
"Untuk apa kau datang kemari?"
Saat ini Sheena dan Sheera tengah berdua, Sheena meminta Erkan untuk meninggalkan mereka berdua. Walaupun Sang Lord sempat tidak setuju, namun Sheena meyakinkan suaminya kalau semuanya akan baik baik saja.
"Aku hanya ingin melihat keadaan mu," Sheena menganggapi'nya tenang.
Sang Princess tahu kalau saat ini Sheera tengah menampilkan ketidaksukaannya. Sheena berusaha tidak terpancing, dia akan membiarkan saudari kembarnya itu melupakan seluruh isi hatinya saat ini.
"Benarkah? bukan untuk menertawai kecacatanku. Aku yakin, didalam hatimu saat ini- kau sedang tertawa melihat keadaanku yang menyedihkan ini, benarkan?" tuduh Sheera.
Sheera menatap sinis pada kembarnya. Dia tidak percaya kalau Sheena tidak memiliki niat saat akan menjenguknya, entah itu baik atau pun buruk.
Yang pasti saat ini, yang ada didalam pikiran Sheera adalah hal buruk.
"Terserah kau saja, aku tidak bisa melarang mu untuk berpikiran baik padaku. Kau mau percaya atau tidak, itu adalah hak mu. Yang terpenting untukku, aku dan suamiku datang kemari- karena ingin melihat keadaan mu, Sheera."
Raut wajah Sheena tetap tenang, kedua matanya menatap lekat pada adik kembarnya- yang saat ini tengah mengalihkan pandangannya.
"Dalam keadaan seperti ini, kau juga pasti akan berpikiran sama dengan ku. Terlebih orang yang menjengukku saat ini adalah orang yang selalu aku sakiti," Sheera mengalihkan tatapannya pada Sheena.
__ADS_1
Kedua matanya berkaca kaca, napasnya tercekat- gadis itu menahan isakannya sekuat mungkin.
"Kau lihat sendiri kan, salah satu kaki ku hilang, wajahku rusak. Apa mungkin Tuhan mendengar perkataanku, yang selalu berharap tidak ingin memiliki wajah yang sama seperti mu, maka dari itu Tuhan mengabulkannya,"
Sheena terdiam, dia membiarkan Sheera mengungkapkan isi hatinya. Menjadi pendengar yang baik, mungkin setelah mendengar seluruh isi hati adik kembarnya- Sheena akan tahu apa yang membuat Sheera selalu menabuh genderang perang dengannya.
"Tidak lama lagi, wajahku akan berubah. Kita tidak akan lagi memiliki wajah yang sama, hanya kau yang akan memilikinya."
Sheera memejamkan kedua nata, saat merasakan luka bekas amputasi di kakinya berdenyut sakit. Sheera mencoba menahannya, meyakinkan diri kalau dia adalah gadis kuat.
"Dimana suami mu?" Sheena mengabaikan ocehan saudarinya.
Sang Princess menatap serius pada Sheera. Kedua matanya menelisik ruangan, mencari sesuatu yang bisa membuktikan kalau keluarga Abraham pernah ditempat ini.
"Aku tidak peduli dengannya. Mungkin dia dan Ayahnya sedang sibuk ke pengadilan, untuk menceraikan ku,"
Tatapan Sheera terlihat kosong, dadanya sesak saat mengingat bagaimana nasibnya setelah ini. Dirinya cacat seumur hidup, di ceraikan suaminya, bahkan dalam keadaan dia yang masih perawan.
Janda perawan?
__ADS_1
Sheera menyunggingkan senyuman miris, dia tidak lagi mau menatap wajah Sheena. Karena Sheera tahu kalau saat ini saudari kembarnya itu tengah menatap iba padanya.
"Jangan mengasihani ku, aku tidak butuh di kasihani." cetusnya lagi.
Senyuman tipis masih tercipta di bibir Sheera, namun senyuman tipis itu redup- saat mendengar tanggapan yang Sheena berikan.
"Aku tahu, kau memang tidak perlu di kasihani," ujar Sheena pelan.
Sang Princess menjeda, manik mata keduanya bersitubruk.
"Yang kau perlukan adalah keyakinan, bukan rasa simpati. Buktikan pada calon mantan suami mu dan keluarganya, kalau Sheera yang kejam dan jahat tidak selemah itu, hanya karena kehilangan satu kakinya!" tukas Sheena.
Sang Princess bangkit, kedua tangannya bertumpu pada tiang baja tempat tidur. Menatap lekat pada Sheera, membuat adik kembarnya itu bungkam.
"Kalau kau masih menganggap ku sebagai kakak kembar mu, lakukan operasi plastik, berikan foto mu pada dokter. Kau akan memiliki wajah mu kembali, jangan biarkan orang membodohi mu, Sheera. Saat ini kau tidak lagi hidup di jaman batu!" imbuhnya lagi.
**MAKJLEEEBBBB
__ADS_1
SEE YOU TOMORROW
MUUUAAAACCHHHšššš**