
Sheena menghela napas pelan, jari jemarinya menggenggam erat telapak tangan kekasihnya. Suara riuh para tamu undangan di pesta ini sudah terdengar di kedua telinga sensitif Sheena- membuat Sang Princess semakin merapatkan tubuhnya pada Erkan.
Melingkarkan kedua tangannya di lengan kekar kekasihnya, membiarkan Erkan membimbing langkah merabanya agar tidak salah.
Bahkan Erkan sesekali memberikan kecupan ringan di pucuk kepala Sheena, juga jari jemari Sheena yang saat ini sudah melingkar indah di lengan atasnya.
"Apa Mommy dan Daddy juga ikut?" tanya Sheena pelan, saat merasakan langkah Erkan memelan.
"Hm, mereka sudah menuju tempat ini tiga puluh menit sebelum kita berangkat,"
Sheena mengangguk pelan, dia menghela napas lega- setidaknya kalau nanti dia bertemu dengan calon mertuanya, Sheena ada teman untuk berbicara.
"Liara?" tanyanya lagi.
Kali ini Erkan menoleh, senyuman tipis bahkan sudah terbit di bibirnya. Tanpa canggung, Sang Lord memberikan satu kecupan di dahi Sheena- saat gadis itu mendongak.
"Dia juga ikut," sahut Erkan pelan, dan tiga kata itu mengakhiri obrolan keduanya- karena area pesta sudah didepan mata.
π
π
π
Suara riuh para tamu undangan di ballroom, membuat kedua telinga Sheena sedikit berdengung. Suasana ramai ini sangat mengganggu indera pendengarnya yang sangat sensitif.
"Apa kau mau minum?" tawar Erkan, tanpa mengalihkan pandangannya kedepan.
Kedua mata tajam Sang Lord terlihat begitu mengintimidasi. Erkan menatap tidak suka pada setiap pria mata keranjang, yang secara terang terangan mengagumi wajah gadisnya yang ada di balik topeng.
__ADS_1
Saat Sheena memakai topeng pun, masih banyak mata genit menatap ke arah kekasihnya.
"Sialan!" umpatnya pelan, tapi masih terdengar oleh Sheena.
"Kau kenapa?" tanya polos Sang Princess.
Sheena tahu kalau Erkan tadi mengumpat kasar, yang dia tidak tahu- kenapa Sang Lord sampai mengumpat begitu. Apa ada hal yang membuat Erkan emosi? atau karena hal lain?
"Tadi ada orang yang menginjak sepatuku, Sayang. Tapi tidak apa apa, aku sudah memaafkannya," kilah Erkan.
Sheena yang tadinya sedikit terkejut, kini hanya bisa mengangguk polos. Senyuman di bibirnya tidak luntur sedikit pun, membuat Erkan menjadi gemas sendiri.
"Ayo kita mengambil minum untuk mu," ajak Erkan, tanpa menunggu persetujuan dari kekasihnya.
Kedua sejoli itu mengabaikan tatapan orang orang ke arah mereka, lebih tepatnya Erkan yang terlihat mengabaikan- karena Sheena tidak akan menyadari kalau sedari tadi banyak mata yang mengarah padanya, membuat Sang Lord keki sendiri.
"Minum lah, kau pasti haus?"
Erkan benar benar tidak membiarkan Sheena menjauh. Selain untuk memperlihatkan kalau gadis ini miliknya, Erkan juga menegaskan kalau dia tidak butuh tatapan memuja para gadis single dan pasangan orang ke padanya.
"Hai, anda Pangeran Erkan?"
Erkan yang tengah menikmati minuman dari gelas yang sama dengan Sheena menoleh, sementara Sang Princess malah menyembunyikan diri di balik tubuh besar kekasihnya.
Erkan menaikan sebelah alis, melihat pria bertopeng yang ada di hadapannya.
Sialan! sudah memakai topeng saja identitasnya masih dikenali. Sebenarnya apa yang membuat orang ini sampai mengenalinya.
"Kau siapa?" tanya Erkan tak acuh.
__ADS_1
Sang Lord kembali menyesap minumannya dengan santai, satu tangannya mengusap lembut punggung halus Sheena yang terbalut kain sutera halus. Erkan menggulirkan pandangannya kesetiap penjuru, mengabaikan pria bertopeng yang ada di hadapannya.
"Aku Kezier, rival mu saat di balapan beberapa waktu yang lalu,"
Ucapan pria itu berhasil membuat atensi Erkan mengarah padanya. Tatapan mereka bertemu, bukan tatapan persahabatan- melainkan tatapan tajam penuh permusuhah.
"Oh," sahut Erkan tidak berminat.
Sang Lord kembali mengabaikan Kezier, Erkan mendekap Sheena yang terlihat sudah melingkarkan kedua tangannya di tubuhnya. Sedangkan Kezier, pria bertubuh tinggi itu mengepalkan satu tangannya, saat Erkan dengan sengaja mengabaikannya.
Padahal Kezier berniat hati untuk menjalin hubungan baik, dengan pewaris tahta kebangsawanan Albarackp ini. Bukannya akan sangat menguntungkan kalau dia memiliki sekutu seperti Lord Erkan, walaupun sebenarnya Kezier tidak setulus yang orang bayangkan.
Akan ada timbal balik, saat dia menawarkan pertemanan pada seseorang. Kalau ada keuntungan di balik hubungan itu, Kezier akan senang hati mengejarnya. Sama seperti yang tengah dia lakukan saat ini, mendekati Lord Erkan demi keuntungan semata.
"Apa bisa kita berteman baik? aku ingn menjalin pertemanan dengan mu, Lord Erkan. Kita bisa bekerjasama di berbagai bidang- balap liar contohnya."
Erkan menoleh, tatapan datarnya menusuk setiap jaringan tubuh Kezier. Erkan tidak suka saat pria yang pernah menjadi rivalnya ini besar mulut. Erkan menghela napas pelan, dia berusaha menetralkan emosi yang mulai menguasainya.
Bahkan Sheena, Sang Princess tidak bersuara sedikit pun- Sheena sengaja tidak mengeluarkan suara untuk mengantisipasi orang orang yang mengenalinya. Karena suara dia mirip dengan-,
"Kezier kau meninggalkan ku? pria macam apa kau ini, meninggalkan Tuan Putri Alfuttain begitu saja!"
Tubuh Sheena menegang, saat mendengar suara seorang wanita yang sangat dia kenal.
'Sheera,' gumamnya dalam hati.
Sheena semakin memeluk erat tubuh Erkan, dia berusaha untuk tidak mencolok di mata gadis muda yang sedang mendekat ke arah mereka. Sedangkan Erkan, pria berjas maroon itu membalas dekapan Sheena, untuk sekedar menenangkan gadisnya- kalau semuanya akan baik baik saja.
"Tenanglah, percayakan semuanya pada calon suami mu, Sunshine," bisik Erkan.
__ADS_1
SEGERIN DULU AHHHH