
Sheera terus berlari, menyusuri lorong rumah sakit untuk menghindari kejaran para pengawal Abraham. Dirinya harus pergi secepat mungkin dari rumah sakit, Sheera tidak ingin kehilangan kepalanya.
Sialan!
Sheera terus saja mengumpat, dia lupa dengan kamera pengaman yang ada di ruang rawat Kezier. Sang Putri Mahkota berharap suaminya mati, justru dia sendiri yang saat ini tengah diambang kematian.
Ayah mertuanya pasti tidak akan melepaskan begitu saja. Apa lagi Sheera mendengar sendiri kalau Kaviar Alfuttain akan memenggal kepalanya.
"Aku harus segera pergi dari negara ini!"
Napas Sheera tersengal, gadis itu memejamkan kedua matanya beberapa saat- guna menetralkan detak jantungnya.
"ITU DIA!"
Suara teriakan dari arah belakangnya, membuat Sheera kembali tersadar. Sang Putri Mahkota kembali berlari, Sheera bahkan tidak sempat menuju mobilnya. Gadis itu berlari menuju jalan raya, Sheera menulikan umpatan para pengendara saat dirinya menyebrang tanpa aturan.
"PUTRI MAHKOTA! BERHENTI ATAU KAMI AKAN BERTINDAK KASAR!"
Suara keras penuh peringatan, tidak mampu membuat Sheera menghentikan laju larinya. Yang ada di dalam otak Sheera saat ini hanyalah, dia harus pergi sejauh mungkin dari mereka- terutama dari Abraham.
"Sialan, mereka masih mengikuti ku!" geramnya.
Sherera menatap liar ke setiap arah, gadis itu berdecak kesal saat tidak menemukan satu kendaraan pun yang dapat dia tumpangi. Semua kendaraan yang melintas di dekatnya terlihat acuh, bahkan orang orang yang lalu lalang di dekat Sang Putri Mahkota Alfuttain, sama sekali tidak ingin ikut campur.
__ADS_1
"Bisa patah kaki ku kalau terus berlari!" cetusnya lagi.
Dengan sisa tenaga yang ada, Sheera semakin mempercepat larinya- kali ini dia berlari menuju jalanan yang terlihat sangat ramai, agar para pengawal Abraham sedikit kesulitan saat mengejarnya.
🍒RTSL🍒
"Bagaimana keadaan putra ku?"
Kaviar segera memberondong pertanyaan pada dokter yang tengah menangani Kezier. Kaviar tidak peduli dengan usapan istrinya, yang tengah berusaha menenangkannya.
"Pangeran dalam keadaan baik sejauh ini, tapi ada hal yang harus saya katakan pada anda, Tuan Abraham,"
"Katakan! jangan membuatku menunggu!"
"Yang Mulia, tenanglah!" Sang Permaisuri Abraham mengusap punggung suaminya. Wanita yang sudah berusia 42 tahun itu tahu sekali bagaimana sikap suaminya, tempramental.
"Mungkin saat Pangeran pulih nanti, salah satu kaki Pangeran tidak akan berfungsi dengan baik. Kaki Pangeran Kezier akan pin-,"
GREP!
Kaviar mencengkram erat kemeja yang di pakai oleh sang dokter. Bahkan Kaviar tidak memberikan kesempatan pada sang dokter untuk melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Maksud mu, putra ku cacat begitu?!" tebaknya.
Raut wajah Kaviar sangat tidak bersahabat, bahkan napas sang dokter semakin tercekat kala Kaviar semakin mencengkram erat kerah kemejanya.
"Kemungkinan iya, ta-pi kami akan berusaha a-gar Pa-ngeran bisa berjalan dengan normal kem-bali, uhuk!"
Sang dokter terbatuk keras, saat Kaviar menghempaskan tubuhnya ke dinding. Sang Tuan Abraham terlihat frustasi, kedua mata Kaviar menatap dalam pada Kezier.
"Tidak berguna!" desisnya.
Dengan rasa kesal yang tengah berkecamuk, Kaviar memutuskan keluar dari ruang rawat putranya. Kepalanya terasa berat, belum selesai dengan masalah menantunya- kini Kaviar harus menerima kenyataan kalau putra kebanggaan, dan satu satunya itu kemungkinan akan pincang.
Rahang Kaviar mengetat, kedua tangannya mengepal erat. Kaviar merasa dirinya dan keluarga Abraham selalu sial, saat mereka berurusan dengan Albarack. Sedari dulu hingga saat ini, apa ini tandanya kalau Abraham harus menghindar dari Albarack- demi keselamatan mereka sendiri.
"Aku harus menemukan gadis sialan itu. Aku sendiri yang akan memberikan hukuman setimpal untuknya!"
**SEGERIN DULU AH LIAT YANG LAGI RIBUT
HOLLA MET SIANG EPRIBADEH
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH😘😘**