
Sheera meringis sendiri melihat kondisi Ayah mertuanya. Pria Abraham itu terlihat pasrah dan tak berdaya, kala seorang perawat mengobati luka di wajahnya.
"Aku sudah memperingatkan kalian, tapi Ayah dan Ayah mertua tidak mendengarkan ku. Bukankah kalian berdua sudah melihat bagaimana kondisi Kezier? dia sekarat, dan kalian berdua ingin bernasib sepertinya,"
Sheera menggelengkan kepala pelan. Kedua pria setengah baya itu tidak mau mendengarkan- mereka berdua memilih egois dan berkepala batu.
"Apa yang harus kita lakukan setelah ini, besan?" Hisham mengabaikan ucapan putrinya.
Amarah dan dendam di hatinya masih mendominasi. Hisham masih tidak menerima saat Albarack mempermalukannya.
"Ayah! tidak kau lihat keadaan Ayah mertua saat ini? apa kau ingin bernasib sepertinya juga?!" Sheera tidak habis pikir dengan Ayahnya itu. Kenapa Hisham begitu keras kepala dan ngotot, bukannya pria tua itu sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keganasan keluarga Albarack.
Albarack bahkan tidak peduli kalau lawannya mati di tempat, selama lawannya mengusik Albarack tidak akan diam.
'Dasar para tua keras kepala!' geram Sheera dalam hati.
"Diam Sheera! kau jangan ikut campur. Ini adalah urusan Ayah dan keluarga sialan itu, kau cukup diam dan rawat suami mu dengan baik. Aku tidak akan pernah menerima perlakukan Albarack, mereka sudah menghina dan merendahkan kita semua!" Hisham menaikan nada suaranya. Bahkan pria Alfuttain itu mengepalkan kedua tangannya- amarah didalam hatinya kembali berkobar kala mengingat kejadian yang menimpanya beberapa saat tadi di istana Albarack.
"Terserah, aku sudah mengingatkan Ayah. Aku hanya ingin mengatakan, jangan sampai menyesal!" tukas Sheera tajam.
🍒RTSL🍒
Matahari mulai pulang ke peraduannya. Sepasang sejoli yang masih bergelung mesra di balik selimut tebal, tidak terusik sama sekali. Kedua mata mereka enggan terbuka, udara dingin yang berhembus didalam kamar semakin membuat tubuh mereka semakin merapat.
__ADS_1
Lenguhan kecil keluar dari bibir Sang Princess. Tubuhnya terasa pegal, namun kedua matanya enggan terbuka. Rasa lelah dan letih menghantam seluruh persendiannya, Sang Princess bahkan sama sekali tidak bisa menggerakkan tangannya- untuk menyingkirkan lengan besar yang membelit tubuh polosnya.
"Akara,"
Suara lirih Sang Princess terdengar, mengusik Erkan yang semakin merapatkan tubuh polosnya pada Sheena.
"Diam di tempat mu Sunshine. Aku tidak bisa berjanji bisa menahannya," suara serak Sang Lord membuat bulu kuduk Sheena meremang.
Apa lagi gesekan kulit mereka yang tanpa jarak, Sheena di buat semakin merinding dan panas dingin.
"Ini sudah malam. Kita harus bangun, Mommy pasti mencari kita, Akara,"
Sheena memejamkan kedua matanya kembali, saat merasakan kecupan basah serta menggoda di bahu telanjangnya. Tangan Sheena mencengkram erat lengan suaminya, saat kecupan Erkan semakin merambat jauh- semakin kebawah hingga mencapai belahan dadanya.
"Akara?" lenguhnya.
"A-aku,"
"Apa hm? boleh?"
Sheena mengigit bibir bawahnya, gelayar aneh mulai merambat keseluruh saraf dan aliran darahnya. Sheena mendongak, kala ujung lidah Erkan yang kasar menyapu permukaan kulit perutnya.
"Sunshine?" suara serak Sang Lord membuat Sheena menggeleng.
__ADS_1
"A-aku, aku meng-,"
Tok
Tok
Tok
"KAKAK! MOMMY MINTA KAKAK IPAR TURUN! MAKAN MALAM SUDAH SIAP!"
Suara teriakan Liara berhasil menghentikan keduanya. Sheena dan Erkan saling tatap, wajah keduanya merona- bahkan Sheena memalingkan tatapannya ke arah lain.
"Eemm-,"
"Kita makan malam dulu, setelah itu kita lanjutkan lagi. Ayo, aku akan memandikan mu, Sunshine."
Sheena terkesiap, belum sempat mulutnya memprotes- Erkan terlebih dahulu meraih tubuh telanjangnya. Menggendongnya tanpa beban, berjalan pelan menuju kamar mandi tanpa mengalihkan pandangan dari tubuh indah Sang Princess.
**AAIIHH BANG, AKU NYUT NYUTAN LIHATNYA
HOLLA MET SIANG EPRIBADEH
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH NONTON IKLAN DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH😘😘😘**