Ratu Tersembunyi Sang Lord

Ratu Tersembunyi Sang Lord
Duka


__ADS_3

Sheena memeluk tubuh Erkan erat, kedua matanya menatap nanar pada pintu ruang operasi. Tepat hari ini Sheera menjalani operasi wajah. Sang Putri Mahkota sempat takut, namun Sheena meyakinkan saudarinya kalau semua akan baik baik saja.


Sekarang sudah hampir 1 jam lamanya Sheera menjali operasi bedah plastik. Selama hampir 1 jam pula Sheena dan Erkan berada di depan pintu operasi, di temani oleh Sang Permaisuri dan Tuan Alfuttain- yang tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


Sheena memeluk Erkan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Sang Suami. Sesekali memberikan kecupan kecil di area itu, karena Sheena tahu kalau Erkan pasti tidak nyaman.


"Kau mengantuk, hm?"


Sheena mendongak, kedua sudut bibirnya terangkat- membentuk senyuman tipis yang sangat indah di mata Erkan. Sang Princess menggeleng, Sheena kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher suaminya.


Mengabaikan tatapan sendu Sang Permaisuri yang terarah padanya. Sheena dapat melihat kedua netra ibu nya memerah, tapi dia tidak tahu kenapa Sang Permaisuri terlihat ingin menangis.


Mungkin wanita yang sudah melahirkannya namun tidak merawatnya itu, tengah memikirkan Sheera yang ada didalam ruang operasi.


"Akara?" bisik Sheena.


Sang Princess semakin mengeratkan dekapannya, bahkan saat ini dia terlihat seperti anak kecil yang tengah  berada didalam gendongan Ayahnya.


"Kau lapar, Sunshine?" Erkan hanya menebaknya.


Sang Lord takut kalau Sheena kelaparan, karena sedari tadi istrinya hanya memakan roti dan buah yang dia berikan. Sheena terlihat tidak bersemangat, padahal biasanya saat Erkan membawakan makanan berat untuk Sang Princess- Sheena akan menghabiskannya dengan lahap.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya takut kalau Sheera-,"


"Ssttt- tidak akan terjadi apa apa. Berdoa saja, semoga operasinya berjalan sukses,"


Sheena mengatupkan bibir, wanita itu mengangguk tanpa melihat suaminya. Sheena memejamkan kedua matanya perlahan, saat merasakan Erkan mengusap lembut pucuk kepala dan punggungnya.


Namun suara pintu terbuka membuat kedua matanya yang terpejam, seketika ikut terbuka. Sheena menoleh, lalu menegakan tubuhnya saat melihat seorang dokter dengan pakaian lengkap khas ruang operasi keluar.  Sheena bangkit, Sang Princess segera menghampiri dokter yang menangani adik kembarnya. Begitu pun dengan Sang Permaisuri dan Tuan Alfuttain, yang sedari tadi terdiam.


"Bagaimana operasinya, Dok?"


Dengan tidak sabaran Sheena segera mencecar Sang Dokter. Kedua mata Sheena menatap penuh harap, bahkan saat Erkan meraih jari jemarinya lalu menggenggamnya erat- Sheena masih belum menyadarinya.


Kedua mata Sheena berbinar, senyum haru dan penuh rasa syukurnya terbit. Kedua matanya berkaca kaca saat mendengarnya, tapi-


"Tapi maaf, pasien tidak sekuat yang kita kira. Putri Sheera menghembuskan napas terakhir, saat tim medis selesai melakukan tugasnya. Saya minta maaf, karena ini di luar kuasa saya sebagai dokter,"


Tubuh Sheena menegang, senyum di bibirnya luntur. Kedua kakinya lunglai, napasnya tercekat- bahkan lidahnya kelu. Sheena tidak dapat bergerak, bahkan tubuhnya hampir saja menimpa lantai, kalau saja Erkan tidak sigap meraihnya.


"Mendiang menitipkan sesuatu untuk saudari kembarnya. Semoga kalian bisa mengikhlaskan kepergiannya, jenazah Putri Sheera akan kami ba-,"


Bugh!

__ADS_1


"DIAM KAU BRENGSEK! PUTRI KU TIDAK AKAN PERGI KEMANA PUN!"


Ucapan sang dokter terputus, saat Tuan Alfuttain tiba tiba menghadiahi wajahnya dengan bogeman mentah. Dokter itu tersungkur ke lantai, hidungnya berdarah akibat pukulan yang di layangkan Hisham Alfuttain.


Jeritan Sang Permaisuri tidak dapat menghentikan Hisham. Pria tua itu terlihat seperti orang tidak waras, mengamuk, bahkan membanting kursi tunggu- membuat Sang Permaisuri semakin histeris.


Tubuh wanita setengah baya itu luruh, hatinya hancur saat dia harus kehilangan salah satu putrinya- tidak bukan satu, tapi keduanya. Karena Sheena pun terlihat tidak sudi lagi untuk menatapnya. Sang Permaisuri menangis dalam luka, membekap mulutnya agar tidak sampai keluar.


Sementara Sheena, Sang Princess mematung- air matanya mengalir namun tak bersuara. Satu tangannya menggenggam erat benda yang di berikan dokter tadi. Erkan bahkan hanya bisa menghela napas kasar, saat melihat Sheena begitu terpukul.


Sedangkan Hisham, pria tua itu mengamuk sembari berlari keluar dari rumah sakit, berlari seperti orang kesetanan.



**ADUH ADUH DUH MANA TAHAN


HOLLA MET SORE EPRIBADEH


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA


SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHHH😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2