
Langkah Erkan dan Sheena terhenti, keduanya menoleh ke asal suara. Erkan sedikit terkejut, saat melihat pria yang beberapa hari yang lalu memukul wajahnya- kini tengah berada di rumah sakit yang sama dengannya.
Erkan sempat berpikir, kenapa pria Abraham itu berada di tempat ini? tapi setelah ingatannya kembali berputar pada kejadian di area balap liar, sudut bibir Erkan terangkat- seulas senyum tipis terukir di bibirnya.
"Apa kabar Tuan Abraham? bagaimana keadaan mu sekarang? sepertinya anda baik baik saja," cetus Erkan dengan nada menyebalkan.
Kaviar Abraham terlihat tidak suka, tangannya mengepal, tatapannya menajam penuh permusuhan pada Sang Lord.
"Tunggu, aku melupakan sesuatu. Bagaimana kabar putra mu, Tuan Kaviar? apa dia sudah menyadari kesalahannya?" sinis Erkan.
Dengan santai Erkan melangkah mendekat, menggenggam erat jemari Sheena- meremasnya pelan memberitahu Sang Princess kalau semuanya akan baik baik saja.
"Kau terlalu angkuh!" desis Kaviar.
Pria Abraham itu semakin menatap tidak suka pada anak rivalnya, yang tenyata sekarang sudah menjadi rival putranya.
"Kau yang terlalu lemah. Tapi sayangnya kau tidak menyadari itu Tuan Kaviar. Kau bersikap sok kuat, padahal kenyataannya kau sama saja dengan putra sialan mu, yang sudah berani mengusik ku!" pungkas Erkan.
Rahang Sang Lord mengetat, amarahnya kembali muncul kala mengingat ucapan Kezier. Putra Mahkota Abraham memintanya menukar Sheena dengan Sheera, yang nota bene istri Kezier sendiri.
__ADS_1
Dasar gila!
Biar pun wajah keduanya serupa tidak ada beda, Erkan tidak akan pernah sudi menukar berlian mahalnya dengan keramik murahan.
"Hentikan ocehan mu itu, Pangeran Albarack!"
Entah dari mana datangnya, Hisham tiba tiba saja muncul- di ikuti oleh Sheera dan Sang Permaisuri. Di saat Hisham menatap garang dan penuh amarah pada Sheena dan Erkan, Sang Permaisuri Alfuttain justru telihat sendu. Pancaran matanya sarat akan kerinduan, namun dirinya tidak dapat berbuat apa pun.
Sementara Sheera, Sang Putri Mahkota hanya diam- menatap dalam pada kakak kembar terbuangnya.
Malang sekali? cibir Sheera dalam hati.
"Setelah kau membuat menantu dan besan ku terluka, kau masih berani menampakan batang hidung mu pada kami!" Hisham terlihat menggebu gebu, dia tidak peduli dengan situasi saat ini- bahkan presepsinya salah pun Hisham tidak peduli.
Keduanya saling menatap, Erkan terkesan tenang namun Hisham terlihat mengegebu gebu. Sang Lord menaikan sebelah alisnya, saat mendengar pria tua itu menuduhnya tanpa bukti.
"Memangnya sepenting apa kalian untuk ku, hingga aku bersusah payah mengikuti hidup manusia seperti kalian ini!" tukas Erkan tajam.
Sang Lord tidak mengerti kemana jalan pikiran Alfuttain. Apa gunanya dia melakukan itu? apa Hisham tidak menyadari tempat dimana mereka berada sekarang?
__ADS_1
Ini rumah sakit, tempat umum! kenapa pria tua itu merasa penting dengan menuduhnya menstalker kehidupan mereka.
Perbuatan tolol macam apa itu?
"Aku rasa kau perlu berobat ke psikiater. Sepertinya kejiwaan mu tidak stabil akhir akhir ini, Tuan Alfuttain. Aku khawatir kau akan gila sebelum mencapai tujuan mu!" sarkasnya.
Erkan terkekeh kecil melihat wajah merah padam Tuan Alfuttain. Dia merasa pria ambisius yang sialnya adalah Ayah mertuanya itu agak sedikit tidak waras.
Sepertinya otak Hisham Alfuttain sudah terkontaminasi toxic berbahaya. Sangat berbahaya untuk orang disekitarnya dan kesehatan mental Hisham Alfuttain.
"Lebih baik kau pergi ke dokter kejiwaan, mumpung aku masih di sini. Dengan senang hati aku akan membiayai pengobatan mu, Ayah mertua." cibir Erksn lagi, saat melihat Hisham masih terdiam sembari menahan amarahnya.
**SERET AJA BANG DI HISHAM 😂😂😂
YUUHUU JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU TOMORROW
__ADS_1
BABAYY MUUAACCHH😘😘😘**