
Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa kandungan Sheena sudah berusia 9 bulan. Selama hamil tua, Lord Erkan sama sekali tidak mengizinkan Sheena keluar dari istana Albarack- termasuk menemui Permaisuri Alfuttain dan Hisham yang masih dirawat di rumah sakit jiwa.
Tapi Erkan memberikan kebebasan pada istrinya untuk bertukar kabar bersama ibu mertuanya dan dokter yang menangani Hisham.
Seperti saat ini, Sheena hanya bisa berbaring nyaman. Tubuhnya di kuasai Erkan, Sang Lord memonopoli Sheena setiap hari saat dirinya tidak bekerja. Erkan akan mengurung Sang Princess di dalam kamar tanpa mengizinkan seorang pun masuk.
Erkan tidak melakukan apa pun, pria itu hanya memeluk Sheena, menciumi perut buncitnya, lalu bermanja manja dengan Sang Princess. Sepertinya Erkan ingin memanfaatkan waktu berduaan-nya, sebelum waktu Sheena terbagi untuk anak mereka kelak.
"Kau tidak lapar, hm? aku lihat kau tidak memakan makan siang mu dengan baik, Sunshine. Mommy sudah membuatkan makanan Indonesia untukmu, bukankah kau menyukainya?" Erkan bergumam, suaranya sedikit pelan karena saat ini Sang Lord tengah menenggelamkan wajahnya di perut buncit Sheena.
Sheena sampai terkikik geli, saat Erkan memberikan banyak ciuman kecil di perutnya. Bahkan tanpa segan Sang Lord mengangkat gaun yang dia pakai, demi bisa melihat sesuatu di baliknya.
"Aku sudah memakannya tadi. Kau saja yang tidak melihatnya, aku memakannya bersama Mommy dan Bibi Jumma. Rasanya enak, aku suka- lain kali aku ingin mencicipinya langsung dari negara asalnya."
Erkan menghentikan ciumannya, pria itu keluar dari balik gaun Sheena, kedua matanya menatap dalam pada wanita yang sebentar lagi akan memberinya seorang putri.
"Kau ingin ke Indonesia?" tanya Erkan berbinar.
Sheena mengangguk, sebenarnya dari dulu dia ingin sekali mengunjungi negara itu- tapi Erkan belum mengajaknya. Terlebih lagi saat pesta pernikahan mereka, keluarga ibu mertuanya tidak dapat hadir semua. Hanya Gentala, Tiur, Barata sekeluarga, Galaska dan Crystal. Sementara yang lain tidak sempat hadir karena keadaan, bahkan Opa Damar dan Oma Anin tidak bisa ikut- karena kondisi kesehatan mereka.
__ADS_1
Dan sekarang Sheena yang berencana ingin menjenguk mereka di Indonesia. Semoga persalinannya lancar dan baby nya sehat- agar mereka bisa secepatnya berkunjung ke Indonesia.
"Aku ingin ke Indonesia? apa kau akan mengabulkannya?"
Sheena menatap penuh harap pada Erkan, kedua matanya berbinar cerah menatap Erkan dalam dan lekat.
"Of course! kita akan ke Indonesia setelah dia lahir dan bisa kita bawa tanpa resiko."
Sheena mengembangkan senyumnya, wanita itu melingkarkan kedua tangannya di leher Erkan- bahkan Sheena memberikan kecupan di pipi suaminya tanpa ragu.
"Terimakasih, aku yakin kalau dia akan- aaww!"
"Kau kenapa? perut mu sakit? apa aku terlalu keras menciumnya tadi?" Erkan terlihat panik, pria bertato itu menegakan tubuhnya- kedua tangannya dia letakan di perut Sheena.
"Tidak, tapi rasanya tidak nyaman. Pinggangku semakin pegal, walaupun tidak sepegal tadi pagi,"
Sheena mencoba menggeser tubuhnya, mencari posisi yang menurutnya nyaman. Namun sepertinya sama saja, rasanya tidak ada yang berubah- malah semakin parah.
"Tadi pagi katamu? astaga kenapa kau tidak bilang padaku!" Erkan menaikan intonasi suaranya, dia tidak sadar karena terlalu panik.
__ADS_1
Erkan semakin panik saat melihat wajah memerah Sheena dan ringisan kecil yang keluar dari mulut Sang Princess.
"Maaf, tapi bisakah sekarang kau panggilkan Mommy. Walaupun aku tidak yakin, tapi sepertinya bayi kita akan segera lahir," ringis Sheena.
Sheena menatap sayu pada Erkan, suaminya masih terdiam- sepertinya Sang Lord masih mencerna ucapannya.
"Akara panggilkan Mommy!" seru Sheena kencang, dan sepertinya kali ini berhasil membuat Erkan tersadar.
"ASTAGA KAU AKAN MELAHIRKAN SAYANG, MOMMMYYY!"
**PANIK GAK PANIK GAK PANIK GAK
HOLLA MET MALAM EPRIBADEH
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHHšš**
__ADS_1