
Pukul 10 pagi waktu Dubai
Suara alunan biola terdengar begitu menyayat hati, ini adalah hari ke tiga Lord Erkan pergi ke Indonesia. Sheena yang begitu kehilangan hanya dapat termenung, sesekali bermain biola yang pernah Erkan berikan.
Biola itulah yang bisa membuat Sheena dekat dengan kekasihnya, merasakan kalau Erkan ada di dekatnya.
Tanpa Sheena ketahui, kalau kegiatannya saat ini tengah di lihat oleh Erkan lewat video call. Bibi Jumma sengaja menghubungi Sang Lord saat Putri Sheena bermain dengan biolanya.
Erkan yang saat ini ada didalam video, hanya mematung- menatap dalam pada kekasihnya. Ingin rasanya Erkan memeluk tubuh itu, mendekapnya erat- tanpa ingin melepasnya lagi.
Suara alunan biola terhenti, Sheena membuka kedua matanya yang tadi terpejam. Sepertinya dia begitu menghayati, hingga kedua netra cantiknya ikut terpejam.
"Bibi?" panggilnya pelan.
Bibi Jumma yang saat ini tengah menopang dagu segera tersadar, wanita itu mendekat- setelah memastikan kalau ponselnya masih terhubung pada Erkan.
"Iya, Tuan Putri. Ada yang bisa Bibi bantu?" Bibi Jumma segera meraih biola dari tangan Sheena, lalu memasukannya ke tempat khusus.
"Apa Akara belum pulang? kapan Akara pulang?"
Pertanyaan yang Sheena berikan membuat Bibi Jumma menoleh ke arah ponsel, disana masih ada Erkan yang tengah menatap Sheena tanpa berkedip.
"Tuan Putri ingin berbicara dengan Yang Mulia?" Bibi Jumma mengusap surai panjang Sang Princess.
__ADS_1
Dia tahu kalau Sheena tengah merindukan Sang Lord. Wajar saja, karena mereka sepasang kekasih- pasti banyak rindu yang saat ini tengah membelenggu hati mereka.
"Aku takut mengganggunya, pasti dia-,"
"Sunshine,"
Tubuh Sheena menegang, gadis itu menajamkan kedua telinganya saat mendengar suara pria yang begitu dia rindukan. Kedua sudut bibir Sheena terangkat, dengan langkah meraba Sang Princess mencari asal suara.
"Akara,"
Erkan tersenyum tipis, ingin sekali rasanya dia masuk kedalam ponsel agar dirinya dapat memeluk Sheena.
"Aku disini,"
Sheena menipiskan bibir, saat mendapatkan apa yang dia inginkan. Jari jemari lentiknya menyusuri permukaan ponsel, membuat Erkan memejamkan kedua matanya.
"Aku merindukan mu," lirih Sheena.
Dia tidak dapat melihat ekspresi Erkan saat ini, tapi Sheena yakin kalau Sang Lord tengah tersenyum padanya.
"Aku juga, aku sangat sangat sangat sangat merindukan mu, Sunshine,"
Senyuman Sheena semakin melebar, bahkan sekarang senyuman Sang Princess sudah menular pada Bibi Jumma. Wanita itu ikut tersenyum simpul, saat melihat wajah bahagia Sang Princess.
__ADS_1
Bibi Jumma berharap kebahagian Sheena terus menghampiri, sudah cukup Sheena merasakan penderitaan selama hampir 17 tahun ini. Semoga Tuhan sudi memberikan sedikit kasih sayangnya pada Sang Princess, melalui Sang Putra Mahkota Albarack.
"Kapan kau kembali?"
Suara Sheena terdengar lirih penuh harap, walaupun sebenarnya Sang Princess merasa tidak enak bertanya seperti itu. Sheena yakin kalau Erkan masih sibuk, dan mungkin saat ini Sang Lord tengah berkumpul dengan para saudaranya di Indonesia.
"Dua hari lagi,"
Sheena mengangguk pelan, gadis itu tersenyum lembut- meyakinkan Erkan kalau dirinya baik baik saja. Sheena tidak ingin Erkan terus saja memikirkannya, cukup dirinya saja yang memikirkan Sang Lord.
"Sunshine?" panggil Erkan lembut, bahkan tanpa sadar pria itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah cantik kekasihnya.
Namun sayang, Erkan hanya mampu menyentuh layar ponsel, jarak dan waktu yang membentang membuat keduanya terbelenggu rindu.
"Aku merindukan mu Akara, cepatlah kembali," Sheena sudah tidak dapat menahannya lagi, Sang Princess mendekap ponsel dengan erat- bahkan mungkin sambungan video call mereka terputus karena Sheena tidak sengaja menekan salah satu tombol di layarnya.
Namun Sang Princess tidak peduli, saat ini rasa rindu yang dia rasakan mengalahkan rasa malunya.
**LAGI NGAPAIN DAH NIH ORANG
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH**