
Erkan melajukan mobil tesla metalik nya dengan kecepatan penuh. Rasa khawatir tengah menyelimuti hatinya, saat dia tahu kalau Sheena pergi ke rumah sakit jiwa- dimana pria sialan, yang menjadi Ayah mertuanya itu dirawat.
"Semenjak hamil kau semakin keras kepala, Sunshine. Bahkan Daddy saja bisa menurut padamu, saat kau menyuruhnya menari dengan ku. Anak kita benar benar ingin mengendalikan kakeknya sejak dini,"
Ada rasa kesal, namun Erkan malah terkekeh pelan saat mengingat betapa bahagianya Yasmine dan Elvier mengetahui kalau Sheena tengah mengandung. Padahal beberapa bulan lalu mereka baru saja mengadakan resepsi besar dan mewah di kediaman Albarack.
Dan satu bulan kemudian, Sheena dinyatakan hamil tepat di saat ulang tahun Erkan yang ke 22 tahun.
Walaupun menurut sebagian orang usia keduanya terbilang masih sangat muda untuk menjadi orang tua, namun ketahuilah Erkan justru sudah siap saat dia berhasil menikahi Sheena.
Erkan hanya takut kalau Sheena belum siap untuk menjadi orang tua, namun ternyata Sang Princess begitu bahagia saat dinyatakan hamil.
Erkan menghembuskan napas kasar, suara decitan ban mobil membuat dua orang yang tengah mengobrol di loby rumah sakit menoleh.
Erkan bergegas keluar, dia tidak memperdulikan tatapan para pengunjung yang terarah padanya. Kedua netra tajam Erkan hanya tertuju pada Sheena- nya.
"Kalau begitu saya permisi, Yang Mulia."
Sheena mengangguk pelan pada dokter wanita yang sedari tadi menemaninya. Sang Princess menatap geli pada Erkan yang tengah memasang wajah masam.
"Kabur lagi, hm?"
Sheena terpekik saat Erkan mengangkat tubuhnya, membawanya menuju mobil yang tidak jauh dari loby.
"Kau sudah selesai bekerja, Daddy?"
Erkan berdecak dalam hati, mendengar bisikan lembut di telinganya. Entah kenapa Erkan sangat menyukai panggilan yang di berikan Sheena untuknya.
__ADS_1
Daddy?
Salah satu sudut bibir Erkan berkedut, dia tidak sabar untuk melihat buah cinta mereka nanti.
"Kalian berdua nakal sekali, jadi jangan salahkan Daddy- kalau kalian berdua akan menerima hukumannya."
Sheena mengulum senyum, dia membiarkan Erkan memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya. Menatap geli pada wajah rupawan Sang Lord yang masih merajuk.
"Hukuman? hukuman seperti apa My Lord?"
Erkan menatap lekat pada kedua mata indah Sheena. Satu tangannya terulur untuk mengusap perut buncit Sang Princess, mengusap pelan- Erkan menunduk untuk memberikan kecupan dalam disana.
"Kalian lihat saja nanti. Daddy akan mengunjungi mu Sayang, bersiaplah." bisik Erkan.
🍒RTSL🍒
Seorang gadis berseragam sekolah modis, rok rempel diatas lutut, kaos kaki panjang, sepatu wedges hitam membalut kedua kaki jenjangnya, jangan lupa almamater hitam membalut tubuh proporsional, mengerutkan dahi jijik pada seorang remaja yang tengah berlutut di hadapannya.
Tampang remaja itu memang tampan, tapi sang gadis benar benar tidak menyukai laki laki remaja, yang beberapa kali sudah mempermalukannya di depan umum.
Dengan cara seperti ini, menyatakan cinta konyolnya- padahal sang gadis sudah berkali kali menolaknya mentah mentah.
"Kau terlihat menjijikan Pangeran Karan, sudahi tingkah konyol mu ini- sebelum pengawal ku kembali menghajar mu seperti waktu itu!"
Ucapan tenang sang gadis sama sekali tidak digubris oleh remaja laki laki itu. Sang Pangeran dari keluarga bangsawan Arkesna bangkit, kedua matanya menatap penuh harap pada gadis pujaannya.
"Aku tidak akan menyerah Putri Liara. Aku yakin kalau laki laki ini akan mendapatkan cinta mu cepat atau lambat,"
__ADS_1
Dengan senyuman lebar dan rasa percaya diri diatas rata rata, Karan Arkesna kembali menyodorkan bunga tulip merah pada Sang Putri Albarack.
"Bangunlah Karan, tidur mu terlalu miring!" sarkasnya.
"SIMBAAAA!"
Dahliara berteriak lantang, saat dirinya mulai kesal. Satu jam lagi dirinya ada pemotretan, waktunya semakin terbuang karena drama murahan yang tengah berlangsung.
"Menjauhlah dari nya bocah! aku tidak menjamin kalau tangan mu akan tetap aman di tempatnya!"
Tubuh remaja laki laki itu menegang, saat mendengar suara desisan berat dari belakang tubuhnya. Karan sudah tahu suara siapa, sang pengawal pribadi gadis pujaannya.
Pengawal yang selalu ada, dimana pun dan kapan pun untuk Dahliara. Walaupun raga sang pengawal tidak selalu terlihat, namun yakinlah kalau sang Singa tengah mengintai mereka yang berani mengganggu Sang Bunga.
"Selesaikan dengan cepat, satu jam lagi aku ada pemotretan!"
Dahliara pergi begitu saja, meninggalkan Pangeran Karan Arkesna bersama Lionel. Tubuh pria muda itu terkunci, karena Lionel menahannya kuat.
"Aku tidak peduli kau berasal dari siapa, keluarga bangsawan mana. Aku hanya ingin memperingatkan mu untuk terakhir kalinya, jauhi My Flower! hentikan tingkah bodoh mu ini bocah!" tukasnya tajam.
**GUARDIAN FLOWER
SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYYY MUUUUAACCHH😘😘**
__ADS_1