
Yasmine dan Elvier saling tatap, saat melihat Erkan terus saja menggenggam tangan kekasihnya. Sesekali Sang Lord mengecupnya kecil, tanpa ingin melepaskannya.
Sementara wanita yang sedari tadi menampilkan wajah sendu, bahkan kedua matanya sudah berembun- terlihat setiap berdiri di belakang tubuh Erkan, melihat dokter yang saat ini tengah memeriksa keadaan gadis bergaun biru yang tengah terbaring lemah.
"Bagaimana?" Erkan terlihat sangat tidak sabaran.
"Tidak apa apa Yang Mulia, kekasih anda hanya sedikit kehilangan tekanan darahnya, itu yang menyebabkannya tidak sadarkan diri. Apa tadi ada hal yang membuat dia terkejut atau tidak nyaman?"
Sang dokter terus saja mencecar Lord Erkan, sepertinya dia sedang mencari tahu apa penyebab gadis cantik yang ada di hadapannya sampai tidak sadarkan diri.
"Hm, hanya sedikit terkejut," sahut Erkan.
Dokter itu mengangguk, kemudian kembali bergerak untuk merapihkan beberapa barangnya.
"Kekasih Yang Mulia akan segera sadar. Jangan buat dia kembali shock dan terlalu banyak berpikir, aku hanya akan memberinya vitamin- kalau begitu aku permisi Yang Mulia, Tuanku, Permaisuri," ujar dokter pribadi keluarga bangsawan Albarack, yang sudah bekerja di keluarga ini sebelum Erkan hadir.
"Terimakasih, Dokter Fa'az, " sahut Yasmine ramah.
"Sama sama, Permaisuri,"
Yasmine menghela napas pelan, kedua tungkainya membawa dia mendekat kearah tempat tidur. Di ikuti oleh Elvier, yang sedari tadi menatap dalam pada putranya. Sekarang, sepasang suami istri itu sama sama tidak bisa berkata apa pun.
Apa lagi saat melihat wajah khawatir Erkan, mereka berdua tahu- seberapa pentingnya gadis keluarga Alfuttain ini untuk Sang Putra Mahkota.
Yasmine bahkan diam diam menarik kedua sudut bibirnya. Entah kenapa, dirinya merasa bangga memiliki putra seperti Erkan. Selain tampan, gagah, berani, manja, suka membantah, arogan saat berhadapan dengan orang yang tidak dikenalnya- Erkan juga memiliki banyak cinta yang tulus untuk gadis ini.
__ADS_1
Cinta tanpa tapi, cinta yang tidak bersyarat. Padahal Yasmine yakin sekali kalau Erkan mampu mendapatkan gadis yang lebih sempurna, dan lebih cantik dari gadis yang saat ini tengah Erkan tatap dalam.
"Mommy mau bicara sama kamu,"
Erkan menghela napas pelan, Sang Lord kembali membawa punggung tangan Sheena ke arah bibirnya.
"Tolong jaga dia!" pintanya pada Bibi Jumma.
Wanita itu mengangguk patuh, tanpa menunggu lagi- Jumma segera mendekat pada Sheena. Jumma membelai lembut pucuk kepala Sang Princess.
'Semoga Tuhan mau memberikan kebahagian untuk anda Tuan Putri,' bisik hati Jumma.
Wanita itu masih belum yakin kalau Tuan Besar dan Permaisuri keluarga bangsawan Albarack, sudi untuk menerima Sheena sebagai calon menantu mereka. Apa lagi kekurangan yang di miliki Sheena. Jumma yakin, kalau kedua orang tua Sang Lord akan memerintahkan pria muda itu agar meninggalkan Sang Princess.
π
π
π
Erkan menghempaskan tubuhnya di sofa, kedua tangannya saling bertautan. Erkan siap menerima dan mendengar semua pertanyaan yang akan di lontarkan oleh kedua orang tuanya.
"Sejak kapan?" pertanyaan pertama yang di lontarkan oleh Yasmine.
Sang Permaisuri menatap Erkan dalam, sementara Elvier hanya bersidekap dada- pria itu membiarkan Sang Permaisuri mengambil alih tugasnya.
__ADS_1
Erkan mendongak, kedua matanya menatap lembut pada Yasmine. Sang Lord menghirup napas pelan, sebelum dia menjawab pertanyaan Mommy nya.
"Sejak kita berada di pesta keluarga Alfuttain. Aku tidak sengaja melihat Sheena, atau saat itu aku masih mengenalnya sebagai Sheera- tengah di paksa untuk kembali ke area menara oleh beberapa pengawal dan pelayan," Erkan menarik napasnya, menjeda ucapannya sejenak.
"Kamu berkeliling di sana? astaga itu tidak sopan," gerutu Yasmine, wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Karena ketidak sopanan ku, akhirnya aku bisa mengetahui rahasia yang selama ini di sembunyikan oleh Alfuttain, Mom. Aku menemukan harta karun yang tertutup debu disana, harta yang seharusnya bisa membuat Alfuttain bangga- bukan malah menyembunyikan dan membuangnya. Terlebih lagi mereka berencana membunuh Sheena, dengan cara membuangnya ke jurang laut!" Erkan memejamkan kedua matanya setelah mengatakan itu. Sang Lord berusaha menahan emosinya agar tidak meledak di waktu yang tidak tepat.
Yasmine dan Elvier bungkam, bahkan Yasmine terlihat menatap kosong. Dia kembali teringat dengan kejadian yang pernah dialaminya beberapa belas tahun yang lalu, sebelum Erkan ada.
Tanpa diduga, Yasmine segera bangkit- Sang Permaisuri berlari meninggalkan Elvier dan Erkan. Membuat kedua pria beda usia itu menghela napas pelan, kemudian mereka saling menatap tanpa ekspresi.
"Sheena juga yang bermain biola itu, Mom! bukan Sheera. Mereka memanfaatkan Sheena ku, demi putri sialan itu. Agar Sheera di puja karena kesempurnaannya yang semu," ujar Erkan lagi, membuat langkah Yasmine terhenti sejenak.
Namun tidak lama Yasmine kembali berjalan cepat, bahkan tanpa canggung dia mengangkat gaun berbahan sutra mahalnya tinggi tinggi, karena menyusahkan langkahnya.
"Mommy marah, Dad?" tanya Erkan lemas.
"Benarkah?" sahut Elvier santai, membuat Erkan semakin mengusap wajahnya kasar.
**KALO KAMU KAYAKNYA GK SEMU DEH BANG
SEE YOU DI BAB TERAKHIR NANTI SIANG MUUAAACCHH**
__ADS_1