
Tatapan Kaviar datar, saat dia melihat Sheera terlelap diatas hospital bad nya- karena pengaruh obat penenang.
Senyuman sinis tercipta di bibirnya, tangan Kaviar terulur untuk sedikit menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuh bagian bawah menantunya.
Kaviar tidak peduli dengan tatapan Sang Permaisuri Alfuttain, yang sangat tidak suka saat melihatnya melakukan hal itu.
"Jadi? putri mu kehilangan salah satu kakinya?"
Kaviar mulai bersuara setelah lama bungkam. Sudut mata Sang Tuan Abraham melirik pada Hisham, lirikan yang terlihat menyebalkan untuk Alfuttain.
"Anda sudah melihatnya sendiri Tuan Abraham! kenapa masih bertanya lagi!"
Bukan Hisham yang menjawab, melainkan Sang Permaisuri. Wanita itu menatap Kaviar penuh ketidaksukaan, walaupun Sheera memiliki kesalahan besar pada Abraham- tapi Sang Permaisuri tidak suka saat melihat Kaviar menatap penuh ejekan pada putrinya.
"Hm, iya aku sudah melihatnya. Aku rasa ini cukup adil untuk putri mu, aku tidak perlu memberinya hukuman,"
Kaviar menjeda, Sang Tuan Abraham melipat kedua tangannya di dada. Menatap secara bergantian pada Hisham dan Sang Permaisuri Alfuttain- lalu beralih pada Sheera.
"Sampaikan pada putri mu, siapkan tangannya untuk mendatangi surat perceraiannya dengan Kezier," lanjutnya.
Ucapan Kaviar membuat kedua mata Hisham dan Sang Permaisuri membola. Menatap satu sama lain dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
"Maksudmu apa huh?! kau membuang putri ku karena-,"
"Aku tidak ingin memiliki menantu yang cacat. Aku harap kalian dapat memahami perkataan ku, tanpa harus menjelaskannya secara detail." tukas Kaviar.
🍒 RTSL🍒
Suara dering ponsel mulai mengganggu Erkan yang masih menikmati tidurnya. Matahari sudah naik sepenggalan, sepasang sejoli itu masih bergelung dengan selimut tebal- dalam keadaan tak berbusana.
Sheena masih berada didalam dekapan suaminya. Menempel erat, seperti tidak ingin menjauh apa lagi melepaskannya.
Dering ponsel kembali terdengar, kali ini Sheena dapat mendengarnya dengan jelas. Mata sebiru lautan itu mengerjab, rasa kantuk yang masih menyerangnya- membuat Sheena enggan beranjak dari posisinya.
"Akara?" panggilnya lagi, saat tidak mendapatkan respon apa pun dari suaminya.
"Akara, angkat dulu siapa tahu penting!" nada suara Sheena mulai naik.
"Hm, biarkan saja. Ayo kita tidur lagi!" gumam Erkan.
Sheena yang tidak dapat berbuat apa pun, hanya menghela napas pasrah. Sang Princess kembali memejamkan kedua matanya. Merapatkan tubuhnya pada Erkan, mengeratkan dekapannya pada tubuh polos suaminya.
Namun lagi lagi dering ponsel kembali terdengar. Erkan yang tadi terlanjur bangun, merasa sangat terganggu. Tangan besarnya keluar dari selimut, meraba bebas pada nakas yang ada di belakang tubuh Sheena- mencari sesuatu yang sedari tadi mengganggu tidurnya.
__ADS_1
Mata Erkan yang masih berat untuk terbuka, hanya menyipit dan mengerjab pelan untuk melihat layar ponselnya.
Ada sekitar 5 panggilan tidak terjawab pagi ini, dan sebuah pesan yang semuanya dari Yasmine- Mommy nya. Dengan malas Erkan membuka ponsel, berusaha melebarkan kedua mata agar dapat melihat pesan yang di kirimkan oleh Sang Permaisuri.
📩MOM😘😘 [Kalian pulang, ada berita besar yang enggak bisa Mommy omongin di sini]
Dahi Erkan mengernyit, bahkan saat ini kedua matanya sudah terbuka lebar. Sang Lord menunduk, menatap lekat pada Sheena yang terlelap didalam dekapannya.
📤To MOM😘😘[Yes Mom] send
Erkan membalas seadanya, dia penasaran dengan pesan yang di kirimkan oleh Yasmine. Hari ini dia dan Sheena harus kembali ke istana, mungkin Sheena akan sedikit kecewa- tapi tidak perlu khawatir, Erkan akan mengganti liburan terpotong mereka lain waktu.
Semoga Sheena menerima usul dan tidak akan marah padanya.
ADEM BANG, TUTUP IHHH
SEE YOU TOMORROW
BABAYYY MUUUAAACCHH😘😘
__ADS_1