Ratu Tersembunyi Sang Lord

Ratu Tersembunyi Sang Lord
Tidak Beruntung


__ADS_3

Sheena menatap kosong ke arah jendela, saat ini pikiran Sang Princess sedang melanglang buana. Suara katak dan hewan malam lainnya- seakan menjadi teman baginya. Waktu sudah menunjukan pukul 9 lewat 15 malam, tapi Sheena masih berkutat dengan perasaannya sendiri.


"Akara tidak pulang? apa dia sedang ada tugas, atau dia marah padaku?"


Pikiran buruk Sang Princess kembali hadir, apakah pria itu marah karena penolakannya? Sang Princess menghela napas kasar, Sheena kembali teringat dengan ucapan Bibi Jumma beberapa jam yang lalu, ucapan yang membuat hatinya bimbang.


'Tuan Putri, Bibi yakin kalau Tuan Akara sangat tulus menyayangi anda- bisakah anda memikirkannya lagi?'


Sheena menghela memejamkan kedua mata, bukannya dia tidak punya perasan karena tidak bisa merasakan betapa tulusnya pria yang Sheena kenal sebagai pengawal itu, selama ini. Tapi keadaan yang membuat Sheena harus memendamnya, mengubur dalam dalam semua perasaan yang perlahan hadir.


Bukan karena status mereka yang berbeda, Sheena tidak peduli dengan status Putri dan Pengawal yang membentang diantara mereka. Yang Sheena pikirkan saat ini adalah, pantaskan dia untuk seorang Akara? pria sempurna yang bisa mendapatkan gadis yang lebih sempurna darinya.


Tidak!


Dirinya tidak pantas!


Sheena takut kalau kekasihnya nanti akan menjadi bahan olok olokan semua orang, karena memiliki gadis cacat sepertinya. Rasa trauma karena tidak diakui oleh orang terdekatnya, membuat Sheena tidak ingin berharap pada siapa pun.


Cukup dirinya sendiri yang mengakui, kalau seorang Sheena Oceana pernah lahir dan masih hidup hingga sekarang.


"Aku berharap kau akan menemukan gadis yang baik, Akara," gumamnya pelan.


Sheena menekuk kedua kakinya, matanya terpejam- menikmati alunan lagu pengantar tidur yang di hasilkan katak dan teman temannya.


   


                            🍒🍒🍒


Putaran kemudi semakin tidak terkendali, saat Erkan melintasi sebuah tikungan tajam. Kedua matanya fokus kedepan- namun tidak dengan hati dan pikirannya saat ini.


Braak!

__ADS_1


Lord Erkan mendesis, kala mobilnya menabrak seprator jalan. Ternyata kefokusan kedua matanya, tidak cukup untuk membawa dia kedalam kemenangannya malam ini.


Erkan memukul kemudinya dengan keras, saat melihat mobil yang di kendari rivalnya melaju cepat menuju area finish.


Sang Lord memijat kepalanya yang sedikit berdenyut, Erkan kembali menyalakan mesin mobilnya menjalankannya perlahan menuju garis akhir.


Lord Erkan menyunggingkan salah satu sudut bibirnya, saat melihat rival balapannya malam ini tengah bersuka cita bersama gerombolannya. Sepertinya sang rival baru pertama kalinya menang, heboh sekali.


"Astaga My Lord, aku tidak menyangka kau akan di kalahkan oleh anak baru itu,"


Erkan mengedikan bahunya, Sang Lord menepuk bahu sang moderator lalu berjalan menuju sebuah kursi. Kedua mata Erkan tidak lepas dari pria yang berhasil mengalahkannya, senyuman Sang Lord semakin melebar- saat melihat sang rival mendekat ke arahnya.


Dengan santai Erkan meneguk sodanya, dengan kedua sorot matanya tetap terarah kedepan.


"Aku menagih hadiahnya,"


Satu alis Erkan terangkat, salah satu sudut matanya melirik pada pria bertato yang tengah tersenyum kikuk padanya.


Sudah Erkan duga!


Braak!


Erkan membuang kaleng sodanya kedalam tong sampah, pria itu bangkit- berjalan pelan menuju mobil Ferarri hitam miliknya, diikuti oleh sang rival dan moderator balapan.


"Kau menginginkan mobilku? ambil saja, aku hanya ingin mengambil sesuatu," ujar Erkan sembari membuka pintu mobil.


Satu tangannya terulur untuk meraih sesuatu dari spion depan, kedua sudut bibirnya terangkat- bahkan mata tajamnya tidak lepas dari potret seorang gadis yang sedang dia pegang.


"Apa yang kau ambil?" tanya sang rival.


Sepertinya pria berkaos putih itu begitu penasaran, dengan sesuatu yang ada ditangan Lord Erkan.

__ADS_1


"Nyawaku," sahutnya enteng.


Setelah mengatakan itu, Erkan kembali keluar- dia menyerahkan kunci mobilnya pada sang rival. Raut wajahnya tidak seperti orang yang baru saja dikalahkan, Lord Erkan terlihat santai- dan tenang. Bahkan Sang Lord masih dapat tersenyum, bukan senyuman ramah tentunya- melainkan senyuman yang mengisyaratkan sesuatu.


"Ambil saja mobilnya!"


Erkan meraih tangan sang rival, lalu meletakan kunci mobil diatas telapak tangan pria, yang terlihat masih penasaran dengan sesuatu di sakunya.


"Bukannya semua yang ada didalam mobilmu sudah menjadi milikku? termasuk sesuatu yang kau ambil tadi," ujar sang rival.


Kedua mata Erkan berkilat, tatapan tenangnya berubah tajam dan tak berekspresi. Pria bertubuh jangkung itu menatap penuh peringatan, pada pria yang memiliki tinggi hampir sama dengannya.


"Kau hanya berhak memiliki mobilnya, bukan apa yang ada didalamnya," Erkan menekan setiap kata yang dia ucapkan.


"Jaz! kunci mobil!" sambung Erkan lagi, pria itu dengan sigap menangkap sebuah kunci mobil yang di lemparkan oleh pria bertato di leher yang tidak jauh darinya.


Tanpa berucap apa pun lagi, Erkan segera pergi meninggalkan sang rival yang tengah menatap tak terbaca padanya.


"Semoga keberuntungan mu bisa datang lagi lain kali," kekeh Jaz saat melewati rival Sang Lord.


Jaz yakin kalau Sang Putra Mahkota itu hanya beruntung, karena Sang Lord sepertinya sedang tidak baik.



E BUSET ENTU BEKAS APE BANG 😫😫😫😫


**HOLLA MET PAGI EPRIBADEH


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA


SEE YOU NEXT PART MUUUAACHH**

__ADS_1


__ADS_2