
Sheena menatap nanar pada ruangan yang akan dia masuki. Sang Princess menghela napas pelan, Sheena menoleh pada pria berjas putih yang ada disisinya.
"Silahkan, Yang Mulia!"
Sheena mengangguk, kedua kaki berbalut heelsnya melangkah- keraguan sempat merasukinya, namun Sheena yakin untuk melangkah.
Kriieett
Pintu terbuka, netra sebiru lautannya menatap liar kesetiap penjuru ruangan. Kedua mata Sheena terkunci pada satu tempat, yaitu tempat tidur kecil- yang tengah di tiduri oleh seseorang.
Suara langkah Sheena kembali terdengar, heels 5 centi meter yang dia pakai menghentak lantai.
"Sudah berapa lama dia tertidur?"
Sheena berdiri tepat di sisi tempat tidur, kedua netra indahnya tidak lepas dari tubuh ringkih dan tua yang ada di hadapannya. Tangan Sheena terulur, menyentuh borgol yang mengikat salah satu tangan orang itu.
"Sejak kami memberikan penenang. Saya terpaksa memberikannya kembali, karena Tuan Alfuttain mengamuk dan menyakiti dirinya sendiri, Yang Mulia. Maaf, kalau saya sudah lancang-,"
"Tidak apa apa Dok. Lakukan tugasmu dengan baik, tolong sembuhkan dia demi Ibu ku. Aku yakin dia akan sembuh, benar bukan?"
Tatapan Sheena menyendu, sudah tiga tahun lamanya Sheera pergi. Kepergian Sheera ternyata menjadi bumerang untuk Hisham Alfuttain. Pria setengah baya itu depresi, hingga gila karena harus kehilangan kedua putrinya.
__ADS_1
Hisham kehilangan Sheera karena diambil kembali oleh Tuhan, dan Sheena pun tidak mau kembali lagi kedalam pusaran keluarga Alfuttain- walaupun Sang Permaisuri sempat memintanya, atas kemauan Hisham.
Sepertinya Hisham terlalu malu untuk mengakui kesalahannya. Penolakan Sheena semakin membuat mentalnya terpuruk, Hisham banyak menyendiri- mengabaikan tanggung jawabnya. Bahkan semua urusan keluarga bangsawan Alfuttain, diambil alih oleh Sang Permaisuri- walaupun di bantu oleh Sheena dan Erkan.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk Ayah anda, Yang Mulia."
Sheena menghela napas kasar, Sang Princess kembali sadar dari lamunannya. Kedua mata berembunnya perlahan kembali normal. Sheena berbalik, meninggalkan ruangan- suara hentakan heels yang dipakainya membuat Hisham membuka kedua matanya.
Satu titik air mata mengalir dari sudut mata keriputnya. Kedua tangannya mengepal erat, suaranya tercekat- padahal Hisham ingin sekali berteriak.
'Kau menemui Ayah, Nak. Maaf kan Ayah, Sheena,'
Hisham menjerit dalam hati, sampai pintu itu tertutup kembali- Sheena tidak menyadari kalau Hisham tersadar.
"Ya Sa-,"
Belum sempat Sheena menyahut, orang yang ada di seberang telepon sudah berbicara panjang lebar. Sheena hanya mampu mengigit bibirnya gemas, dia yakin orang itu tengah mengamuk pada pengawal- karena dia berhasil mengelabuhi mereka.
Sudah kesekian kalinya Sheena lari dari pengawal bawahan Lionel, yang Erkan tugaskan untuk selalu mengikutinya kemana pun- kecuali kamar dan kamar mandi.
"I'm sorry, Hubby. Aku akan pulang secepatnya, baiklah kita berdua akan menunggu Daddy di sini. Dia baik baik saja, hanya sering menendang saja, see you honey,"
__ADS_1
Sheena mengakhiri panggilan, senyum di bibirnya terus saja mengembang. Tatapannya terarah pada perut buncitnya, seorang bayi sudah tumbuh di dalam perutnya. Di usianya yang baru saja menginjak 20 tahun- dirinya sudah akan menjadi seorang Mommy.
Sheena semakin tidak sabar di buatnya, tangannya mengusap pelan dan lembut perut buncit yang berhalangan gaun berwarna cream.
Usia kandungannya yang baru menginjak usia 6 bulan, membuat Sheena masih bisa beraktifitas dengan normal. Walaupun Erkan selalu mengekang dan super protektif padanya.
Contohnya hari ini, Sheena berhasil kabur dari pengawasan para penjaga- disaat Erkan sedang sibuk dengan perusahaan pertambangan minyak bumi keluarga Albarack.
"Kita sudah membuat Daddy marah. Ayo kita lihat, bagaimana marahnya Daddy pada kita, baby girl."
CALON DADDY NGAMBEK
MOMMY MUDA MAKIN DEWASA
**HOLLA MET SORE EPRIBADEH
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUUAAAACCHH😘😘😘**