Ratu Tersembunyi Sang Lord

Ratu Tersembunyi Sang Lord
Maaf, Aku Tidak Pantas


__ADS_3

Salah satu sudut bibir Erkan berkedut melihat Sheena memalingkan wajahnya. Sang gadis terlihat sangat menghindari pria yang saat ini tengah menatapnya lekat- walaupun dirinya sama sekali tidak dapat melihat.


Sang Lord pun tidak ingin kalah, dia terus saja menggulirkan kedua matanya- kemana pun Sheena berpaling. Bahkan dengan jahil, Erkan menopang kan satu tangannya di dagu- kalau saja Sheena dapat melihat, gadis itu pasti dibuat salah tingkah oleh kelakukan Erkan.


"Kenapa?" tanyanya ambigu.


Sheena mengernyitkan dahi mendengar ucapan pria yang ada di sebelahnya, lantas gadis itu kembali menolah- raut wajahnya terlihat bingung karena tidak paham dengan ucapan Lord Erkan.


Kenapa? apanya yang kenapa?


"Apa?" bukannya menjawab, Sheena malah balik bertanya.


Gadis itu menatap kosong ke arah sisi kirinya, tanpa ekspresi apapun- membuat Erkan kembali mendekat. Bahkan jarak diantara mereka hanya beberapa centi meter saja.


"Kenapa dengan hatimu? apa aku menyakitinya?"


Hembusan napas hangat Erkan yang menerpa wajah Sheena, membuat sang gadis terperanjat. Sontak saja hal itu membuat Sheena memundurkan tubuhnya dan hendak bangkit, namun gerakannya tertahan saat Erkan mencekal salah satu tangannya.


"Kenapa menghindar, My Princess?" ujar Erkan kembali.


Saat ini kedua sorot mata Sang Lord begitu serius, bahkan secara sadar atau tidak- Erkan meremas lengan Sheena dengan gerakan seduktif.


"Apa yang kau rasakan, hm? apa yang ada didalam hatimu saat ini? katakan saja, aku akan siap mendengarnya," ujar lembut Erkan, membuat Sheena perlahan kembali ke posisinya tadi.


Sang Princess menelan salivanya susah payah, bahkan beberapa kali Sheena menghela napas pelan- lalu menghembuskannya perlahan.


"A-aku, selama ini aku, a-aku tidak pernah berdekatan dengan pria manapun. Sekalipun dengan Ayahku, tapi- tapi saat aku didekatmu, entah kenapa- tidak a-aku tidak apa apa. M-maaf sudah membuat mu tidak nyaman dengan ucapanku tadi,"


Sheena bangkit, gadis itu berjalan cepat meninggalkan Erkan tanpa ingin menoleh lagi. Bahkan Sheena hampir saja terjerembab ke lantai kayu, saat langkah meraba yang dia ambil salah.


Mungkin kalau Erkan tidak sigap dan segera bangkit mengejar Sheena, Sang Princess sudah terjun jatuh kebawah dermaga.

__ADS_1


"Anna! Anna, dengarkan aku terlebih dahulu. Kenapa kau menghindar, maaf? kenapa minta maaf? memangnya kau salah apa," Erkan berusaha menahan Sheena agar tidak berontak.


"Tidak ada, lupakan saja. Maaf sudah membuat mu tidak nyaman, Akara,"


Cekalan Erkan melonggar, dan itu berhasil membuat Sheena terlepas dari Sang Lord. Sheena berjalan perlahan menuju pintu masuk rumah danau, bahkan saat suara Suhana menyambutnya- Sang Princess hanya tersenyum memaksa.


'Apa yang kau pikirkan Anna! jangan berharap apa pun. Ingat! kau tidak pantas untuk siapa pun, kau cacat Anna! kau cacat! tidak akan ada pria yang mau di susahkan oleh mu seumur hidupnya,' lirih hati Sheena, membuat kedua matanya berembun.


Perasaan asing yang akhir akhir ini datang menghampiri, membuat Sheena selalu gelisah. Bahkan rencananya untuk bertanya pada Bibi Jumma pun dia urungkan, Sheena memendamnya sendiri. Biarkan semua perasaan asing yang mulai merasuki hatinya- hanya dia yang merasakan.


"Anna!"


Gerakan tangan Sheena terhenti, saat dia hendak meraih handle pintu kamarnya. Gadis itu menghela napas pelan, kala dia merasakan seseorang mulai mendekat ke arahnya.


"Aku ingin istirahat," gumamnya pelan.


Mati matian Sheena menahan cairan bening yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Sheena mengigit bibir bawahnya kencang, agar tidak ada suara isakan atau pun air mata yang menetes.


Greep!


Sheena menegang, saat merasakan tubuhnya di dekap seseorang dari belakang. Bahkan Sheena dapat merasakan hembusan napas hangat di area tengkuknya, saat orang itu menempatkan kepala di bahunya.


"Aku menyayangimu, maaf Princess. Aku sudah tidak bisa menahannya, aku menyukaimu,"


Sheena meremas ujung gaun yang dia pakai, napasnya sedikit tercekat kala mendengar pengakuan orang yang saat ini tengah mendekapnya erat.


"Aku tidak pan-,"


"Apa pun keadaan mu! aku menyukai mu, aku menyayangimu, aku mencintaimu, Oceana."


Air mata yang sedari tadi Sheena tahan akhirnya tumpah, diiringi dengan isakan pelan. Bahkan saat ini Sang Princess tanpa sadar mencengkram erat lengan Erkan yang melingkar di lehernya.

__ADS_1


"A-aku-,"


"Tidak! jangan katakan apa pun. Cukup katakan iya dan Iya, tolong jangan katakan apa pun," pinta Erkan dengan lirih.


Sheena menggeleng, gadis itu menyentak kedua lengan Erkan- dan berhasil melepaskan diri. Sheena segera membuka pintu kamarnya dengan kasar, dia ingin menumpahkan tangisannya sendirian.


"Aku tidak pantas untuk siapa pun. Kau bisa mendapatkan gadis yang sempurna, tidak cacat sepertiku,"


Setelah mengatakan itu, Sheena menutup pintu dengan cepat. Meninggalkan Erkan yang mematung sendiri, kedua tangan Sang Lord terkepal erat- saat mendengar kata CACAT keluar dari bibir semerah Cherry milik Sheena.


"Yang Mulia?"


Erkan menghela napas kasar, satu tangannya mengusap kasar wajah hingga kepalanya. Bahkan dengan keras dia meninju dinding yang tidak jauh dari jangkauannya, untuk sekedar meluapkan rasa yang saat ini tengah membakar jiwa.


"Biarkan Tuan Putri sendiri, biar saya yang akan berbicara dengannya nanti," ujar Bibi Jumma.


Ternyata sedari tadi Bibi Jumma melihat semuanya, ada rasa prihatin saat melihat raut wajah Erkan yang mendung. Dia khawatir karena penolakan yang di berikan Sheena, Sang Lord akan marah dan menyakiti Tuan Putrinya.


"Aku akan keluar sebentar, tolong jaga dia,"


Bibi Jumma mengangguk pelan, wanita itu segera mundur saat Erkan berbalik dan melewatinya begitu saja.


"Semoga kesalahpahaman kalian segera selesai," gumam pelannya penuh harap.



**KAYAK GINI MERASA GAK PANTAS BUAT LORD ERKAN? GIMANA KABAR OTHOR YANG BURIK INI TUHAAAAAAANNNNN


SEE YOU DI BAB TERAKHIR NANTI SIANG


MUUUAAAACCHHH😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2