Ratu Tersembunyi Sang Lord

Ratu Tersembunyi Sang Lord
Mendung Bergelayut


__ADS_3

Rintik hujan membasahi bumi, mengiringi pemakaman Sang Alpha kebanggaan keluarga Samudera.


Erkan- pria yang tengah berdiri di bawah tenda pemakaman, terlihat menundukkan kepala saat melihat dan mendengar beberapa kerabatnya menangisi pusara merah Eyang buyut mereka.


Ingin rasanya Erkan ikut menangis, tapi Sang Lord berusaha menguatkan hati. Sudut matanya melirik Sang Daddy yang ada di sisinya, entah kenapa sekarang Erkan ingin sekali memeluk rivalnya ini dalam memperebutkan kasih sayang Sang Mommy. Tapi apa Erkan akan sanggup, kalau harus kehilangan pria tua ini?


"Dad?" panggilnya pelan.


Elvier yang sedari tadi berdiri tegap, sembari melipat kedua tangannya di perut- sementara kepalanya tertunduk seketika menoleh. Elvier sedikit terkejut saat Erkan tiba tiba saja memeluknya dari samping.


Menenggelamkan wajah tampannya di bahu Sang Daddy. Tidak ada ringisan, hanya suasana haru ini membuat Erkan tidak kuat untuk menahan air matanya.


"Jangan tinggalkan aku, sebelum aku dan Liara bisa hidup sendiri dengan baik," gumam Erkan.


Tangan Elvier yang tadinya ingin mengusap kepala putranya, terhenti di udara- pria berkemeja hitam itu memicing pada putra sulungnya.


"Kau mendoakan Daddy mu cepat mati?" tukas Elvier.


Namun tidak urung, pria berdarah Arab Turki itu melanjutkan usapannya. Elvier tahu kalau Erkan tidak bermaksud begitu- Sang Lord yang selalu menjadi teman debatnya tidak menginginkan dia pergi- sama juga sepertinya. Elvier tidak akan kemana pun, sebelum melihat cucu serta cicitnya lahir.


"Ini pemakaman Dad, jangan membuatku membalas ucapan mu," protesnya.


Pria bertubuh tinggi itu meringis, saat Sang Daddy memberikan cubitan di bahu kekarnya. Sementara satu tangannya yang terbebas, sudah di genggam oleh Liara. Sang Princess Albarack terlihat mendekat- kedua mata dan hidungnya memerah. Si cerewet menangis saat melihat Yasmine menangis, begitulah anak anak.

__ADS_1


"Lionel mana?" tanya Elvier pelan.


Liara tidak menjawab, gadis kecil itu hanya mengacungkan telunjuknya ke salah satu mobil. Di dekat mobil, Lionel tengah berdiri sembari memegang payung hitam. Pria bertato ular dan laba laba itu terlihat mendekat, saat melihat Sang Bunga menunjuknya.


Lionel yakin kalau Liara ingin sesuatu, apa lagi saat ini Sang Bunga tengah bersedih.


"Tuan Putri?" panggil Lionel.


Liara menoleh, kedua matanya yang sembab- membuatnya sedikit sulit untuk melihat.


"Gendong Liara, dan bawa ke mobil!" titah Elvier pada Lionel.


Lionel mengangguk patuh, pria itu segera meraih tubuh Liara- saat melihat Sang Bunga merentangkan kedua tangan padanya.


"Ayo ke mobil, Daddy harus mengambil payung untuk Mommy mu," ajak Elvier, pria paruh baya itu segera merangkul putranya. Membawa Erkan menuju mobil yang dinaiki oleh Liara.


Erkan terus saja berdecak, saat mendengar suara ribut para saudaranya. Selepas malam doa, kini kediaman Samudera masih terlihat ramai- walaupun ada sebagian kerabat yang pulang.


Erkan dan kedua orang tuanya memutuskan untuk menginap di kediaman Samudera malam ini. Selain untuk menunjukan bela sungkawa pada kerabatnya, Erkan juga ingin berkumpul dengan saudara saudaranya termasuk Yasmine.


Walaupun harus menebalkan kedua telinganya, seperti sekarang ini. Karena cucu dan cicit Dinasti Duren Sawit tengah berkumpul- suara mereka terdengar seperti pasukan lebah.


"Kak, aku keluar dulu," pamit Erkan pada Prince Aryan.

__ADS_1


Pria berwajah bule India itu mengangguk, sepertinya Aryan juga tengah kesal- dilihat dari cara pria itu menatap ponselnya.


Tidak lama Erkan mendengar Aryan memarahi seseorang yang ada diseberang telepon. Erkan mengedikan bahu abai, Sang Lord lebih memilih untuk keluar rumah.


Waktu sudah menunjukan pukul 10.15 malam. Perbedaan waktu antara Indonesia dan Dubai adalah 3 jam, berarti di Negara Uni Emirat Arab sudah tengah malam. Erkan tidak yakin kalau Sheena masih terbangun.


"Ck, aku merindukan mu Sunshine," gumamnya pelan, satu tangannya terkepal untuk meninju udara di depannya.


Ting


📩Sun[Aku juga merindukan mu Yang Mulia]


Kedua mata Erkan membulat saat membaca pesan yang di kirimkan Sheena. Sepertinya gadis itu menyuruh Bibi Jumma untuk mengirimkan pesan itu padanya, karena kemarin Erkan memberikan sebuah ponsel pada Bibi Jumma, sebelum berangkat.


"Aiih kau semakin membuatku ingin cepat pulang,"



**AAAABBAAAANGGG PULANG BANGGGGG


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA


MUUUAAACCHH**

__ADS_1


__ADS_2