
Kaviar meringis, luka di wajahnya membuat kepalanya sedikit berdenyut. Pria Abraham itu tidak dapat melakukan apa pun saat Elvier menghajarnya.
"Kau terlalu pencemburu, aku hanya menggodanya saja," Kaviar terkekeh pelan, sepertinya dia belum puas mendapatkan pukulan telak di wajahnya.
Elvier mengetatkan rahang, kalau saja Yasmine tidak memeluknya- mungkin Kaviar tidak akan dia lepaskan lagi. Sementara Hisham, pria itu terpaku di tempatnya- dia tidak menyangka kalau kedua besannya akan saling adu jotos.
Padahal Kaviar dan dirinya berencana ingin menyeret Erkan, dan menghukumnya di istana Abraham. Tapi ternyata, apa yang dia lihat saat ini? Kaviar justru babak belur hanya karena genit pada permaisuri Albarack.
"Lebih baik kita pergi dari sini! kau tidak ingin sekarat seperti putra mu kan?!"
Hisham mengangkat tubuh lemah Kaviar, pria Alfuttain meringis sendiri saat melihat luka di wajah Kaviar.
"Kalian tidak akan bisa keluar dari sini dengan mudah!"
Hisham mengabaikan seruan Elvier, dalam otaknya saat ini mereka berdua harus segera keluar dari kediaman Albarack. Hisham tidak ingin bernasib sama dengan Kaviar, babak belur dengan sia sia.
"KEMBALI KALIAN SIALAN!"
Elvier menatap tajam pada Hisham dan Kaviar, sorot matanya mengisyaratkan perintah pada Murad agar bergerak. Namun sepertinya Murad tengah bimbang, dia meringis melihat pelototan Yasmine.
"Biarin aja El, udah kamu tengang dulu! lihat tangan kamu berdarah, ayo aku obatin!"
Yasmine memaksa tubuh Elvier berbalik, Sang Permaisuri bersusah payah membujuk suamimya agar menurut. Kalau Yasmine membiarkan Elvier terpengaruh, dia yakin Kaviar dan Hisham tidak akan selamat keluar dari istana ini.
"MURAD, JANGAN BIARKAN SI BRENGSEK ITU KELUAR!" teriakan Elvier membuat Yasmine terpejam, namun Sang Permaisuri tetap pada pendiriannya.
Yasmine tidak ingin Elvier semakin terluka, saat Kaviar kembali memancingnya. Buaya gurun sialan itu memang tidak pernah kapok, sudah tahu suaminya itu pencemburu- Kaviar tetap saja bodoh.
__ADS_1
Masih untung nyawanya selamat karena dia turun tangan, kalau saja dirinya tidak memiliki prikemanusiaan, Yasmine yakin Kaviar bisa sekarat sama seperti putranya.
"Ayo El, nanti biar Murad yang urus mereka. Kita obatin dulu luka kamu, jangan membantah kalau kamu enggak mau tidur di luar malam ini!"
Elvier mengatupkan bibir, baru saja dia ingin membantah- ucapan Yasmine membuatnya menurut bagai anak kucing.
"Ya Mine," sahutnya patuh..
🍒
🍒
🍒
Didalam kamar Sang Lord, Sheena terlihat menatap sendu pada Erkan. Gadis itu terlihat meringis saat melihat luka suaminya kembali terbuka.
Erkan mendesis pelan, kepalanya sedikit berdenyut saat Sheena menekan lukanya. Erkan menghela napas pelan saat melihat wajah Sheena, dia tahu kalau istrinya khawatir.
"Bukan, Alfuttain tidak melakukan apa pun. Kaviar yang melakukannya!"
Sheena terdiam, dia tidak membalas ucapan suaminya. Tatapan sendu Sang Princess tidak dapat di sembunyikan. Didalam hatinya yang terdalam, dia tidak menginginkan perselisihan ini- Sheena ingin sekali berhubungan baik dengan semua orang terutama kedua orang tua dan adik kembarnya.
Namun situasi yang tidak memungkinkan saat ini, sulit untuk bisa mewujudkannya. Jujur, Sheena tidak pernah membenci keluarganya- dia hanya kecewa. Kecewa karena dirinya tidak pernah di harapkan oleh keluarganya sendiri.
Lalu untuk apa dia lahirkan, kalau memang tidak pernah di harapkan?
"Hei, kenapa hm?"
__ADS_1
Sheena mengangkat wajahnya, kedua netra sebiru laut nya menatap lekat pada Erkan. Sheena menerbitkan senyuman tipis, tangannya terulur untuk menyentuh wajah suaminya.
Cup!
Tubuh Erkan mematung, saat merasakan kecupan ringan namun menggetarkan.
"Terimakasih," ujar Sheena tulus.
"Untuk?" Erkan menipiskan bibir, berusaha menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
"Segalanya, semua yang sudah aku dapatkan dari mu?" ujarnya lagi dengan bisikan lembutnya.
Senyuman Erkan melebar, Sang Lord segera merengkuh pinggang kecil istrinya. Merapatkan tubuh mereka, menatap lekat kedua netra indah yang selalu membuatnya hilang akal.
"Apa pun untuk mu, Sunshine. Bahkan, kalau menginginkan nyawaku- aku bersedia memberikannya!"
Tanpa ragu Erkan cepat meraih bibir setengah terbuka Sheena, memagutnya lembut. Memberikan rasa manis dan nikmat secara bersamaan, Erkan tidak menjamin kali ini dia dapat menahan gelora panas yang ada di tubuhnya.
"Aku menginginkan mu, sekarang!" bisiknya.
**SEGERIN DULU BANG
HOLLA MET SIANG EPRIBADEH
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH😘😘**