
Tatapan dingin Sang Lord membuat Sheera membatu. Sebuah cambuk berbentuk panjang terbuat besi lentur yang pernah menghantam tubuh seorang pelayan- kini siap menghantam tubuh Sang Putri Mahkota.
Erkan mengeratkan pegangannya, kedua tungkai kokohnya melangkah pelan- mengikis jarak pada Sheera.
"Seharusnya gadis ku yang melakukan ini padamu, tapi karena aku tidak mau mengotori tangan sucinya- jadi biarkan aku yang melakukannya!"
Ctar!
Lempengan besi lentur itu menghantam lantai kotor dan berdebu. Sheera memejamkan kedua matanya, kedua tangannya mengepal erat di atas lutut- gadis itu menunduk dalam saat melihat sepatu mahal Sang Lord sudah berada di hadapannya.
Perlahan kedua tungkai kokoh itu bergerak mengelilingi Sheera, memindai tubuh sang gadis- sebelum kedua kaki jenjang itu berhenti tepat di belakang tubuh Sang Putri Mahkota.
Ctar!
"Aaakkhh!"
Teriakan kencang Sheera menggema, bahkan para penghuni istana Albarack dapat mendengarnya- termasuk Sheena dan Hisham serta Permaisurinya.
Sang Permaisuri Alfuttain menangis histeris saat mendengar jeritan putri keduanya, sedangkan Hisham- pria itu memejamkan kedua mata, tangannya terkepal erat. Saat ini Sang Tuan Alfuttain tengah mengurutuki kebodohan putri kebanggaannya.
Dia tidak tahu harus berbuat apa, dan Hisham tidak tahu apa yang akan dilakukan Kezier kalau sampai pria itu mengetahui kelakukan Sheera, serta keadaan calon istrinya sekarang.
Keadaan yang di sebabkan oleh ulahnya Sheera sendiri. Secara tidak langsung Sheera telah mengkhianati kepercayaan Sang Putra Mahkota Abraham.
__ADS_1
Dengan diam diam menyukai Putra Mahkota keluarga bangsawan lain, bahkan sampai rela bertindak sejauh ini. Terlebih pria yang Sheera sukai, ternyata memiliki hubungan dengan saudari kembarnya yang terbuang.
Ctar!
"Aaakkkhh! cu-kup, i-ini sa-kit," lirih Sheera pilu.
Erkan menghempaskan cambuk besi itu ke lantai, rahangnya mengetat karena menahan emosi.
"Kalau bukan karena rasa kemanusiaan, kau sudah mati di tangan ku,"! desis Erkan, pria bertubuh tinggi itu melangkahkan tungkai kokohnya keluar dari ruangan eksekusi.
Tatapannya terlihat dingin, bahkan Sang Lord tidak peduli dengan Sheera yang sudah lemas bahkan mungkin sudah tidak sadarkan diri- saat menerima beberapa cambukan di punggungnya.
"Bawa gadis itu keluar, berikan pada Alfuttain!" titah Sang Lord.
Mungkin kalau Sheena dapat melihat, gadis cantik itu tidak akan mau mengalihkan pandangannya ke arah lain- selain tubuh sempurna milik kekasihnya.
"My Lord, dia sudah datang."
Erkan yang tengah berjalan sembari mengusap keringat di tubuhnya hanya menoleh, satu alisnya naik- menatap sang penjaga dengan intens.
"Pemuka agama," ujar Sang Penjaga lagi.
Dan kini ucapan penjaga itu mampu membuat senyuman Erkan mengembang. Orang yang dia nantikan sejak tadi akhirnya tiba, dengan langkah cepat Erkan segera menuju tempat dimana sang pemuka agama berada.
__ADS_1
"Hisham masih berada di istana ini?"
"Tuan Alfuttain ada di ruangan yang sama dengan Tuan Besar dan pemuka agama itu, My Lord!"
Senyuman Erkan semakin melebar, tanpa peduli dengan penampilannya- Sang Lord tidak sabar ingin memperlihatkan apa yang dia punya, dan apa yang bisa Hisham lakukan saat ini.
"Yang anda butuhkan!"
Erkan meraih sebuah map hitam dari tangan pengawalnya, kedua matanya menatap lurus- senyuman di wajahnya semakin menjadi. Semua yang Erkan butuhkan ada didalam map hitam ini, walaupun Hisham mengatakan kalau pria itu tidak akan merestui hubungannya dengan Sheena- tapi berkas yang pernah Hisham tandatangani dengan suka rela itu akan memudahkan semua keinginan Sang Lord.
"Kita lihat apa yang bisa kau lakukan nanti, Ayah mertua," gumam Erkan.
Kedua matanya semakin menajam, kala melihat Hisham tengah menatap tajam pada Sang Pemuka Agama dan juga Elvier- Daddy nya.
MASIH GUE LIHATIN
**HOLLA MET SIANG EPRIBADEH
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART MUUUAACCHH**
__ADS_1