
Kedua tungkai panjang dan kuat itu menapaki satu persatu anak tangga. Bibir sexy nya terus saja mengembang, kedua mata tajamnya menyorot sebuah paper bag yang ada di tangannya.
Dia tidak sabar untuk bertemu dengan gadisnya, yang selama seharian ini dia tinggalkan.
Tanpa ragu, pria pemilik wajah tampan rupawan itu membuka pintu kamar yang di tempati oleh Sang Princess. Senyumannya semakin mengembang saat melihat seseorang tertidur dengan selimut menyelimuti hampir seluruh tubuhnya.
Seperti biasanya.
Pria itu membuka jaket jeans yang membalut tubuh kekarnya, menyisakan kaos hitam pas body yang sudah tidak nyaman lagi. Perlahan mendudukkan diri di sisi tempat tidur yang kosong, satu tangannya terulur untuk menyentuh rambut kecoklatan gadisnya.
Gerakannya turun menuju wajah Sang Princess yang terlihat damai. Membelai lembut wajah putih mulus yang terkadang merona karena ulahnya.
"Yang Mulia, ini sudah malam- pergilah ke kamar mu,"
Gerakan tangan itu terhenti, saat bibir tipis Sang Princess menggumankan kata kata yang masih dapat di dengarnya. Senyuman di bibirnya semakin melebar, bahkan tanpa izin dia mengecup dalam pucuk kepala Sang Princess.
"Aku membawakan sesuatu untuk mu," bisiknya, sebelum menjauhkan diri.
Tangannya kembali mengusap pipi gadisnya, membuat si pemilik akhirnya membuka kedua mata. Kedua netra sebiru lautan itu menatap kosong, namun bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman tipis.
"Kau sudah pulang?" tanyanya dengan suara serak.
Jari jemari lentik itu meraih telapak tangan besar yang masih bertengger di pipinya. Menggenggam erat, seakan Sang Princess tidak ingin melepaskannya lagi. Entah kenapa Sheena merasa sangat di cintai, saat Erkan menggoda atau merayunya- walaupun mungkin kata kata yang di ucapkan Sang Lord tidak sepenuhnya serius, tapi Sheena tidak peduli.
"Memangnya hadiah apa yang Yang Mulia bawa untuk ku, sampai tidak bisa menunggu besok pagi. Aku yakin sekarang sudah tengah malam, apa kau tidak ingin istirahat? kau pasti lelah," ujar Sheena penuh pengertian.
Jujur sebenarnya dia juga merasa kehilangan saat Erkan tidak ada di dekatnya, tidak dapat mendengar suaranya seharian ini- bisa di bilang Sheena juga sangat merindukan pria ini.
"Ekhem- sepertinya aku tidak sabar untuk bertemu dengan mu," sahutnya tenang.
Sheena perlahan bangkit, dia bersandar nyaman di kepala ranjang. Salah satu sudut bibirnya berkedut saat mendengar ucapan Erkan, yang terdengar gugup di kedua telinganya.
__ADS_1
"Lalu, mana hadiah ku?" pinta Sang Princess.
Erkan mengigit bibirnya gemas, satu tangannya meraih paper bag besar yang dia letakan di atas lantai. Sang Lord terus saja mengembangkan senyum, saat melihat isinya.
"Pakai ini besok malam, aku akan mengajak mu ke suatu tempat," bisiknya.
Cup!
"Good night, Sunshine," sambungnya, setelah Erkan memberikan satu kecupan di dahi gadisnya.
Erkan melangkah pergi meninggalkan Sheena yang tertanam di tempat. Satu tangannya masih menggenggam erat paper bag yang di berikan Erkan. Sang Princess mengigit bibirnya gemas, dia tidak sekuat itu untuk menahan setiap sentuhan dan perlakuan manis Erkan. Hati dan raganya yang selembut permen kapas, selalu meleleh saat Erkan melakukan hal manis padanya.
"Good night, Yang Mulia," sahutnya pelan.
π
π
π
Liara yang tengah memakai sepatunya mendongak, dahinya mengernyit saat melihat Singa kecil nya sudah berdiri menjulang di hadapannya.
Gadis kecil itu menghela napas kasar, Liara segera menegakan tubuhnya- kedua matanya menatap datar pada Lionel. Bahkan Lionel dapat melihat seringai kecil disalah satu sudut bibir Liara.
"Kau siapa?" tanya Liara tak acuh.
Gadis kecil itu kembali memakai sepatunya, Liara mengabaikan Lionel pagi ini. Ingat dengan janji yang di ucapkan Sang Princess Albarack kemarin- dia akan membalas pengawal genitnya itu.
"Tuan Putri, ini sudah hampir siang- kau bisa terlambat ke pemotretan kalau mengulur waktu seperti ini!" tegasnya.
Lionel yang memang tidak suka membuang waktu, sangat tidak respect dengan Liara yang tiba tiba mengulur waktunya pagi ini.
__ADS_1
"Kau siapa?" tanya Liara lagi.
Kini Sang Princess berdiri, walaupun tingginya hanya sebatas perut Lionel- Liara tidak terlihat takut. Gadis kecil itu tidak kehabisan akal, Liara menaiki sofa agar bisa mensejajarkan tingginya dengan Lionel.
"Aku tidak mengenal mu! jadi jangan sok kenal." ketus nya.
Bruuk!
Liara melompat dari atas sofa, sudut matanya melirik tajam pada Lionel sebelum gadis kecil itu pergi begitu saja- meniggalkan Lionel yang tertanam di tempat.
Sang Pengawal mengusap wajahnya kasar, membuat Elvier yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka terkekeh pelan.
"Kesalahan apa yang sudah kau perbuat, Simba?" gumam Elvier.
Elvier tidak tahu kesalahan apa yang sudah Lionel perbuat, hingga Sang Bunga meminta dia mengganti Lionel dengan pengawal lain- untuk menjadi sopir sekaligus ajudannya selama satu bulan ke depan.
Poor Simba!
SUMPAH LU DAMAGE ABIS DAH BANG ππππ
**INI LAGI SI SINGA YA ALLAH, JIWA KU TERPECAH BELAH π«π«π«π«
YANG TANYA AIS KENAPA GAK UP, BUKAN KARENA ENGGAK UP YA SAY
TAPI BELOM LOLOS REVIEW DARI SEMALAM, UDAH OTHOR EDIT LAGI JUDUL SAMA BAB NYA TETAP AJA GAK LOLOS PADAHAL BIASA AJA, GAK ADA YANG MELANGGAR
JADI OTHOR MOHON SABAR YA
__ADS_1
SEE YOU MUUUAAACCHH**