
'Hai Kakak?' Sheera terkekeh kecil.
'Rasanya tidak pantas aku memanggilmu dengan sebutan Kakak, setelah apa yang sudah aku lakukan padamu,'
Sheera menipiskan bibirnya, satu tangannya yang terbebas mengusap air matanya. Sang Putri Mahkota Alfuttain menangis dalam senyuman perih.
'Aku yakin kau akan menonton rekaman video ini setelah aku tiada. Maaf Kak, aku tidak sekuat itu. Maaf, aku tidak bisa menebus dosa ku padamu dengan menjadi saudari kembar yang baik.'
Sheera mendongak, air matanya yang terus luruh membuat dirinya sedikit susah untuk berbicara.
'Rekaman video ini aku buat sekitar 1 hari yang lalu, saat kau dan Kakak ipar pulang. Maaf aku memanggil suami mu dengan sebutan Kakak ipar. Untuk suami mu, terimakasih sudah menjadi pria baik untuk kakak ku, Pangeran Erkan. Maaf, aku belum sempat menjadi adik ipar yang baik untuk mu,'
Sheera tersenyum ke arah kamera, tangan yang tertusuk jarum infus melambai- seolah tengah melambai pada seseorang di depannya.
'Tolong jaga saudari ku, dan tolong maafkan aku agar aku bisa pergi dengan tenang. Sampai maaf ku untuk keluarga Albarack, dan Kezier- suamiku,' Sheera kembali tertawa miris.
__ADS_1
'Kezier, maafkan aku karena sudah pernah ingin menyingkirkan mu. Bagaimana kabar mu sekarang? aku yakin kau sudah sembuh. Tolong maafkan aku, maaf karena tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mu. Hidup lah dengan baik, jangan ada dendam lagi- karena itu tidak akan membuat hidup mu berguna.'
Sheera menatap sendu, satu tangannya terulur untuk mengusap layar ponselnya.
'Ibu, maafkan aku. Aku belum bisa menjadi putri yang baik untuk mu. Ayah, aku tidak pernah marah padamu- aku sangat menyayangi mu. Tolong jaga Ibu untukku. Berbaikan lah dengan Kak Sheena, minta maaflah pada saudariku Ayah. Jangan sampai kau menyesal, dan akhirnya harus kehilangan kami berdua,'
Sheena menatap penuh harap, kedua tangannya dia tangkub-kan di depan dada. Air matanya tidak henti hentinya mengalir, napasnya terasa sesak dan menyakitkan.
"Kak Sheena maafkan aku, akhirnya doa ku di jawab oleh Tuhan. Dulu aku tidak ingin memiliki wajah serupa dengan mu, dan ternyata Tuhan mengabulkannya dengan cepat. Tuhan hanya memberikannya padamu, karena Dia akan mengambil ku sebentar lagi. Sekali lagi maafkan aku, aku berdoa kau akan selalu bahagia Kakak, buatkan aku keponakan yang banyak,' Sheera terkekeh.
'Penderitaan mu selama 16 tahun, akan terbayarkan dengan kebahagiaan. Selamat tinggal semua, tolong jangan lupakan aku setelah aku tiada. Tolong kenang aku dalam kebaikan kalian, maafkan Sheera. Aku sangat menyayangi Ibu dan Ayah, dan kau juga Kakak, i love you.'
Bahkan Kezier yang masih terduduk di atas kursi rodanya hanya menunduk. Tangannya menggenggam erat sebuah ponsel yang di berikan oleh Erkan. Rekaman video calon mantan istrinya masih terekam jelas di kepalanya.
Kezier baru mengetahui keadaan Sheera yang sebenarnya dari rekaman itu. Bahkan tadinya Kezier tidak sudi untuk datang, namun saat Sheena menamparnya keras- dan melemparkan rekaman itu padanya, entah kenapa ada sesuatu yang membuat hatinya tidak tenang.
__ADS_1
Dan kini, dirinya tengah menatap gundukan tanah merah di hadapannya. Gundukan tanah yang bertuliskan 'Sheera Samantha Alfuttain' gadis yang dia nikahi beberapa waktu yang lalu.
Bahkan Kezier belum pernah menyentuhnya sama sekali. Jangankan menyentuh, berbicara saja mereka jarang.
'Aku sudah memaafkan mu, Sheera. Maafkan aku, karena aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk mu. Tenanglah di sisi Tuhan, aku akan selalu mendoakan mu,' bisik hati Kezier, di sambut oleh hembusan angin yang sejuk.
Acara pemakaman selesai, satu persatu para pelayat pulang. Menyisakan keluarga inti Alfuttain, Albarack dan Kezier. Kaviar tidak mengikuti prosesi pemakaman menantunya, sepertinya pria itu masih membekukan hatinya.
"Aku pulang, aku akan selalu mendoakan mu- Adik ku. Tenanglah di sisinya, aku sudah memaafkan mu, Sheera," gumam pelan Sheena, sembari mengusap lembut batu nisan adik kembarnya.
SHEERA PERGI
__ADS_1
**SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYYY MUUAAACCHH😘😘**