
Jari jemari Sheera berkedut, dahinya mengernyit dalam- bahkan terdengar ringisan pelan dari bibirnya. Hisham yang sedari tadi memperhatikan hanya terdiam, pria setengah baya itu memalingkan wajahnya ke arah lain- saat melihat melihat Sheera perlahan mulai sadar.
Kelopak mata yang tergores itu terbuka, terlihat mengedip pelan- untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.
Ringisan dan rintihan kembali terdengar, Sheera berusaha menahan rasa sakit yang mendera. Tangannya yang terasa kaku, mencoba meraba kepalanya yang berdenyut hebat.
"Sheera?"
Panggilan lembut seorang wanita, membuat Sheera menoleh. Mata sayu dan sedikit lebam itu menyipit, memastikan siapa orang yang ada didekatnya saat ini.
"I-ibu?" lirihnya.
Sang Permaisuri mengangguk, wanita berhidung mancung itu semakin merapatkan tubuhnya pada Sheera. Tangannya terulur, memberikan satu gelas air putih pada putrinya.
"Ibu?" panggilnya lagi.
"Ibu disini Sayang. Apa yang kamu inginkan?"
Sang Permaisuri tidak dapat lagi menahan air matanya. Cairan bening itu turun tanpa permisi, Sang Permaisuri sudah berusaha untuk tidak menangis- namun tetap saja tidak bisa.
"Ibu kenapa menangis? a-aku sudah baik baik saja. Hanya tubuhku terasa- tunggu! kenapa kaki ku tidak bisa di gerakan!"
Sheera berusaha bangkit, namun Sang Permaisuri menahannya. Wanita setengah baya itu melirik pada suaminya, Sang Permaisuri berharap kalau Hisham akan membantunya untuk menenangkan Sheera.
Tatapan memohon Sang Permaisuri membuat Hisham mendekat. Sang Tuan Alfuttain menatap Sheera dalam, sedari tadi Hisham tidak berbicara sedikit pun.
__ADS_1
"Ibu, apa yang terjadi pada ku? kenapa kaki ku-,"
"Salah satu kaki mu harus diamputasi!"
Rontaan Sheera terhenti, Sang Putri Mahkota menatap Hisham tidak percaya. Sheera shock, namun dia belum mempercayai ucapan Ayahnya.
"Dokter terpaksa melakukannya, demi menyelamatkan nyawa mu,"
Sheera semakin membatu, seluruh tubuhnya mati rasa- bahkan saat dia hendak menyentuh area tubuh bagian bawahnya- Sheera kembali menarik tangannya.
"A-Ayah bo-hong kan? A-Ayah pasti-,"
"Kalau kau tidak percaya lihat saja sendiri,"
Ketika selimut itu menjauh darinya, Sheera menjerit kencang. Sang Putri Mahkota menjambak rambutnya sendiri- bahkan perban di salah satu wajahnya ikut terbuka kembali.
"Sheera, tenang Nak," bujuk Sang Permaisuri.
Wanita itu memeluk tubuh Sheera yang histeris, mencoba menenangkan putri bungsunya, membisikan kata kata agar Sheera bisa kembali mengendalikan emosinya.
"Aku cacat?! aku cacat Ibu!" raungnya.
Sang Permaisuri melipat bibirnya rapat, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Menenangkan bukan sesuatu yang tepat saat ini. Sang Permaisuri butuh dokter untuk memberikan penenang pada putrinya.
"Tidak apa apa Nak, ada Ibu. Ibu akan selalu ada untuk mu, tenanglah Sheera," bujuknya lagi.
__ADS_1
Hatinya semakin teriris saat mendengar raungan Sheera. Sang Permaisuri memejamkan kedua matanya, entah kenapa tangisan Sherra malah mengingatkannya pada Sheena.
'Sheena, maafkan Ibu, Nak.' bisiknya dalam hati.
"Tidak! aku cacat, aku tidak memiliki kaki. Wajahku, wajahku juga rusak. Aku tidak mau Ibu! AKU TIDAK MAU!"
Sheerar menjerit sekuat mungkin, Hisham yang sedari tadi terdiam akhirnya menoleh. Kedua matanya menatap tak terbaca pada kedua wanitanya. Hisham mengusap wajahnya kasar, tanpa berbicara apa pun- Hisham keluar dari ruangan mewah yang tengah di tempati putrinya.
Hisham kalut, dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Ada rasa ingin memeluk tubuh rapuh Sheera, namun kedua kakinya terasa kaku dan lebih memilih melangkah keluar.
Hisham mendongakkan wajahnya, kedua matanya terpejam- napasnya yang tersengal kini mulai perlahan kembali tenang.
"Bagaimana keadaan Sheera? apa putri mu itu sudah siap untuk menerima hukumannya?!"
Hisham tersentak, kedua matanya terbuka lebar saat mendengar suara seseorang yang dia kenal. Napasnya yang perlahan tenang, kini kembali sesak dan menyakitkan.
**TIDAAAAAAKKKK
HOLLA MET MALAM EPRIBADEH
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH😘😘**
__ADS_1