
Sheena melangkah ragu saat Bibi Jumma ingin membawanya ke halaman samping. Pengasuhnya ingin membawa Sheena menghirup udara luar, atas saran Sang Permaisuri.
Sudah hampir tiga hari ini Sheena dan Bibi Jumma tinggal di istana Albarack. Yasmine memerintahkan Erkan untuk membawa semua barang pribadi Sheena ke istana.
Walaupun sebenarnya Sheena menolak, dia tidak berminat untuk tinggal di istana selama dirinya dan Erkan belum resmi- dalam tanda kutip menikah.
Selain itu Sheena merasa lebih nyaman tinggal di rumah danau. Suasana tenang dan sejuk, membuat Sang Princess tidak ingin berjauhan dari tempat itu.
Yang terpenting, di rumah danau tidak akan banyak mata yang mengawasi dan menatap penasaran padanya. Atau lebih tepatnya, menatap iba dan penuh cemo'oh- karena Sheena yakin saat ini gerak geriknya tengah di intai banyak mata.
"Anda mau ke taman langsung, Tuan Putri?"
Sheena tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. Satu tangannya melingkar erat di lengan Bibi Jumma. Keduanya menapaki lorong istana yang akan membawa mereka menuju taman istana- taman bunga Dahlia, Melati dan berbagai macam Mawar hingga Anggrek.
"Duduklah, Bibi akan mengambil camilan untuk Tuan Putri. Sebentar saja, Bibi akan segera kembali"
"Iya," sahut Sheena.
Sang Princess mengangguk, dia membiarkan pengasuhnya kembali kedalam istana. Semilir angin musim panas begitu sejuk menerpa wajah cantik Sheena.
Cuaca hari ini terlihat begitu cerah, bahkan awan pun tersingkir oleh angin- membiarkan langit biru cerah menunjukan eksistensinya.
Sheena memejamkan kedua mata perlahan. Hari ini Erkan harus menemani kedua orang tuanya menghadiri pembukaan pertambangan minyak bumi keluarga Albarack yang baru. Karena lokasi itu jauh dan mengharuskan mereka menaiki Yach, semacam kapal bermotor modern- jadi Sheena memilih tidak ikut, walaupun Yasmine dan Erkan sudah memaksanya untuk pergi bersama mereka.
Sementara Liara, calon adik iparnya itu masih berada di sekolahnya. Alhasil, saat ini Sheena hanya di temani oleh Bibi Jumma untuk berkeliling istana.
__ADS_1
Mata Sheena masih terpejam, namun kedua telinga masih bisa mendengar langkah dan suara bisik bisik beberapa orang tidak jauh darinya.
Ingat, Sheena memang tidak dapat melihat, tapi sayangnya dia tidak tuli. Bahkan kedua telinganya lebih peka, Sheena dapat mendengar suara derap langkah seseorang dari jarak belasan meter- didekatnya.
Dan sekarang, Sheena dapat mendengar suara dua orang wanita tengah bergunjing dari arah belakang tubuhnya. Sepertinya para wanita itu tengah membersihkan taman, atau mungkin menaman sesuatu di tempat ini.
"Aku tidak habis pikir, kenapa Yang Mulia Putra Mahkota mau dengan gadis buta seperti dia?" desisnya pelan.
Kedua mata wanita itu terus saja menatap sinis pada punggung kecil Sheena, yang terbalut gaun berwarna baby pink.
"Seperti tidak ada gadis lain saja. Kau bayangkan,Yang Mulia itu tampan, gagah, kaya raya, baik, bahkan dia terlihat ramah pada semua orang- ya walaupun terkadang juga menyeramkan. Tapi apa dia tidak bisa mencari gadis yang lebih sempurna, bukan hanya cantik wajahnya- tapi juga seluruh indera nya dapat di pergunakan!" sungutnya lagi.
Wanita yang ada disebelah pelayan itu mengangguk mengiyakan. Dia juga tidak habis pikir, kenapa Putra Mahkota Albarack lebih memilih gadis buta ini dari pada para Putri Mahkota keluarga bangsawan yang tergila gila padanya.
"Bahkan sepertinya pengawal atau pelayan pria saja tidak akan mau memiliki pasangan cacat, walaupun gadis itu sangat cantik," tukasnya lagi lebih tajam.
Keduanya menatap punggung Sheena dengan tatapan iba, kasihan dan terlihat penuh cemo'oh. Kedua pelayan wanita itu saling tatap, lalu bersikap seolah kalau Sheena memang tidak pantas untuk berdampingan dengan Pangeran mereka.
Sementara Sheena- gadis berwajah malaikat itu hanya terdiam. Menajamkan kedua telinganya, menguatkan hati serta otaknya agar tidak mudah terpancing.
'Ini sudah biasa untuknya!'
Kalimat itulah yang tertanam didalam hati dan pikirannya. Dia memang tidak sempurna, Sheena tidak akan menampiknya. Tapi apakan benar kalau gadis buta sepertinya tidak pantas bersanding dengan seorang Putra Mahkota seperti Erkan. Putra Mahkota yang begitu sempurna di mata para wanita.
"Kalau kalian ingin membicarakan ku, atau mengasihani ku- setidaknya pastikan dulu aku tidak mendengarnya." ucap Sheena pelan dan rendah.
__ADS_1
Namun begitu berpengaruh untuk kedua pelayan itu. Membuat mereka saling tatap, lalu menunduk dalam. Mereka berdua kira, kalau sang gadis tidak dapat mendengarnya- karena jarak diantara mereka cukup jauh.
"Aku memang tidak bisa melihat kalian, tapi aku tidak tuli!"
Kedua pelayan wanita itu semakin meringis, bahkan untuk menelan saliva saja mereka terlihat susah payah.
"Lanjutkan pekerjaan kalian!" titahnya.
"Tu-Tuan Putri ma-,"
"Lanjutkan! atau aku akan membuat kalian berurusan dengan Yang Mulia!" tegasnya lagi, membuat kedua pelayan itu bungkam.
Mereka berdua seketika panik, saat melihat Sheena bangkit- dan berjalan meraba meninggalkan taman.
"Aku tidak menyangka dia akan mendengar perkataan kita. Astaga, kedua telinganya tajam sekali."
**BAYANGIN OTHOR YANG DUDUK DISANA SAMA BANG ER, KITA MINUM TEH BARENG SAMBIL SUAP SUAPAN, JANGAN LUPA KECUPAN NYA 😘😘
BAYANGIN AJA, JANGAN SAMPE KEBAWA MIMPI TAPI😫
SEE YOU TOMORROW
BABAYYYY MUUUAACCHH**
__ADS_1