Ratu Tersembunyi Sang Lord

Ratu Tersembunyi Sang Lord
Hujan Di Gurun Sahara


__ADS_3

Lenguhan dan deru napas tidak teratur terdengar dari keduanya. Erkan meremas jemari lentik Sheena- saat dirinya terus saja mencumbu seluruh tubuh istrinya.


Tanpa sadar saat ini keduanya sama sama naked, tidak ada lagi kain yang menghalangi- ketika kulit mereka saling bersentuhan, jutaan volt listrik menyengat bergelayar panas dan semakin tidak terkendali.


Jari jemari keduanya saling bertautan, enggan terlepas- menyalurkan setiap sengatan hebat yang mulai menyebar ke setiap penjuru mengalir melalui pembuluh darah. Melewati setiap sendi dan berakhir di hati serta jantung keduanya.


Sheena semakin bergetar dan melenguh kala jemari nakal Erkan yang terbebas mulai merambat turun. Remasan tangan Sheena semakin menjadi, kedua matanya terpejam erat karena tidak kuat menahan setiap sentuhan yang di berikan oleh suaminya.


"A-aku?"


Rintihan Sheena membuat Erkan semakin mengganas. Ujung lidahnya yang kasar mengecap seluruh permukaan kulit putih mulus Sheena tanpa terlewat seinci pun.


Bahkan Erkan tidak peduli kala Sheena meremas rambutnya kasar, saat tautan jari jemari mereka terlepas. Keduanya terlena, sampai akhirnya hujan turun di tengah gurun sahara- melepaskan kehausan serta kekeringan yang melanda. Menjadikan tempat kering dan tandus itu terasa sejuk serta hidup kembali.


Sepasang sejoli itu saling berbagi cinta, sayang, penat, serta keringat. Di siang hari yang sejuk, setelah drama adu jotos yang berlangsung beberapa jam yang lalu. Akhirnya semua rasa sakit yang Erkan rasakan tadi, berganti dengan nikmat tiada tara.


Sang Lord tersengal hebat, kala mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya, begitu nikmat dan membuat kepalanya berdenyut- setelah bermain cukup lama. Sheena pun tidak jauh berbeda, Sang Princess terkapar lemas- seluruh persendiannya terasa mati. Cengkraman di pundak kokoh Erkan semakin melemah, hingga akhirnya sepasang sejoli itu saling merengkuh sembari menikmati akhir percintaan, tanpa ingin melepaskan penyatuan.

__ADS_1


🍒


🍒


🍒


Liara melirik diam diam pada Lionel yang terus saja memperhatikannya. Saat ini Liara tengah mengerjakan tugas sekolahnya, karena Sang Putri selalu sibuk dengan dunia modelingnya- akhir akhir ini nilai sekolah Liara anjlok, membuat Yasmine meradang.


Sang Permaisuri sempat mengoceh panjang lebar pada Elvier, karena mengizinkan Liara untuk masuk ke dunia modeling seperti Sang Daddy.


Liara mendengus, ingin rasanya dia mematahkan bolpoin yang ada di tangannya saat ini. Bagaimana dirinya berkonsentrasi, kalau sedari tadi kedua mata tajam bagai Singa itu terus saja mengintainya.


"Bisa tidak kau pergi dari sini. Kau sangat mengganggu, tolong hilangkan tatapan menyebalkan mu itu Simba! aku tidak menyukainya!"


Liara berdecih pelan, dia tidak berbohong- tatapan Lionel memang sangat menyebalkan selain menakutkan tentunya. Liara memfokuskan diri kembali pada buku tebal yang di berikan salah satu guru privatnya.


"Apa tidak ada buku yang lebih tebal dari ini? ingin sekali aku membakarnya lalu meminum abunya agar semua ilmu yang ada di buku ini masuk kedalam otak ku!" tukas Liara.

__ADS_1


Gadis kecil itu menundukkan kepalanya lemas, otak serta matanya sudah tidak sanggup lagi untuk mencerna semua ilmu yang ada disana. Ingin rasanya Liara melemparkan benda sialan ini pada wajah Lionel.


"Kau membutuhkan yang lebih tebal dari ini? baiklah sepertinya itu bukan ide yang buruk. Aku akan mendapatkan yang kau mau Tuan Put-,"


"Aku benar benar akan mencekik mu, kalau kau berani memberikan benda sialan itu padaku Lionel Alkafi!" pekiknya keras.


Liara menodongkan bolpoin yang ada ditangannya pada Lionel. Sang Pengawal pribadi benar benar tidak peka dengan penderitaannya saat ini.


"Kalau aku sampai rabun, aku akan mencongkel kedua mata mu untuk menggantikannya!" pekik Liara lagi, terdengar sangat kesal.



**UHHHHHHH TENGAH HARI BOLONG 😍😍😍


SEE YOU TOMORROW


BABAYYY MUUUAAACCHHH😘**

__ADS_1


__ADS_2