Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Prolog


__ADS_3

Zanara Almaliki gadis badgirl berusia 20 tahun yang mempunyai Konflik berkepanjangan dengan sang ayah karena sebuah kesalahpahaman.


Tok


Tok


Tok


"Zanara sayang, bangunlah ini sudah siang sayang"


Ucap wanita setengah baya yang tak lain adalah Arini Ibu sambung dari Zanara.


Tok


Tok


Tok


"Say..."


"Apa sih berisik tau gak kenapa si lo selalu ganggu istirahat gua "


Ucap Zanara dengan tatapan kebencian


" Zanara sayang..."


Sebelum melanjutkan ucapannya Lagi lagi Zanara memotongnya


"Jangan panggil Gua sayang, Gua jijik tau gk, Di sini gk ada Ayah jadi lo bebas dengan sikap asli lo itu"


"Zanara dengerin bunda "


Bruuuak


Bantingan pintu dengan keras didepan wajah bunda Arini, seketika Air matanya menetes tanpa di sadari karena perlakuan anak sambungnya.


"Zanara dimana sayang?"


Tanya sang kepala keluarga yaitu zaid Almaliki


"Dia masih istirahat mas mungkin dia kurang tidur tadi malam"


"Kurang tidur? Memang nya kenapa kurang tidur? apa dia Keluyurulan lagi?


"Jawab aku Arini "


"T-idak mas mungkin dia lelah mengerjakan tugasnya dari Kampusnya"


Perkataan gugup sang istri membuat Arman curiga.


"Benarkah? Aku akan memastikannya sendiri nanti"


"Ta-Pi mas"


"Sudahlah sayang, dimana Arka sayang"


"Dia sudah berangkat sekolah pagi pagi sekali"


"Tumben apa ada sesuatu"


"Ya sekarang dia akan Ikut Olimpiade Matematika di sekolahnya jadi dia harus ikut pelajaran tambahan"


"Arka memang anak cerdas dan penurut aku juga tak meragukannya dia akan membuat bangga keluarga kita, dia memang Anakku "


Tanpa di sadari ucapan yang terlontar dari mulut Arman di dengar oleh Zanara Hingga membuat nya tambah membenci mereka.


"Aku memang bukan anak pria itu kan, Aku hanya anak bunda yang di pungut oleh Pria itu"


Ucap Zanara dalam hatinya


Di malam hari Zanara akan bersiap siap untuk pergi bertemu dengan teman temannya.


"Mau kemana kamu?"

__ADS_1


Bariton Arman dengan tegas.


"Bukan urusan anda"


"Tentu saja itu urusanku, kau itu putriku"


Ucap Arman dengan geram


"Itu dulu, sekarang tidak lagi, aku hanya penumpang disini, bukan putrimu "


Tekan Zanara seraya pergi mengabaikan teriakan teriakan sang ayah yang memanggilnya.


Di Club malam


Zanara datang menuju teman temannya yang sedang bergembira.


" Ra lo udah datang "


ucap teman Zanara yang tak lain adalah jane


"Ra kenapa muka lo kusut begitu, ada masalah lagi sama bokap lo"


ucap teman Zanara yang lain


"Ya begitulah seperti biasa "


"Coba lo minum sedikir aja, biar lo bisa sebentar nenangin fikiran lo "


"Tapi gua gak minum alkohol "


"Ayo lah ra sedikit aja "


Paksa Jane dengan menyodorkan gelas berisi minuman beralkohol.


"Baiklah"


ucap Zanara dengan menerima gelas itu. Tapi sebelum dia meminumnya suara keras pria memanggilnya.


"Zanara"


Plaaakkk..


Plaaakkk..


Dua tamparan mendarat di pipi Zanara dengan suara keras hingga membuat suara ramai Club itu Hening seketika.


Dengan mata yang memerah menahan tangis, Zanara mendongak menatap wajah pria yang menamparnya tanpa rasa bersalah.


"Hebat sekali kau keluyuran malam di tempat seperti ini, ingin mempermalukan keluarga"


Bentak tuan Arman


" Mas sudah kita pulang ya"


ucapan Arini mampu menenangkan kemarahan tuan Arman. Dengan kasar Arman menarik tangan Zanara


" Mas jangan kasar pada Zanara mas dia kesakitan"


Ucap Arini dengan mengejar Arman yang menarik tangan Zanara dengan kasar


"Dia harus di beri pelajaran Arini agar dia tidak menjadi pembangkang seperti ini.


