini."
Erkan menegakkan tubuhnya, satu tangannya mengusap lelehan darah pelipisnya. Ternyata Kaviar berhasil membuat lukanya kembali terbuka, padahal luka itu belum pulih sepenuhnya.
"Harusnya kau bertanya dulu, kenapa aku sampai menghajar putra mu yang tidak tahu malu itu!"
__ADS_1
Erkan melangkah maju, darah di pelipisnya semakin menetes namun dia mengabaikannya. Tatapan tajam Erkan begitu mengintimidasi, Hisham bahkan reflek mundur namun tidak dengan Kaviar. Kaviar menatap ponggah pada Erkan, dia tidak akan terintimidasi sedikit pun.
"Karena kalah dalam balapan, kau berbuat curang dengan cara melukai rival mu hingga sekarat!" cecarnya.
"Kau hanya pecundang, tidak memiliki kemampuan apa pun selain melukai rival mu yang berhasil mengalahkan mu di arena balap. Kau tidak lebih dari pangeran tidak bergu-,"
BUGH!
Satu buah heels tajam menimpa dahi Kaviar. Bahkan ujung heels tajam berbahan kristal itu berhasil melukainya hingga berdarah.
"TUTUP MULUT MU SIALAN! BERANI SEKALI KAU MELUKAI PUTRA KU DAN MERENDAHKANNYA!" raung Yasmine dengan wajah merah padamnya.
Bahkan Elvier yang sedari tadi menahannya sedikit kewalahan. Elvier sudah menduga kalau Yasmine tidak akan tinggal diam- dia sudah tahu bagaimana sikap istrinya.
Beberapa pukulan Yasmine layangkan, emosinya tidak terkendali saat melihat Erkan di lukai dan direndahkan di depan matanya sendiri.
"Mine!"
Elvier meraih tubuh istrinya dengan sekali angkat. Bahkan Erkan terlihat menghela napas kasar, kala melihat Sang Mommy memukuli Kaviar dengan membabi buta. Yasmine tidak peduli dengan status permaisuri yang dia sandang saat ini.
"KAVIAR SIALAN! SINI LO!" raungnya.
Kaviar hanya menatap tak berkedip pada wanita yang pernah mengisi hatinya, luka di wajah nya terlihat tidak terlalu penting untuknya. Saat ini wajah wanita yang bertahun tahun tidak dapat dia lihat secara dekat- akhirnya kembali dia tatapan.
"Hallo Princess Yasmine, apa kabar?"
__ADS_1
Rontaan Yasmine terhenti, kedua matanya membola saat mendengar sapaan Kaviar yang terdengar tenang.
Dasar gila!
Kedua netra Yasmine mengarah pada Elvier, Sang Permaisuri segera mendekap erat lengan suaminya saat melihat raut wajah tidak bersahabat yang Elvier tunjukan.
"Kau semakin cantik, di usia matang. Aku jadi kembali menyukaimu My Prin-,"
"Sialan!"
BUGH!
Yasmine menutup kedua mata, saat Elvier berhasil melepaskan dekapannya- berjalan cepat menuju Kaviar untuk memberikan satu atau dua pukulan telak di wajah rivalnya.
Erkan yang sudah muak, memilih melenggang pergi. Dia ingin segera menemui gadisnya, dan mengadu serta bermanja pada Sheena nya.
Erkan membiarkan Elvier menyelesaikan semuanya, bahkan mungkin pukulan yang Kaviar berikan tidak sebanding dengan luka yang di berikan Yasmine dan Elvier.
**BANG EL AMPE KEPANASAN 😆😆
SEE YOU TOMORROW
BABAYYY MUUUAAACCCHHH😘😘😘**
__ADS_1