
Erkan menatap sendu ke arah luar jet pribadi keluarga Albarack. Didalam hatinya ada rasa khawatir, karena Sheena memilih untuk tetap tinggal di istana. Sang Princess mengatakan kalau dirinya akan baik baik saja selama Erkan di Indonesia.
Walaupun Yasmine sempat turun tangan membujuk Sang Princess, tapi gadisnya tetap saja teguh pada pendiriannya.
Erkan pun tidak bisa memaksa, dia menghargai keputusan kekasihnya. Mungkin Sheena memang belum siap bertemu dengan keluarga besarnya di Indonesia. Erkan pun sedikit tidak khawatir karena Ommar- Sang Kakek memastikan kalau semuanya terkendali.
Dan sekarang, Erkan hanya dapat memandangi wajah Sheena lewat ponsel pintarnya. Gambar Sang Princess yang Erkan ambil sebelum dia berangkat.
Disana Sheena tengah tersenyum manis, sembari memeluknya erat. Saat itu Sheena tengah merayunya, agar tidak terus memaksa sang gadis. Wajah sendu Erkan terlihat sedikit berubah setelah melihat potret kekasihnya.
Bahkan Erkan mengulum senyum malu saat mengingat dimana Sheena mengecup pipinya sekilas, sebelum Yasmine memanggilnya untuk segera bergegas.
Hanya kecupan sekilas dan ringan, namum berakibat fatal untuk suasana hatinya. Kecupan pertama yang Sheena berikan untuknya, karena biasanya Sheena akan malu malu- atau bahkan protes, seperti yang dia lakukan saat di pesta kemarin malam- ketika Erkan mencium dagunya gemas.
Tapi tadi, sepertinya Sheena sengaja melakukanya agar Erkan selalu merindukannya.
"Belum satu hari aku sudah merindukan mu, Sunshine," gumamnya pelan.
Erkan memejamkan kedua matanya, di dalam kepalanya saat ini hanya ada Sheena, Sheena, Sheena dan Sheena. Bahkan suara Liara yang sedari mengoceh dengan Daddy-nya sama sekali tidak masuk kedalam telinga Erkan.
π
__ADS_1
π
π
Perjalanan dari Dubai ke Indonesia memakan waktu 7 jam 59 menit tanpa delay. Saat ini pesawat jet pribadi keluarga bangsawan Albarack sudah mendarat mulus di salah satu bandara internasional, yang ada di ibu kota negara Indonesia.
Perjalan mereka cukup melelahkan, Erkan sampai tertidur nyenyak selama perjalanan, sembari memeluk ponselnya.
"Yang Mulia, kita sudah sampai,"
Ezar menepuk pelan lengan Sang Pangeran, pria setengah baya itu harus membangunkan Erkan secepatnya- karena mereka harus bergegas pergi kekediaman keluarga Samudera.
"Yang Mulia- kita harus segera bergegas!"
"Mommy mana?"
Erkan segera menegakan tubuhnya, segera menanyakan Yasmine. Orang yang Erkan cari pertama kali adalah Sang Mommy.
"Permaisuri sudah keluar dari pesawat sedari tadi, sekarang giliran Yang Mulia,"
Erkan segera bangkit karena terkejut, untung saja ponsel yang ada di pangkuannya tidak jatuh. Pria itu terlihat belum sadar sepenuhnya, kepalanya sedikit pusing karena mengalami jattlag.
__ADS_1
Inilah yang paling tidak di sukai oleh Erkan ketika berpergian, dia seorang Putra Mahkota yang mewajibkan dirinya selalu berpergian- tapi nasib pemabuk pesawatnya mengharuskan dia untuk tetap kuat dan cool.
"Anda butuh ke tolitet, Yang Mulia?" tanya Ezar, saat dia melihat Erkan terus saja menggoyangkan kepalanya.
Tubuh Sang Lord memang terasa lebih ringan, tapi kepalanya yang kini berdenyut.
"Tidak! yang lain pasti sudah menungguku, ayo!" tolak Erkan.
Pria muda itu mencoba berjalan dengan baik, berpegangan pada kursi dan Ezar adalah salah satunya. Erkan menghela napas kasar, saat kedua matanya melihat langit Indonesia.
Sudah hampir 5 tahun lamanya dia tidak berkunjung ke negara asal Sang Mommy. Padahal dulu saat dia masih anak anak dan remaja kecil, Erkan sering ke Indonesia- walaupun harus menahan semua deritanya saat naik pesawat.
"Ayo cepat Akara! semuanya sudah menunggu kita," ajak Yasmine tidak sabaran.
Sebenarnya bukan hanya hanya Yasmine yang tidak sabaran untuk cepat sampai, tapi juga Erkan dan Elvier. Mereka yakin kalau seluruh keturunan keluarga Prayoga sudah ada dikediaman Samudera.
**DAD, AKU KANGEN ππππ
SEE YOU TOMORROW
__ADS_1
BABAAYY MUUUAAACCHH**