Di Rumah Almaliki


" Kenapa kau datang ketempat seperti Zanara"


" Bukan urusan Anda "


Plaaakkk


Satu tamparan yang lebih keras dari sebelumnya mendarat di pipi Zanara sampai tersungkur di lantai hingga membuat tangan tuan Arman bergetar karena menyesal.


"Maas" teriak Arini sambil menutup mulutnya

__ADS_1


"Za-na-ra"


Ucap Arman dengan bergetar


Zanara memegangi pipinya yang panas dengan mata yang memerah menahan tangis dia berdiri dan mendongakkan matanya menatap ayahnya dengan tersenyum sinis.


"Jangan sok peduli padaku ****** " desis Zanara pada Arini


"Jaga ucapanmu Zanara dia bundamu"


"Bukan, bundaku hanya bunda Zara dia hanya penyebab kematian bundaku kau paham tuan Arman yang terhormat"


"Kau dan anakmu sama saja, yang pertama ibuku lalu kasih sayang ayahku


kau merenggut kebahagiaanku, Kau membuat aku kesepian dari kecil"


teriak Zanara dengan wajah yang memerah meluapkan segala perasaan yang terpendam selama ini.


"Zanara sayang "


"Diamlah jangan memanggilkan panggilan menjijikkan itu dari muluf kotormu ******"


Plaaakkk


tamparan lagi lagi di layangkan tuan Arman pada Zanara hingga membuat Zanara terkekeh dengan mengeluarkan air matanya.


" Tak seharusnya kau bicara seperti itu pada Istriku Zanara, Kau menghina Istriku lalu apa yang harus aku katakan tentang ibumu yang kurang ajar itu aku tak pernah mencintai ibumu yang ****** itu, Mungkin kau juga akan menirukan ibumu menjadi ****** di club malam itu"


"Diam kau brengsek "


Teriak marah Zanara dengan menunjuk jarinya pada sang ayah


"Jangan sekali kali anda menghina bundaku dengan mulut anda itu, Anda tidak punya hak menghina bundaku Tuan Arman yang terhormat"


"Dan kau"


Tunjuk Zanara pada Arini yang sedanf menangis itu


" Kau sudah puas hah, Kau telah memenangkan semuanya kau sangat hebat"


Dengan terkekeh Zanara mengambil pisau buah yang ada di ruang tamu itu dan menunjukkannya pada ayahnya


Kreesss


Zanara mengiris telapak tangannya menggunakan pisau buah itu.


" Aku Zanara memutuskan hubunganku dengan Tuan Arman Almaliki sebagai ayah dan anak, dengan darahku yang mengalir ini aku sudah bukan putrimu lagi tuan Malik"


Deg


Deg


Deg


Tuan Arman terkejut atas tindakan sang putri, Sama halnya dengan Arini yang saat ini menahan tangisnya dan juga Arka yang saat itu melihat kejadian itu, Dia sangat sedih ketika kakak nya mengucapkan kalimat itu.


Dengan langkah lebar Zanara berbalik dan keluar dari kediaman keluarga Malik dengan wajah dinginnya.


Setelah kepergian Zanara tanpa di sadari tuan Arman meneteskan airmatanya. dia terduduk di lantai dengan air mata yang kian deras, dengan langkah pelan Arini mendekati suaminya dan memeluknya dengan sesenggukkan.


"Apa yang kukatakan Arini? aku sudah melukai hati putriku Arini, Aku sudah gagal menjadi ayah yang baik bagi putriku, Aku sangat bodoh "


Tuan Arman meluapkan penyesalannya


dengan menangis pilu.


" Putri kecilku telah pergi dia pergi meninggalkan aku ayahnya yang bodoh ini"


"Tenanglah mas, jangan seperti ini kamu masih bisa meminta anak buahmu mencarinya"


"Tidak Arini, mungkin dia akan bahagia jika dia tidak bersama kita, aku akan memantau nya dari jauh dan memastikan kebutuhannya"


Tuan Arman sadar selama ini telah mengabaikan sang putri kecilnya yang terkabung dalam kesedihan mendalam atas kematian bundanya dan slalu membanding - bandingkannya dengan sang putra.

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa Kritik, saran dan juga dukungannya dengan Vote like dan komen 💪


__ADS_2