
Senyuman di bibir Erkan semakin lebar, kedua matanya menatap berbinar- bahkan tanpa sungkan Sang Lord memberikan banyak kecupan pada kertas yang ada ditangannya.
Kertas yang sudah Hisham Alfuttain tanda tangani secara suka rela. Tanpa beban dan paksaan, bahkan Erkan menyuruh Hisham untuk membacanya terlebih dahulu- tapi ternyata dengan mudahnya Hisham Alfuttain percaya.
Erkan tidak salah kan?
Dia tidak salah sama sekali, karena dirinya sudah mewanti wanti Hisham untuk teliti.
"Maaf Ayah mertua, aku terpaksa membuat berkas ini. Karena aku ingin memiliki putri yang sama sekali tidak kau anggap, dengan cepat. Dengan surat penyerahan hak wali mu pada pemuka agama, aku bisa menikahi Sheena kapan saja dan dimana saja."
Erkan kembali memberikan kecupan di kertas yang dia pegang, bahkan dengan nyaman Lord Erkan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi. Kedua mata tajam Sang Lord terpejam, sementara bibirnya terus tertarik keatas membentuk senyuman manis.
"Aku pulang sayang," gumamnya.
🍒🍒🍒
Erkan bersiul kecil, kedua kakinya melangkah cepat menuju rumah sederhana yang menjadi tempat dirinya menyembunyikan Sang Ratu. Kedua mata Erkan berbinar cerah saat melihat beberapa angsa liar mendekat ke arah dermaga.
Bahkan ada beberapa diantara angsa putih itu naik ke daratan. Kepakan sayap angsa angsa itu menimbulkan bunyi berisik, membuat gadis bergaun violet selutut yang tengah berjalan meraba ke arah dermaga, tersenyum tipis.
Langkah pelan dan merabanya, tidak mampu mengusik para angsa. Hewan berbulu cantik itu masih terlihat tenang, bahkan saat Sheena semakin mengikis jarak pada mereka.
__ADS_1
Perlahan Sheena mendudukkan diri di lantai kayu yang tengah di tempati oleh para angsa. Kedua tungkainya menjuntai, sesekali memainkan jari jemari cantiknya di atas air.
Suara riuh suara burung dan beberapa angsa liar- membuat Sheena memejamkan kedua matanya nyaman. Hembusan angin ikut memberikan ketenangan pada Sang Princess, membuat gadis bergaun violet selutut itu sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang dari arah belakang tubuhnya.
"Ekhem! selamat sore Princess,"
Sheena membuka kedua matanya, saat merasakan kehadiran seseorang yang sangat dia kenal- walau hanya mendengar suaranya.
"Kau sudah pulang?" tanya Sheena.
Gadis itu menoleh pada Erkan yang dia yakini tengah berada di sisi kirinya. Gadis itu mengulas senyuman tipis, namun terlihat begitu memikat di kedua mata Erkan.
Erkan menatap Sheena begitu dalam, kedua mata Sang Lord sampai tidak berkedip- saat melihat wajah berseri gadisnya. Apa lagi saat Erkan melihat Sheena menggeleng pelan, sembari mengulum senyum. Ingin rasanya Erkan merengkuh tubuh yang terlihat begitu pas di dekapannya, lalu memberikan banyak kecupan sayang di seluruh wajah Sang Princess.
"Mereka tidak akan menyakiti ku, kalau aku tidak mengganggu," senyuman Sheena terus saja mengembang, kedua netra sebiru lautan itu kembali menatap kosong ke arah danau.
"Berbeda dengan manusia. Biarpun aku tidak pernah menyakiti mereka, tapi mereka pasti akan selalu menyakiti ku," sambungnya pilu.
Sang Princess menghela napas pelan, bahkan kedua mata Sheena kembali tertutup saat merasakan hembusan angin sore, yang membuat Sang Princess merasa nyaman. Entah kenapa, walaupun tempat tinggalnya saat ini begitu jauh dari keramaian manusia- Sheena merasa kalau di tempat ini jiwa serta raganya lebih hidup.
Sedangkan Erkan, Sang Lord masih terdiam- kedua matanya menatap tanpa berkedip pada Sheena. Tatapan lembut sarat akan arti yang Erkan layangkan, mulai menghipnotis tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Erkan perlahan mengikis jarak pada Sang Princess. Satu tangannya terulur untuk menyentuh wajah Sheena, lalu memberikan usapan lembut- membuat sang pemilik wajah kembali menegang.
"Aku berjanji, setelah ini tidak akan ada lagi yang menyakiti mu My Princess. Kau bisa memegang janji ku, kalau aku sampai mengingkarinya- Tuan Putri bisa memberikan hukuman apa pun pada ku," ujar pelan dan lembut Erkan pada Sheena.
Pria berkemeja hitam itu mengulas senyum tipis, saat melihat wajah merona gadisnya. Dengan berani, Erkan kembali mengusap wajah Sheena yang memerah- membuat gadis itu mengalihkan wajahnya.
"Jangan lakukan itu Akara. A-aku, aku takut nanti ada kesalah pahaman di antara kita. Jangan bersikap manis seperti ini, kau tidak tahu kan kalau hati seorang gadis itu lebih lembut dari permen kapas, mudah sekali meleleh," ujar Sheena, yang terdengar lirih.
"Jadi, tolong bersikap biasa saja, aku takut ini tidak baik untuk hatiku," sambungnya memohon.
NATAP NYA BIASA AJA DONG BANG, MIMISAN NIH SAYA
**HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YA
MAAF TELAT UP, SOALNYA OTHOR BANGUN KESIANGAN, EFEK NGANTER ADEK LAMARAN TADI MALAM 😴😴😴
SEE YOU NEXT PART MUUAACHH**
__ADS_1