
"Detak jantung pasien kembali. Syukurlah kami masih dapat menyelamatkannya, kami sempat kehilangannya. Namun ternyata Tuhan belum mentakdirkan nya,"
"Terimakasih Dok, apa kami boleh menjenguknya?" wanita bermata sembab itu menatap penuh harap.
Dirinya mend*esah napas lega, saat melihat sang dokter mengangguk. Tanpa menunggu, wanita itu segera masuk- dia tidak peduli dengan suami serta keluarga Abraham lainnya.
"Kalau begitu kami permisi!" pamitnya.
Kaviar tidak bersuara, pria itu hanya mengangguk. Tatapannya terus saja tertuju pada pintu kaca ruang rawat putranya, disana sudah ada Sang Permaisuri yang tengah mengusap pucuk kepala putranya.
Tanpa suara, Kaviar menyusul istrinya- di ikuti oleh kedua putri serta adiknya- Zoyya. Wanita yang dulu sempat tergila gila pada pangeran kedua Albarack, dan berakhir tragis di tangan Sang Pangeran dan Sang Princess.
Sampai saat ini Zoyya tidak menikah, rasa trauma kala melihat nasib mendiang Zorra kakaknya, yang di khianati lalu berakhir mati- membuatnya anti pada pria. Terlebih pada pria berkedudukan tinggi- Pangeran atau Putra Mahkota salah satunya.
Zoyya mengikuti langkah Kaviar, meninggalkan Sheera yang masih mematung di tempatnya. Mengabaikan Sang Putri Mahkota, walaupun pada akhirnya Sheera pun mengikuti langkah Zoyya.
"Ibu senang kau selamat. Cepatlah sadar dan pulih, Ibu yakin kau pasti lelah kan? lihat, tangan mu saja sampai kurus begini. Ibu akan buatkan makanan kesukaan mu nanti Kezi, jadi sadarlah."
__ADS_1
Sang Permaisuri menggenggam erat jari jemari putranya. Dia membiarkan kedua putrinya yang beberapa tahun lebih muda dari Kezier, mengusap pundaknya untuk menenangkan.
Kaviar sendiri, pria berwajah khas Timur Tengah itu terlihat bersidekap dada. Membiarkan Sang Permaisuri berceloteh, walaupun Kezier tidak menyahut. Sudut matanya melirik pada Sheera, yang berdiri tegap di belakang tubuh adiknya.
Gadis berambut pendek itu terdiam, kedua matanya menyorot dalam pada Kezier- yang terbaring di atas ranjang pesakitannya.
Kaviar menghela napas pelan. Dia yakin kalau menantunya tengah khawatir sama seperti mereka. Kaviar mengalihkan tatapannya dari Sheera, karena itu Sang Tuan Abraham tidak menyadari kepalan erat kedua tangan menantunya.
🍒RTSL🍒
Angin malam yang berhembus, tidak membuat Sheena kedinginan sama sekali. Sang Princess terlihat begitu menikmati, kedua mata indah sebiru lautnya menatap tak berkedip pada ratusan bintang di langit.
"Kau sedang apa Sunshine?"
Sheena tersentak, gadis- ralat wanita itu menoleh sekejab, tersenyum tipis pada suaminya lalu kembali menatap ratusan bahkan ribuan bintang yang ada di langit malam.
"Aku hanya sedang menikmati lukisan Tuhan," gumamnya penuh rasa syukur.
__ADS_1
Erkan tersenyum, pria yang tengah bertelanjang dada dan hanya menggunakan sepotong handuk di pinggangnya, menatap Sang Princess begitu intens. Walaupun hanya melihat Sheena dari arah samping, pesona Sang Princess tidak pernah berkurang di kedua matanya.
"Aku tidak pernah bermimpi, kalau akhirnya dapat melihat bintang di langit dengan kedua mata ku sendiri. Bukan cerita dari Bibi Jumma atau pun orang lain,"
Erkan terenyuh, bahkan untuk menelan saliva saja Sang Lord tidak mampu. Sheena tersenyum, namun menangis- Erkan tidak sanggup melihatnya.
"Kau akan selalu melihatnya Sunshine. Maaf karena aku terlalu lama mencari donor-,"
"Sssttt- tidak apa. Mungkin Tuhan tidak mengizinkan aku untuk memakai mata orang lain, maka dari itu Dia memberikan anugerahnya padaku secara tidak sengaja, walaupun melalui pukulan Ayah kandungku sendiri," Sheena berbicara lirih diakhir kalimatnya.
"Kita akan periksakan kedua mata mu besok. Aku akan menjamin kau akan dapat melihat bintang seumur hidup mu, Sunshine," Erkan berujar menenangkan. Meyakinkan Sheena kalau Sang Princess akan melihat sesuatu yang lebih indah dari bintang di langit malam.
**LUKISAN TUHAN
SEE YOU TOMORROW
__ADS_1
BABAYYYY MUUUAAAACCCCHHH
SELAMAT MERAYAKAN IDUL ADHA READERS SETIA KU😘😘😘**