Ratu Tersembunyi Sang Lord

Ratu Tersembunyi Sang Lord
Merayu


__ADS_3

Erkan melirik ragu pada Sheena. Selepas kejadian tadi, keduanya masih terdiam- tidak ada satu pun yang membuka suara.


Sheena sibuk memakan salad buahnya, sedangkan Erkan sibuk memperhatikan istrinya. Kedua tangannya mengepal- menahan diri agar dia tidak menghamburkan tubuhnya pada Sheena.


Memeluk tubuh yang terbalut kaos hitam itu lalu memberikan banyak kecupan di seluruh permukaan wajahnya. Namun semuanya hanya angan, Erkan menghela napas pelan- kemudian menyuapkan salad ke dalam mulutnya.


Namun tidak lama pandangannya teralih, salah satu sudut matanya melirik ponsel yang tidak jauh darinya. Dahi Erkan berkerut, saat melihat sebuah pesan dari nomor asing.


Dengan ragu Erkan meraih benda itu, namun tatapannya terus tertuju pada Sheena.


šŸ“©Unknown Number[My Lord, Putra Mahkota Abraham menantang anda balapan. Di terima atau tidak?!]


Erkan berdecak dalam hati, dia belum tahu harus menjawab apa. Kalau Sang Lord menerima tantangan itu, artinya dia harus meninggalkan Sheena yang masih mendiamkannya. Tapi kalau dirinya menolak, pangeran sialan itu pasti menganggapnya pecundang.


šŸ“©Unknown Number[Dia mengatakan kau pecundang, kalau sampai menolak. Sorry My Lord, itu katanya bukan kata ku dan satu lagi- dia menawarkan taruhan menarik]


Erkan mengusap kepalanya kasar, sudut matanya melirik Sheena yang masih mengabaikannya. Erkan memejamkan kedua matanya, perlahan dia menggeser kursi yang dia duduki- merapatkan dirinya pada Sang Princess.


"Sunshine?" panggilnya lembut.


Bahkan Erkan sudah mengarahkan jari jemari nakalnya, menyusuri lengan bagian bawah Sheena yang terbuka. Pria bertato itu sesekali mencium bahu Sheena, menatap Sang Princess lembut dan penuh puja. Erkan terlihat menyesal karena sudah membuat mataharinya meredup. Sang Lord yakin, ucapannya beberapa saat lalu di tangkap salah oleh istrinya.

__ADS_1


Sungguh, Erkan sama sekali tidak akan menolak Sheena.Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk mereka bercinta, apa lagi kalau sampai Sheena hamil di usianya yang masih terlalu muda.


Alat kontrasepsi?


Tidak! Erkan tidak akan menggunakan apa pun. Erkan ingin memiliki duplikatnya bersama Sheena, hanya bersama ratunya.


"I'm sorry," bisiknya.


Erkan mendekap tubuh Sheena dari samping, menenggelamkan wajahnya di bahu sang istri. Memberikan banyak kecupan sebagai permohonan maaf.


"Rasanya tidak enak. Aku merasa gadis mur-,"


Bahkan Sang Lord tidak henti hentinya memberikan kecupan di pundak serta bahu Sheena. Sesekali Erkan juga mengecup pelipis Sang Princess tanpa melepaskan dekapannya.


"Aku tahu," ujar Sheena pelan.


Sang Princess kembali menyuapkan saladnya, masih mengabaikan Erkan yang berwajah masam. Bahkan Sheena membiarkan Erkan berbuat sesukanya. Sang Princess menahan napas, kala merasakan usapan di perutnya.


"Aku menginginkan mereka hadir di sini,"


Helaan napas Sheena kembali terdengar, Sang Princess hanya mengangguk pelan- dia menepuk kepala suaminya pelan. Mengusap rambut tebal Erkan lembut, dan sedikit mengacaknya gemas.

__ADS_1


"Tapi tidak untuk sekarang. Aku masih ingin di sayang oleh mu tanpa terbagi. Oh Sunshine, jangan mendiamkan aku seperti ini! diam mu membuatku mati perlahan!"


Erkan berucap sedikit keras dan dramatis. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya saat Sheena tidak kunjung membuka suara lagi.


"Sunshine?" rengeknya.


Sudut bibir Sheena berkedut, Sang Princess mati matian menahan bibirnya agar tidak tersenyum apa lagi tertawa.


"Ayolah Sayang, apa kita harus melakukannya sekarang. Baiklah ayo kita bercinta di sini hingga besok pagi, aku tidak akan mengakhirinya sampai kau menjerit meminta ampun!"


Kedua mata Sheena membulat, Sang Princess menoleh- dan menatap sinis pada Erkan yang tengah tersenyum penuh kemenangan.


"Ish! kau menyebalkan!" rutuk Sheena, namun tak urung dia akhirnya mengembangkan senyumannya.



**CUEKIN AJA TSAAAAYYYY


SEE YOU TOMORROW


MUUAAAACCHH😘😘**

__ADS_1


__ADS_2