
*Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha
'Alal Mahri Wadzkuur wa Rodhiitu Bihi, Wallahu Waliyyut Taufiq'
[Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah di sebutkan, dan aku rela dengan hal itu*]
Sheena mengusap cincin yang melingkar indah di jari manis sebelah kanannya. Cincin pernikahan yang Erkan sematkan padanya beberapa jam yang lalu.
Sheena masih tidak percaya kalau dirinya sudah menjadi Nyonya Akara. Padahal dulu Sheena tidak pernah berharap kalau akan ada pria yang menikahinya. Sang Princess berpikir, mana mungkin ada pria yang mau menikahi gadis buta sepertinya, terutama para pria dari kalangan bangsawan yang terkenal akan kesempurnaannya.
Tapi ternyata semua argumennya salah, masih ada pria sempurna yang mau menerima kecacatannya. Sheena tersenyum samar, apakah dia harus bersyukur akan kebutaannya ini? karena Sheena dapat merasakan mana yang tulus dan mana yang hanya dusta.
Sheena menjadi tahu, kalau di dunia ini masih ada cinta tanpa tapi- dan dia sudah merasakannya sendiri. Erkan mencintainya tanpa tapi, menerimanya dengan sepenuh hati, memberikan semua yang di milik pria itu padanya. Kehormatan, cinta, kasih sayang dan kepercayaan. Sheena berjanji pada dirinya sendiri, dia lebih memilih mati- seandainya harus dilibatkan pada dua pilihan, Erkan atau pengkhianatan.
Sheena akan memilih opsi yang ketiga, yaitu kematian. Karena untuknya, pengkhianatan adalah kesalahan yang tidak akan pernah Sheena maafkan- untuk dirinya sendiri atau pun pasangannya.
"Kenapa melamun?"
Netra biru laut itu berkedip pelan, sudut bibirnya terangkat saat mendengar suara Ibu Mertuanya. Tadi Sheena sempat menangis didalam dekapan Yasmine, selepas Erkan mengikrarkan janji pernikahan mereka di hadapan pemuka agama dan di hadapan Tuhan.
"Akara-,"
"Suami kamu masih berbicara dengan Daddy," Yasmine menyela ucapan menantunya.
__ADS_1
Yasmine yakin kalau Sheena akan menanyakan keberadaan putranya. Pria yang sudah sah menjadi suaminya. Yasmine mendudukkan diri di sisi tempat tidur, satu tangannya terulur menggenggam tangan Sheena lembut.
"Kalau ada apa apa tolong cerita sama Mommy. Kalau seumpamanya Akara nakal sama kamu, bilang sama Mommy!"
Sheena tersenyum kecil mendengarnya, dia bahagia karena memiliki Ibu Mertua seperti Permaisuri Albarack. Sheena yang selama ini tidak merasakan kasih sayang seorang ibu, kini dapat merasakannya. Walaupun Bibi Jumma sudah Sheena anggap sebagai ibunya, namun rasanya berbeda dengan Yasmine.
Entah kenapa Sheena pun tidak tahu.
"Yang Mulia, Tuan Putri, saya mau mengantarkan koper milik Lord Erkan,"
Suara Bibi Jumma mengejutkan keduanya, Yasmine sampai memegang dadanya yang bergemuruh. Bibi Jumma tersenyum kikuk, wanita itu menunduk sekilas lalu berjalan menuju walk in closet.
"Ya sudah, Mommy tinggal ya. Kayanya Akara juga sudah selesai bicara sama Daddy. Kamu istirahat, jangan pikirkan apa pun, serahkan semuanya sama Akara dan Daddy!"
Sheena mengangguk, gadis itu tersenyum tipis saat merasakan ciuman di kedua pipinya. Bahkan Yasmine masih sempat mengusap lembut pucuk kepala menantunya, sebelum Sang Permaisuri keluar dari kamar.
π
π
π
Praangg!
__ADS_1
Hisham melemparkan vas kristal tepat di depan Sheera. Rasa kecewa, terhina, direndahkan, serta terkalahkan dengan telak, membuat Sang Tuan Besar Alfuttain murka.
Murka pada dirinya sendiri yang terlalu bodoh serta Sheera yang sangat ceroboh.
"Kau tidak punya otak Sheera! dimana otak mu!" sarkas Hisham.
Kedua mata Hisham menatap nyalang pada Putri kebanggaannya. Putri yang sangat dia harapkan, tapi ternyata malah mempermalukannya.
"Kalau aku tidak masuk kedalam istana Albarack, Ayah tidak akan tahu kalau gadis buta itu ada disana!" balas Sheera terlihat membela diri.
Sheera tidak ingin terus menerus di salahkan. Sudah tersiksa akibat cambukan di punggungnya, dan kini harus mendengarkan Sang Ayah terus saja menyalahkannya.
"Tapi tidak harus menyamar! kau mempermalukan keluarga kita. Bahkan kau sudah melakukan hal fatal yang tidak Ayah ketahui. Kau berusaha membunuh Sheena, astaga Sheera- Ayah bahkan tidak memiliki pikiran seperti itu!"
Sheera mendengus, gadis itu meringis kala merasakan sakit di punggungnya, saat pelayan pribadinya mengobati luka cambukan di punggungnya.
"Karena aku tidak mau memiliki rupa yang sama dengan orang lain! aku tidak mau!" tukasnya tajam.
NYONYA AKARA πππ
__ADS_1
**SEBEL BANGET MUKANYA π
SEE YOU MUUUUAAACCHH**