
"Denyut nadi pasien semakin lemah, Dok!"
Seruan panik seorang perawat wanita membuat sang dokter menoleh. Dokter wanita itu mendekat, berusaha bersikap tenang di saat rasa panik melanda.
Dengan hati hati sang dokter menekan nadi di lengan pasiennya. Perawatnya benar, denyut nadi pasien berjenis kelamin pria ini semakin melemah.
Kepanikan tidak hanya terlihat di ruang periksa, namun juga di luar. Seorang wanita setengah baya tengah menangis histeris didalam dekapan suaminya, saat melihat nyawa putra di ujung tanduk. Walaupun dia bukan ibu yang melahirkannya, namun sang wanita sudah terikat dalam dengan putra angkatnya.
"Tolong selamatkan putra kita, apa pun yang terjadi. Bila perlu kita bawa Kezi keluar negeri, aku tidak mau kehilangannya Kav!"
Tangisannya kembali pecah, sang suami berusaha menenangkannya. Mereka berdua saling menguatkan, terlihat tidak peduli dengan keadaan sekitar.
Keduanya bahkan tidak mengetahui, kalau saat ini ada seorang gadis tengah tersenyum samar- kedua matanya menatap dalam pada pria yang tengah melawan kematian didalam sana.
Raut wajahnya sendu, namun bibirnya menyunggingkan senyum tipis- sangat tipis tapi mengandung banyak arti.
"Kita akan membawa Kezi, kau tenanglah!"
Sang gadis menoleh, dia terdiam sejenak- sebelum kedua kakinya mendekat untuk mengikis jarak dengan kedua mertuanya.
"Aku tidak tahu kenapa suami ku collaps. Padahal sedari tadi Kezier baik baik saja, aku hanya meninggalkannya ke kamar mandi," ujarnya lirih.
Sang gadis menunduk, raut wajahnya begitu sedih. Sudut matanya melirik pada pintu kaca, disana dia dapat melihat para tim medis tengah bersusah payah mempertahankan nyawa suaminya.
__ADS_1
Bahkan dokter terlihat sudah memakai alat kejut jantung pada suaminya, yang menandakan kalau Kezier semakin dekat dengan lubang pemakamannya.
"Sudahlah, yang terpenting saat ini- tim medis bisa melakukan tugasnya dengan baik. Doakan putra ku agar dia bisa melewati masa kritisnya!"
Wanita yang ada didalam dekapan pria itu tidak menyahut, sang wanita malah semakin terisak. Sedangkan gadis berambut pendek- bergaun hitam polos selutut itu hanya mengulas senyum tipis terkesan sedih. Padahal dalam hatinya siapa tahu, entah itu raut wajah aslinya atau hanya fake face.
🍒 RTSL 🍒
"Daddy dengar, Putra Mahkota Abraham masih terbujur kaku di rumah sakit,"
Elvier menatap sang putra dengan intens, entah apa yang sudah Erkan lakukan pada Kezier- hingga membuat pria muda itu sekarat. Apakah hanya karena adu jotos, putra dari sang rival diambang kematian?
Sepertinya tidak! apa mungkin pria muda itu begitu lemah. Bukankah setahunya, Kezier bertubuh lebih besar dari Sang Putra. Harusnya dalam porsi ukuran keduanya seimbang, atau mungkin sama babak belurnya.
Elvier mengernyitkan dahi, Sang Tuan Albarack hanya mengangguk pelan. Dia paham apa yang tengah Erkan rasakan, mungkin dirinya juga tidak akan diam saat mendengar orang lain merendahkan Yasmine, tepat di depan wajahnya.
"Apa kau memukulnya dengan sesuatu? atau melakukan hal yang membuat pria muda itu diambang kematian?" Elvier menjeda, pria bertato di lengan serta paha itu mendekat pada putranya.
"Kau tidak menusuknya secara diam diam kan?"
Erkan memutar bola matanya, Sang Lord mengalihkan pandangannya kearah lain. Bibirnya terdengar berdecak, menandakan kalau dirinya tidak suka dengan ucapan Sang Daddy.
"Aku bukan pengecut, Dad! kalau aku mau, aku bisa saja menabrak pria sialan itu hingga tewas di tempat!" tutur Erkan datar, dan terdengar tidak terima.
__ADS_1
Elvier mengangguk kembali, pria setengah baya itu menepuk pundak Erkan cukup keras, sebelum dirinya bangkit dan melenggang pergi.
"Harusnya kau tabrak saja, agar lebih mudah," ujar Elvier ringan.
Kedua mata Erkan membola, dia tidak menyangka kalau Daddy nya akan berbicara seringan itu.
Dasar gila!
**PINGIN KU TARIK TUH JUBAH MANDINYA 😫😫😫
HOLLA MET MALAM EPRIBADEH
SELAMAT MERAYAKAN IDUL ADHA
MINALAIZDHIN WALFAIZDIN
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAN NONTON IKLAN DAN FAVORITNYA
AYO UP DATE VERSI TERBARU NOVELTOONNYA
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH**
__ADS_1