
"Siapa yang berani melakukan ini pada putraku?!" Kaviar menggeram rendah saat melihat kondisi Kezier saat ini.
Sang Putra Mahkota keluarga bangsawan Abraham terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Seluruh wajahnya terlihat memar, beberapa alat penunjang kehidupannya menempel di setiap titik tubuhnya.
Pria yang beberapa jam lalu bersikap angkuh dan merasa di atas angin, kini tumbang sebelum berperang. Bahkan Kezier tidak sempat melakukan balap liarnya, karena terlebih dahulu tersungkur tak berdaya akibat pukulan serta hantaman yang di layangkan rivalnya.
"Putra Mahkota mendatangi area balap liar, sepertinya dia di keroyok,"
Ucapan Hisham membuat Kaviar menoleh, tatapan dingin dan tajamnya begitu menusuk. Putra satu satunya yang dia banggakan selama ini terbujur tak berdaya diatas ranjang pesakitan.
Sheera diam diam menyunggingkan senyuman sinis, mendengar ucapan Ayahnya. Dia bukannya tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya, Sheera hanya tidak ingin ambil pusing- dirinya bahkan bersyukur kalau Kezier terluka lebih dari ini.
"Apa kau mengetahui sesuatu, menantu?"
Sheera tersentak, Sang Putri Mahkota berusaha menetralkan raut wajahnya. Dia harus terlihat khawatir, walaupun sebenarnya Sheera muak melakukannya.
"Maaf Ayah mertua, aku tidak mengetahui apa pun. Bahkan saat Kezier pergi, dia tidak memberitahukan aku mau kemana," ujar Sheera lesu.
Gadis Alfuttain itu menunduk layu, raut wajahnya menyendu membuat Kaviar dan Hisham terdiam. Mereka berdua tidak dapat menyalahkan Sheera, sekarang yang terpenting untuk Kaviar adalah- segera temukan dalangnya, karena Abraham tidak akan memaafkan siapa pun yang sudah berani melukai Putra Mahkotanya.
🍒
🍒
🍒
Erkan menuruni anak tangga dengan malas. Wajah khas bangun tidurnya tidak dapat Erkan sembunyikan, pagi ini dia kehilangan mataharinya saat bangun dari tidur.
__ADS_1
Tanpa mencuci wajah atau pun sejenisnya, Erkan segera melesat keluar dari kamar, mencari Sheena yang tidak ada lagi di sisinya.
"Selamat pagi My Lord," sapa Lionel saat berpas-pasan dengan junjungannya.
"Kau melihat istriku?"
Erkan mengabaikan sapaan pengawal pribadi adiknya itu. Saat ini otak serta hati Erkan hanya tertuju pada Sang Princess.
"Tuan Putri Sheena sedang berada di halaman istana, bersama Permaisuri dan Putri Liara,"
Tanpa berkata apa pun Erkan kembali melangkah, meninggalkan Lionel yang hanya menunduk- lalu berlalu pergi setelah melihat Sang Lord sudah menjauh. Lionel berjalan menuju dapur istana, entah apa yang akan dia cari disana- yang pasti itu semua pasti berhubungan dengan Liara.
"Sunshine!"
Seruan keras Erkan, membuat ketiga wanita beda usia yang tengah bercengkrama ringan menoleh. Dahi ketiganya berkerut dalam saat melihat wajah masam Sang Lord.
Tanpa malu serta sungkan Erkan segera mendekap tubuh Sheena dari belakang, memberikan banyak kecupan di pucuk kepala dan tengkuk istrinya. Mengabaikan tatapan sinis yang di layangkan oleh Yasmine dan Liara. Bahkan Liara- gadis kecil yang akan berusia 12 tahun itu mengernyit geli melihat tingkah laku kakaknya.
"Mom, kita masuk! aku enggak mau lihat Kakak!"
Liara segera bangkit, gadis kecil itu berlari terbirit birit. Entah kenapa Liara merasa geli saat melihat wajah merajuk Erkan tadi. Sementara Yasmine, wanita yang hampir menginjak usia 40 tahun itu hanya bersidekap dada- menggeleng pelan sebelum dia bangkit dan berniat menyusul Liara.
"Bentar lagi sarapan, jangan kebablasan di taman. Mommy mau lihat Daddy dulu, kayaknya dia sudah selesai berenangnya,"
Yasmine menepuk pundak Erkan cukup kencang, membuat Sang Lord meringis. Pukulan Sang Mommy memang tidak pernah berubah, bahkan sepertinya lebih pedas. Erkan juga terdengar berdecak saat melihat Yasmine mengusap pipi istrinya lembut.
"Anak Mommy itu aku atau Sheena?"
__ADS_1
Sheena mengernyit mendengarnya, sedangkan Yasmine memilih abai dan meninggalkan keduanya.
"Kau sudah merasa lebih baik?"
Sheena mengalihkan pembicaraan, gadis itu menyentuh lebam yang ada di sudut bibir Erkan. Bahkan sepertinya Yasmine tidak menyadarinya.
"Hm, aku merasa lebih baik saat bersama mu dan memeluk mu seperti ini,"
Erkan menduselkan hidung mancungnya pada pipi Sheena, memberikan banyak kecupan kecil di area yang dia sukai.
"Akara?"
"Ya Sunshine?"
"Bagaimana kalau Abraham dan Alfuttain meminta pertang-,"
"Aku akan menghadapinya dengan kepala dingin," Erkan menyela cepat.
"Tapi aku tidak akan bersikap baik, kalau mereka berani mengusik keluarga kita!" cetusnya lagi.
**AKU JUGA SIAP MENGHADAPI MU BANG
HOLLA MET MALAM EPRIBADEH
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHHH😘😘😘**